Diskusi 3 Wajah Roehana Koeddoes di IDN pada Jumat 6 Februari 2026 (IDN Times/Novaya)
Setelah sambutan, kemudian dilaksanakan pemutaran film Soenting Melajoe yang merupakan biopik dari Roehana Koeddoes.
Berikutnya adalah sesi diskusi yang diisi oleh jurnalis dan pendiri Narasi, Najwa Shihab, ketua Dewan Pers, Komaruddin Hidayat, ketua umum FJPI, Khairiah Lubis, ketua Yayasan Amal Setia Trini Tambu, dann ketua umum AMSI, Wahyu Djatmika. Sesi ini sendiri dimoderasi oleh pemred IDN Times, Uni Lubis.
Khairiah Lubis menegaskan, Roehana Koeddoes jadi spirit utama bagi jurnalis perempuan Indonesia. “Roehana bagi kita itu spirit, bagi jurnalis perempuan Roehana itu adalah spirit di FJPI, Forum Jurnalis Perempuan Indonesia, yang sejarah berdirinya tahun 2007 sekitar 18 tahun lalu dari Medan,” kata Khairiah yang akrap disapa Awi. Dia menjelaskan, semangat pembentukan FJPI tidak terlepas dari sejarah panjang jurnalis perempuan di Indonesia. Selain Roehana Koeddoes yang mendirikan media perempuan pada 1912 di Kotogadang, terdapat pula koran Perempuan Bergerak yang terbit di Medan pada 1919, yang menjadi spirit dalam pembentukan FJPI.
Pendiri Narasi sekaligus jurnalis senior Najwa Shihab menegaskan, di setiap zaman selalu ada cara untuk membungkam perempuan. Namun, di saat yang sama, selalu ada perempuan yang menemukan jalan untuk tetap bersuara. Najwa menyebut, Roehana sebagai contoh bagaimana perempuan tidak menunggu ruang publik diberikan, melainkan menciptakan ruangnya sendiri untuk berbicara dan berkarya. Menurutnya, apa yang dilakukan Roehana Koeddoes lebih dari satu abad lalu masih sangat relevan dengan perjuangan perempuan hingga hari ini.
Ketua Yayasan Kerajinan Amai Setia Koto Gadang, Trini Tambu, mengatakan perjuangan Roehana Koeddoes jauh melampaui sekadar gagasan emansipasi. Menurutnya, Roehana telah membangun infrastruktur emansipasi yang nyata melalui pendidikan, jurnalistik, dan pemberdayaan ekonomi perempuan sejak awal abad ke-20. Trini mengingatkan, jauh sebelum istilah emansipasi bergema secara nasional, Roehana Koeddoes sudah menyuarakan pentingnya pendidikan bagi perempuan lewat tulisan-tulisannya di surat kabar Sunting Melayu pada 1911. Ia mengutip salah satu tulisan Roehana berjudul Perempuan yang berbunyi, “Kaum perempuan harus dimajukan mengikuti aliran zaman. Bangsa kita masih terbelakang dalam kemajuan hidup. Untuk itu, tidak dapat tidak, kaum perempuan pun harus memasuki sekolah seperti kaum laki-laki. Karena dengan sekolah lah ilmu pengetahuan diperoleh”. Menurut Trini, tulisan tersebut bukan sekadar opini, melainkan sebuah manifesto perubahan cara berpikir bahwa perempuan memiliki peran strategis dalam pembangunan bangsa.
Pengalaman saya selama mengikuti acara ini adalah menjadi lebih tahu tentang perjuangan beliau dan berharap bisa menjadi inspirasi bagi perjalanan hidup saya sendiri.