Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
3 Pelajaran Jadi Diri Sendiri dari Patrick Star untuk Gen Z
Patrick Star (dok. nickelodeon/SpongeBob SquarePants)
  • Patrick Star menggambarkan pentingnya tidak terlalu terpaku pada penilaian orang lain dan berani menunjukkan selera, hobi, atau gaya berbeda selama tidak merugikan.
  • Kekurangan dan keunikan diri tidak harus dihapus demi terlihat ideal; memperbaiki diri tetap bisa dilakukan tanpa meninggalkan kepribadian autentik.
  • Gen Z tidak wajib memiliki rencana hidup yang sepenuhnya pasti; mencoba hal baru, berganti pilihan, dan berubah pikiran merupakan bagian dari mengenali diri.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Patrick Star dikenal sebagai salah satu karakter paling ikonik dalam serial kartun SpongeBob SquarePants. Ia adalah bintang laut berwarna merah muda yang tinggal di bawah batu, berteman dekat dengan SpongeBob, dan sering melakukan hal-hal di luar dugaan. Patrick memang tidak selalu menjadi karakter yang paling pintar atau paling masuk akal. Justru sifat polos, santai, dan cueknya itulah yang membuatnya mudah disukai. 

Kehidupan gen Z sekarang tidak jauh dari urusan membangun identitas dan menunjukkan diri kepada orang lain. Media sosial membuat kita bisa memilih bagaimana ingin terlihat, mulai dari gaya berpakaian sampai aktivitas yang dibagikan. Tanpa sadar, keinginan untuk terlihat sesuai ekspektasi bisa membuat kita terlalu sibuk memikirkan penilaian orang lain.

Padahal, menjadi diri sendiri tidak selalu berarti harus punya karakter yang sempurna. Dari Patrick, ada beberapa pelajaran sederhana tentang bagaimana menikmati menjadi diri sendiri tanpa terlalu sibuk mengikuti standar orang lain.

1. Gak perlu terlalu sibuk memikirkan penilaian orang lain

ilustrasi patrick star (instagram.com/officialpatrickstar)

Patrick punya satu kelebihan yang mungkin justru banyak orang dewasa lupa, yakni ia tidak terlalu sibuk memikirkan bagaimana dirinya terlihat di mata orang lain. Ia bisa bertingkah aneh, punya pemikiran yang tidak biasa, atau melakukan sesuatu yang dianggap konyol tanpa terlihat berusaha mengubah dirinya supaya diterima. Sikap ini memang tidak selalu bisa ditiru begitu saja, tetapi ada satu hal yang menarik, yaitu Patrick tidak menghabiskan hidupnya hanya untuk membangun versi dirinya yang disukai semua orang.

Esther Gonzalez-Freeman, BCC, board-certified life coach dalam Bustle, menjelaskan bahwa orang yang keren secara alami punya pendekatan yang lebih santai. Mereka melakukan sesuatu karena memang benar-benar tertarik, bukan karena berpikir, ‘Wah, ini bakal bikin aku kelihatan keren’. Sikap seperti inilah yang ternyata bisa membuat perbedaan besar dalam cara orang lain memandang mereka.

Untuk gen Z, hal ini bisa kamu terapkan tanpa harus menjadi “Patrick” sepenuhnya. Punya selera musik yang gak mainstream, gaya berpakaian yang berbeda, hobi yang dianggap aneh, atau kepribadian yang gak sesuai stereotip tertentu bukan berarti harus disembunyikan. Selama tidak merugikan orang lain, kamu gak perlu mengubah diri hanya supaya lebih gampang diterima.

2. Menerima keunikan diri tanpa harus menjadi sempurna

Patrick Star dalam serial animasi solonya (dok. Nickelodeon/The Patrick Star Show)

Patrick jelas bukan karakter yang sempurna. Ia sering ceroboh, mudah lupa, dan kadang membuat masalah bersama SpongeBob. Namun, kekurangan tersebut justru menjadi bagian dari karakter yang membuatnya terasa autentik. Ia tidak berusaha mengubah seluruh kepribadiannya hanya agar terlihat lebih ideal.

Katie Pankonin, LMSW, seorang terapis kesehatan mental berlisensi, mengatakan, “Orang yang terlihat keren secara alami tidak berusaha menjadi siapa pun selain diri mereka sendiri. Tidak masalah jika sifat mereka dianggap unik, aneh, atau berbeda, mereka tetap menunjukkan kepribadian alaminya, seberapa pun tidak biasanya hal itu bagi orang lain,” dikutip dari Bustle.

Buat gen Z, hal ini bisa dimulai dari hal sederhana dimana kamu gak perlu buru-buru menghilangkan sisi diri yang dianggap “gak banget” hanya karena takut terlihat berbeda. Mungkin ada sifat yang masih ingin diperbaiki dan itu wajar. Tapi, memperbaiki diri bukan berarti harus menghapus seluruh keunikan yang membuat kita menjadi diri sendiri.

3. Gak harus selalu tahu mau jadi apa

karakter Patrick Star di kartun SpongeBob SquarePants (dok. Nickelodeon/SpongeBob SquarePants)

Melihat karakter Patrick, rasanya sulit membayangkan dia punya five-year plan atau target hidup yang tersusun rapi. Patrick menjalani hari-harinya dengan santai, mencoba berbagai hal, dan sesekali mengambil keputusan yang membingungkan. Namun, justru dari situ ada hal yang relate dengan kehidupan gen Z, yaitu kita gak harus sudah punya gambaran lengkap tentang diri kita di usia sekarang. Ganti cita-cita, mencoba hobi baru, atau tiba-tiba menyadari bahwa pilihan yang dulu diinginkan ternyata gak cocok juga bukan berarti kita kehilangan arah.

Menurut Stephen Joseph, PhD, profesor emeritus di University of Nottingham, “Sederhananya, kita sering menganggap menjadi autentik berarti menjadi diri sendiri. Padahal, kalau dipahami lebih dalam, autentisitas bukan cuma soal menerima diri kita yang sekarang, tetapi juga tentang menjadi versi diri yang sebenarnya bisa kita capai,” dilansir Psychology Today.

Mungkin itulah alasan kenapa karakter Patrick terasa relate meski kelakuannya sering gak masuk akal. Di tengah hidup yang kadang bikin kita sibuk mengejar standar orang lain, punya ruang untuk jadi diri sendiri ternyata sama pentingnya. Jadi, gak apa-apa kalau kamu masih suka hal-hal yang dianggap aneh, masih sering berubah pikiran, atau belum tahu mau dibawa ke mana hidupmu karena Patrick aja tetap santai walaupun tinggal di bawah batu.

Curated For You

Editorial Team

Related Article