Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
5 Pelajaran Parenting Film Na Willa Menurut Psikolog, Soroti Peran Ibu
Still cut film Na Willa menampilkan Luisa Adreena, Irma Rihi, dan Junior Liem dalam adegan di kamar Na Willa (dok. Visinema Studios/Na Willa)

Film Na Willa menjadi tontonan bagi keluarga Indonesia yang akan tayang mulai 18 Maret 2026. Film yang menampilkan karakter utama Na Willa (diperankan oleh Luisa Adreena) menyoroti kehidupan anak berusia 6 tahun. Na Willa memberikan imajinasi dari gadis kecil yang tinggal di Surabaya dengan latar tahun 1960an.

Meski dengan kacamata seorang anak kecil, namun Na Willa mampu memberikan petualangan yang menyenangkan melalui imajinasi dan rasa ingin tahunya yang besar. Film garapan Ryan Adriandhy, sutradara film Jumbo ini juga memberi banyak pelajaran parenting yang telah ditinjau oleh psikolog.

Dalam penayangan film Na Willa bersama SGM Eksplor pada Minggu (8/3/25), Aninda, Praktisi Psikologi Anak Usia Dini turut menjelaskan sejumlah nilai pengasuhan yang bisa dipelajari oleh masyarakat umum.

1. Pentingnya menumbuhkan sikap kritis pada anak

Dok. Visinema Picture (Na Willa)

Karakter Na Willa digambarkan sebagai anak yang aktif, ceria dan memiliki rasa ingin tahu tinggi. Sikap tersebut menunjukkan daya pikir kritis yang penting dalam proses belajar anak.

Psikolog Aninda menegaskan bahwa karakter yang dimiliki Na Willa menjadi tanda perkembangan kognitif yang baik, "Kita lihat dari karakter Na Willa sendiri, dia anaknya aktif, terus dia ceria banget. Rasa ingin tahunya juga tinggi. Karena kalau di dalam area psikologi itu, kalau rasa ingin tahu tinggi, maka akan berhubungan dengan bagaimana cara dia berpikir, bagaimana cara dia ingin tahu banyak hal, banyak nanya, banyak banget celotehannya. Ini sebenarnya salah satu ciri dari anak yang cerdas."

Film Na Willa mengingatkan orangtua bahwa menumbuhkan rasa ingin tahu anak sebaiknya menjadi hal esensial dan fondasi penting dalam proses belajar. Pertanyaan dari anak tidak sebaiknya diabaikan sebab bisa menjadi peluang bagi rangtua untuk memberikan pemahaman yang lebih komprehensif pada buah hatinya.

2. Memberikan kebebasan untuk eksplorasi pada anak

Still cut film Na Willa menampilkan Irma Rihi sebagai Mak dan Luisa Adreena sebagai Na Willa sedang berada di sebuah pasar (dok. Visinema Studios/Na Willa)

Na Willa memiliki banyak pertanyaan terkait dunia di sekitarnya. Rasa ingin tahun inilah yang membantunya memahami lingkungan sosial, hubungan dengan keluarga, teman sebaya, dan lainnya. Ia mencoba mengamati, bertanya, hingga menafsirkan berbagai situasi yang terjadi

"Jadi ketika anak itu rasa ingin tahunya tinggi, maka dia akan berusaha untuk mencoba banyak hal, mengeksplorasi, akan mencoba untuk bertanya. Dan akhirnya nanti ujung-ujungnya dia akan memahami lingkungannya. Dia akan memahami apa sih yang dia rasakan, apa sih yang mereka lagi pikirkan," ujar Aninda.

Secara psikologis, keinginan untuk memahami dunia di sekitarnya menjadi proses belajar alami yang penting untuk proses tumbuh kembang anak. Penting bagi orangtua dalam memberi ruang bagi anak untuk bertanya dan mengeksplorasi. Orangtua tidak memberikan limitasi, melainkan arahan supaya si kecil belajar dengan lebih optimal. Mulai dari emosi, cara hidup lingkungannya, hingga keinginan untuk belajar.

"Jadi akhirnya dari rasa ingin tahu tadi akan berwujud ke cepat tanggapnya. Cepat tanggapnya itu tadi apa? Memahami lingkungannya, apa yang dia rasakan, apa yang orang-orang teman-temannya itu lagi pikirkan. Jadi dia bisa paham, oh kira-kira kayak gini. Walaupun memang tetap anak-anak banget ya, tapi tetap dia bisa menangkap, oh ini maksudnya ini.

Film Na Willa juga menegaskan bahwa proses belajar tak selalu terjadi di ruang formal. Interaksi di rumah maupun lingkungan tempat tinggal juga tak kalah penting. Untuk itu, dukungan dan perhatian dari orangtua dapat menumbuhkan sikap kritis pada anak.

3. Pola parenting authoritative, hangat namun tegas

Still cut film Na Willa menampilkan Luisa Adreena sebagai Na Willa (dok. Visinema Studios/Na Willa)

Hubungan anak dan orangtua dalam film Na Willa ditampilkan dengan begitu kuat melalui interaksi Willa dan Emak. Tak hanya sekadar merawat dan membesarkan anak semata wayangnya, Emak membimbing putrinya dengan pendekatan authoritative parenting.

"Peran ibu itu luar biasa banget. Apalagi kalau kita lihat peran Emak tadi di dalam film itu sangat hadir banget terhadap kehidupannya Na Willa. Kita bisa lihat di satu sisi emak itu sangat hangat, tapi di sisi lain juga ada aturannya. Ada aturan-aturan yang dia berikan dan itu penting banget kalau di psikologi. Karena kalau di psikologi itu dinamakan autoritetnya parenting," jelas Aninda.

Sebagai psikolog, Aninda menegaskan authoritative parenting berarti menerapkan interaksi yang hangat namun di sisi lain menghadirkan batasan serta aturan yang tegas. Pola perilaku yang seperti itu aku menghadirkan pembelajaran-pembelajaran pada diri anak.

Dampak dari authoritative parenting adalah kemampuan anak untuk memahami batasan tanpa mengabaikan emosinya, "Nah akhirnya hal inilah yang membuat Na Willa mampu untuk berkembang dengan lebih baik. Karena emaknya juga hadir dengan lebih baik. Karena dia gak cuman sekadar menjadi ibu, tapi juga ada banyak banget peran-peran yang ada di dalam dirinya. Perannya dia sebagai emak itu udah pasti, peran dia sebagai guru itu juga."

Kehadiran ibu yang konsisten membersamai anak sangat penting di usia emas si kecil. Hal ini memberi gambaran bagaimana ibu dapat memiliki sejumlah peran, baik sebagai orangtua, guru, maupun teman. Kehadiran inilah yang menandai perlunya terlibat secara aktif dalam kehidupan anak.

4. Kedekatan emosional anatara anak dan orangtua

Cuplikan film Na Willa (youtube.com/Visinema Pictures)

Kedekatan emosional antara orangtua dan anak menjadi fondasi penting dalam proses tumbuh kembang Na Willa yang masih berusia 6 tahun. Hubungan Emak dengan Na Willa, serta dukungan Pak yang meski tak hadir secara fisik, namun tetap memberi dukungan.

Aninda menerangkan, kedekatan emosional terlihat begitu nyata, sebab Emak benar-benar hadir untuk anaknya. Walaupun mungkin ayahnya, Pak tidak hadir secara langsung, tapi melalui Emak, Na Willa tidak merasa kehilangan sosok Pak. Pola pengasuhan Emak dalam hidup Na Willa menstimulasi 6 aspek psikologis yang paling penting.

Aninda menjelaskan, "Kalau di psikologi itu ada 6 aspek yang perlu distimulasi oleh seorang ibu, 6 aspeknya itu ada fisik, ada motorik itu aspek pertama, lalu ada kognitif, bahasa, dan sosial, dan emosional. Kalau tadi kita lihat dari Na Willa, semua aspeknya itu ada."

Orangtua yang terlibat aktif secara emosional dan fisik akan memberikan stimulasi yang seimbang pada berbagai aspek perkembangan juga membantu anak mengeksplorasi potensi dirinya secara lebih optimal. Untuk itulah dukungan yang konsisten dari Ibu dan ayah akan mendorong anak menjadi pribadi yang percaya diri dalam menghadapi kehidupan.

5. Kemauan orangtua untuk belajar

Cuplikan dalam film Na Willa (youtube.com/Visinema Pictures)

Ketika orangtua telah berhasil menumbuhkan rasa ingin tahu dalam diri anak, ibu dan ayah juga harus belajar untuk menyeimbangkan kemampuan si kecil. Kemauan untuk terus belajar agar potensi anak berkembang secara maksimal menunjukkan kemauan orangtua untuk menyesuaikan dengan kebutuhan.

"Karena paham banget gitu, ketika kita menjadi ibu pasti ada rasa-rasa, aku pengen jagain anakku, itu kan jadi core pertamanya kita. Tapi akhirnya dari situ kita akan belajar, emak tuh belajar, gitu. Bahwa memang dunia itu nggak cuman di rumah aja, tapi di sekitar anak itu juga hal yang sama," tambahnya.

"Makanya menurutku kalau udah punya anak yang seperti Na Willa, penting bagi orangtuanya untuk mau, untuk belajar," ujar Aninda.

Editorial Team