6 Pelajaran Hidup dari Kedalaman Sumur

- Artikel menggambarkan sumur tradisional sebagai simbol kehidupan, menekankan pentingnya usaha dan kerja keras untuk memperoleh rezeki yang sudah dijamin Tuhan.
- Ditekankan bahwa kualitas rezeki seperti air sumur: ada yang jernih dan halal, ada pula yang kotor dan harus dihindari agar hidup tetap bersih serta berkah.
- Melalui perumpamaan timba, musim, dan risiko sumur, pembaca diajak belajar tentang kesabaran, kesiapan menghadapi kehilangan, serta kewaspadaan terhadap sisi berbahaya dari hal bermanfaat.
Sekarang bentuk sumur tradisional seperti di atas memang sudah jarang ditemui, apalagi di perkotaan. Banyak orang telah berlangganan air dari perusahaan air minum. Kalaupun masih ada masyarakat yang memakai air sumur untuk kebutuhan sehari-hari, biasanya berupa sumur bor.
Hanya ada pipa dan mesin pompa yang terlihat. Boleh jadi dirimu terakhir melihat serta memakai sumur jadul ketika masih kecil. Apa yang istimewa dari sebuah sumur tradisional seperti itu?
Hal pertama yang terbayang olehmu barangkali hanya kerepotannya tiap mengambil air. Harus mengeluarkan banyak tenaga. Jika tak berhati-hati, orang juga dapat celaka. Seperti anak yang berusaha menarik timba yang berat dan malah jatuh ke sumur. Namun, sebuah sumur juga mengajarkan banyak hal tentang hidup. Baca, yuk, pelajaran hidup dari kedalaman sumur yang bisa dijadikan bekal untuk menjalani hidup yang kadang tidak mudah.
1. Ada air di bawah, tapi kamu harus tetap menimba buat mendapatkannya

Kedalaman sumur bervariasi tergantung daerah. Di daerah yang air tanah masih melimpah, sumur biasanya tak terlalu dalam. Beda dengan daerah yang cenderung kering. Sumurnya dapat seperti gua yang lurus menghunjam bumi.
Bila sumur telah berhasil digali, air akan senantiasa tersedia. Bahkan di musim kemarau sekalipun, air tak lantas kering sama sekali. Akan tetapi, adanya air sebanyak dan sejernih apa pun di bawah sana tidak berarti kamu gak perlu melakukan usaha sama sekali.
Untukmu memperoleh air satu gayung saja, mesti menimba terlebih dahulu. Begitu pula rezeki buat manusia. Setiap makhluk hidup telah dijamin oleh Tuhan mempunyai jatah rezeki masing-masing. Namun, rezeki tersebut tak dapat cuma ditunggu sambil duduk-duduk. Dirimu wajib giat bekerja untuk mendapatkannya.
2. Air sumur ada yang jernih, keruh, bahkan berbau

Kualitas air sumur berbeda-beda. Bahkan di daerah yang tidak terlalu berjauhan. Ada sumur dengan kualitas air yang sangat baik. Airnya bening dan sama sekali tak mengeluarkan bau yang gak sedap.
Airnya juga tak berminyak. Kalau air ini diuji di laboratorium pun, cukup aman buat dikonsumsi atau keperluan memasak. Demikian pula harta di dunia tidak sama sifatnya. Ada harta yang baik dan pantas disebut rezeki halal.
Terdapat juga harta yang kalau diambil olehmu malah berakibat buruk dalam hidupmu. Misalnya, berbagai tawaran uang suap. Sebanyak apa pun uang itu, sama seperti air sumur yang kotor, bacin, dan gak bisa dijernihkan. Harta yang tidak baik mesti dijauhi sekalipun menggiurkan.
3. Air sumur naik di musim hujan dan surut saat kemarau

Musim juga sangat memengaruhi ketersediaan air sumur. Saat hujan turun hampir setiap hari, sumur nyaris penuh. Kamu tetap harus menimba, tetapi gak perlu sampai terlalu dalam.
Bahkan mungkin ada hari saat air dapat diambil dengan gayung saking melimpahnya. Lain dengan ketika musim kemarau. Tambah panjang dan parah kekeringan yang terjadi, tambah pula air sumur. Terkadang bagian dasar sumur sampai hampir terlihat.
Sama halnya dengan rezekimu yang tidak selalu banyak. Kadang mencari uang terasa mudah sekali. Sampai dompetmu tebal dan saldo rekening meningkat dengan cepat. Akan tetapi, ada pula masanya bekerja sekeras apa pun, seakan-akan gak ada hasilnya. Selain tetap berikhtiar, kamu mesti lebih bersabar dan menanti datangnya masa yang lebih baik.
4. Kamu mengangkat timba yang penuh, sampai atas bisa tinggal dua pertiga

Cobalah jika kamu tak percaya. Turunkan timba tidak hanya hingga menyentuh permukaan air, melainkan tenggelam jauh di bawahnya. Kemudian kerahkan tenagamu untuk mengangkatnya sampai ke atas.
Beratnya timba yang awalnya penuh ketika sampai di atas ternyata tinggal dua pertiga. Itu masih lumayan. Kadang-kadang air yang tersisa malah cuma setengah. Biasanya, ember berayun-ayun keras selama ditarik sehingga banyak airnya tumpah.
Kamu harus siap menerima kenyataan bahwa mungkin tidak seluruh kerja kerasmu diganjar sempurna. Harapanmu tentu apresiasi penuh sesuai peluh yang dikeluarkan. Akan tetapi, bila harus cuma dua pertiga yang sampai padamu, jangan lantas menganggapnya sia-sia. Jaga ekspektasimu akan hasil supaya dirimu tidak mudah kecewa dan berhenti berusaha.
5. Bahkan timba bisa putus, lepas, dan tenggelam

Kamu gak mungkin mengambil air dengan tangan kosong. Dirimu mengandalkan timba buat memperoleh air sedikit demi sedikit dan mengumpulkannya dalam penampungan yang lebih besar. Akan tetapi, sekuat apa pun, ember ditali dan sebagus apa pun bahan ember maupun talinya bisa putus.
Biasanya karena faktor usia, pemakaian, atau ikatan yang gak kuat. Dapat pula timba sempat tersangkut di bawah. Dirimu berusaha melepaskannya dengan menarik ke sana-kemari, tapi malah timbul putus.
Dalam usahamu mencari nafkah, situasi seperti ini bisa terjadi kapan saja. Kamu memperoleh rezeki dengan jalan bekerja. Namun, malah dirimu kehilangan pekerjaan. Otomatis, aliran rezekimu berupa nafkah juga terputus untuk sementara. Siapkan diri dengan dana darurat dan kecekatan mencari sumber pendapatan baru.
6. Sumur dapat menjadi sumber kehidupan sekaligus bencana

Air sangat penting untuk manusia dan makhluk hidup lainnya. Di mana pun kamu tinggal, yang paling dicari pertama kali adalah sumber air. Termasuk membuat sumur yang dalam agar kualitas airnya bagus dan jumlahnya berlimpah.
Akan tetapi, sumur yang banyak manfaatnya sebagai penyedia air juga dapat menjadi sumber petaka. Terutama sumur yang dindingnya di atas permukaan tanahnya rendah. Bahkan hampir rata dengan tanah seperti dalam ilustrasi.
Bagian atas sumur juga tak ditutup. Manusia, terutama anak-anak, bisa dengan mudah celaka karena terjatuh ke dalamnya. Begitu pula dalam hidup. Semua hal yang bermanfaat bisa punya sisi berbahaya yang mungkin belum disadari.
Seperti uang yang banyak dapat meningkatkan kesejahteraanmu. Uang itu pun memudahkanmu bersedekah. Namun, uang yang sama bisa pula hanya membuatmu sombong seakan-akan mampu membeli segalanya. Termasuk harga diri orang lain. Atau uang dipakai buat memfasilitasi keburukan.
Rupanya ada banyak pelajaran hidup dari kedalaman sumur. Khususnya terkait usahamu mencari rezeki di dunia. Seperti halnya air yang menjaga kehidupan semua makhluk hidup. Jaga sumber rezekimu baik-baik dan tetap bersikap hati-hati.


















