Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Support System Itu Penting, Ini Pelajaran dari Euforia Kemenangan Timnas
Timnas Indonesia merayakan kemenangan di menjuarai FIFA ASEAN Cup 2026 (instagram.com/jayidzes)

Ada sesuatu yang menarik setiap kali Timnas Indonesia meraih kemenangan. Setelah peluit panjang berbunyi, rasanya pertandingan tidak benar-benar selesai. Di rumah, warung kopi, ruang keluarga, sampai jalanan, orang-orang ikut merayakan. Ada yang berteriak, berpelukan, mengibarkan bendera, mengirim pesan ke teman, atau sekadar mengunggah foto dengan caption penuh rasa bangga. Pemandangan itu kembali terlihat setelah Indonesia menjuarai FIFA ASEAN Cup 2026 usai mengalahkan Thailand lewat adu penalti.

Ribuan suporter merayakan kemenangan tersebut di berbagai tempat, termasuk kawasan Bundaran HI di Jakarta. Di balik euforia tersebut, ada satu pelajaran yang sebenarnya dekat sekali dengan kehidupan anak muda: manusia ternyata memang membutuhkan orang lain. Kita mungkin tidak ikut bermain di lapangan, tetapi kita bisa ikut menjadi bagian dari perjuangan seseorang atau sebuah tim.

1. Kemenangan terasa lebih besar ketika dirayakan bersama

Timnas Indonesia lawan Bangladesh di FIFA ASEAN Cup 2026. (IDN Times/Sandy Firdaus)

Bayangkan seseorang menonton pertandingan sendirian. Ketika pemain kesayangannya mencetak gol, ia mungkin tetap berteriak. Ketika Timnas akhirnya menang, ia tetap merasa senang. Namun, sensasi itu bisa terasa berbeda ketika di sekelilingnya ada teman-teman yang ikut berteriak, keluarga yang ikut deg-degan, atau ribuan orang yang merasakan kegembiraan yang sama.

Itulah yang terlihat dalam euforia kemenangan Timnas semalam. Orang-orang yang bahkan tidak saling mengenal bisa tiba-tiba merasa seperti satu kelompok karena memiliki sesuatu yang sama untuk dirayakan. Rasa memiliki terhadap kelompok semacam ini dapat menjadi bagian penting dari pengalaman manusia karena membuat seseorang merasa dirinya terhubung dengan orang lain.

2. Support system bukan berarti harus selalu menyelesaikan masalah kita

Timnas Indonesia lawan Bangladesh di FIFA ASEAN Cup 2026. (IDN Times/Sandy Firdaus)

Dalam kehidupan sehari-hari, support system sering disalahartikan sebagai orang yang harus selalu membantu menyelesaikan masalah. Padahal, bentuk dukungan bisa jauh lebih sederhana. Ada teman yang cukup mendengarkan ketika kita sedang lelah, orangtua yang mengatakan "kamu pasti bisa", atau pasangan yang tetap menemani ketika hidup sedang tidak sesuai rencana.

American Psychological Association (APA) menjelaskan bahwa dukungan emosional merupakan salah satu faktor protektif ketika seseorang menghadapi kesulitan. Menariknya, dukungan sosial yang kuat juga dapat membantu seseorang menjadi lebih mampu menghadapi masalahnya sendiri karena dapat meningkatkan rasa percaya diri dan otonomi.

"Para ahli menyatakan bahwa hampir setiap orang memperoleh manfaat dari dukungan sosial dan emosional. Memiliki dukungan sosial yang kuat justru dapat membuat kamu lebih mampu menghadapi masalah secara mandiri dengan cara meningkatkan harga diri dan rasa otonomi kamu. Dapat membantu kamu berfokus pada langkah-langkah selanjutnya untuk mengatasi persoalan yang kamu hadapi," demikian panduan APA dalam Manage stress: Strengthen your support network.

"Namun, kamu tidak memerlukan jaringan pertemanan atau keluarga yang luas untuk mendapatkan manfaat dari dukungan sosial. Sebagian orang menemukan kebersamaan dan dukungan hanya dari segelintir orang—misalnya rekan kerja, tetangga, atau teman dari gereja maupun lembaga keagamaan mereka," tambahnya.

Jadi, support system yang sehat bukan tentang mengambil alih hidup seseorang, tetapi memberikan rasa bahwa ia tidak harus menghadapi semuanya sendirian. Hal itu juga mirip dengan sepak bola. Pemain yang berada di lapangan tetap harus mengambil keputusan sendiri. Namun, ia tidak bermain sendirian. Ada rekan satu tim yang membuka ruang, memberi umpan, menjaga pertahanan, dan memberi semangat ketika permainan sedang sulit.

3. Dukungan bisa membantu kita bertahan saat kondisi sedang sulit

Timnas Indonesia lawan Bangladesh di FIFA ASEAN Cup 2026. (IDN Times/Sandy Firdaus)

Tidak semua perjalanan berakhir dengan kemenangan secepat yang kita inginkan. Timnas sendiri melewati pertandingan final yang penuh tekanan: skor imbang bertahan sampai 120 menit dan keputusan juara akhirnya harus ditentukan melalui adu penalti.

Situasi seperti itu dapat menjadi gambaran sederhana tentang kehidupan. Ada masa ketika kita sudah berusaha lama tetapi hasilnya belum terlihat. Ada pula fase ketika kita merasa tinggal sedikit lagi untuk menyerah. Pada titik seperti itu, kehadiran seseorang yang berkata, "ayo, sedikit lagi" bisa terasa jauh lebih berarti daripada nasihat panjang.

4. Support system membuat kita merasa tidak berjuang sendirian

Timnas Indonesia lawan Bangladesh di FIFA ASEAN Cup 2026. (IDN Times/Sandy Firdaus)

Ada alasan mengapa orang rela berkumpul di tempat umum hanya untuk merayakan kemenangan. Mereka sebenarnya bisa saja pulang setelah pertandingan selesai. Namun, banyak yang memilih tetap bersama orang lain, bernyanyi, berteriak, berfoto, dan menikmati suasana kemenangan. Perasaan menjadi bagian dari sesuatu yang lebih besar itulah yang sering dicari manusia.

Dalam kehidupan anak muda, bentuknya mungkin tidak selalu berupa kerumunan suporter. Bisa berupa grup chat yang selalu ramai ketika salah satu teman sedang punya masalah, teman kantor yang mengajak makan setelah hari yang melelahkan, atau keluarga yang tetap bertanya, "Kamu baik-baik saja?" meski kita jarang bercerita.

"Studi ini menyoroti pentingnya mempertimbangkan hubungan antara berbagai jenis dan sumber dukungan sosial yang dirasakan dengan beragam aspek perkembangan optimal manusia. Temuan kami juga menunjukkan bahwa remaja khususnya, dapat memperoleh manfaat dari dukungan sosial yang dirasakan-terutama dari orangtua-untuk meningkatkan kesehatan fisik dan mengurangi perilaku berisiko," kata psikolog GeckHong Yeo, PhD, dari National University of Singapore, bersama para peneliti lain yang menemukan dalam tinjauan sistematis dan meta-analisis bahwa perceived social support berkaitan dengan berbagai aspek human thriving.

Perceived support tidak selalu berarti seseorang sedang benar-benar dibantu pada saat itu. Yang penting adalah adanya keyakinan bahwa ketika membutuhkan pertolongan, ada orang yang bisa diandalkan. Jadi, terkadang sekadar mengetahui bahwa "ada yang akan datang kalau aku butuh" sudah dapat memberikan rasa aman.

5. Jadilah support system, bukan sekadar penonton

Timnas Indonesia merayakan kemenangan di menjuarai FIFA ASEAN Cup 2026 (instagram.com/jayidzes)

Euforia Timnas akhirnya akan mereda. Jalanan kembali normal, atribut merah putih disimpan, unggahan kemenangan perlahan tenggelam di media sosial, dan orang-orang kembali menghadapi rutinitas masing-masing. Tetapi semangat untuk saling mendukung seharusnya tidak berhenti ketika perayaan selesai.

Dalam kehidupan sehari-hari, menjadi support system tidak membutuhkan kemampuan luar biasa. Kita bisa memulainya dengan mendengarkan tanpa buru-buru menghakimi, memberi apresiasi atas usaha seseorang, menanyakan kabar dengan tulus, atau sekadar hadir ketika teman sedang melewati masa sulit. Hal-hal kecil tersebut mungkin terlihat sederhana, tetapi bagi seseorang yang sedang berada di titik terendah, dampaknya bisa sangat berarti.

Kemenangan Timnas mengingatkan kita bahwa kebahagiaan memang terasa berbeda ketika dirayakan bersama. Namun, kehidupan juga mengajarkan hal yang sama ketika keadaan sedang tidak baik-baik saja: perjalanan terasa sedikit lebih ringan ketika kita tahu ada orang yang berjalan bersama kita. Support system yang baik bukan hanya datang untuk merayakan kemenangan, tetapi juga orang yang memilih tetap tinggal ketika ‘pertandingan’ kehidupan sedang memasuki babak yang sulit.

Curated For You

Editorial Team

Related Article