Kolaborasi Lintas Pemangku Kepentingan Antara PepsiCo, Bali Waste Cycle, dan Dinas Lingkungan Hidup Denpasar Melalui Upaya Mengubah Sampah Kemasan Menjadi Papan Penanda Jalan dan Infrastruktur Area Wisata di Bali (dok. Istimewa)
Papan nama “Taman Kota Sewaka Dharma” di Lumintang diproduksi dari sampah material multi-layered plastic (MLP) atau plastik multilapis kemasan makanan ringan Lay's, Cheetos, dan Doritos yang telah dikumpulkan dan dikelola oleh BWC, dengan dukungan dari Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Kota Denpasar. Melalui inovasi ini, kemasan pascakonsumsi dapat diproses ulang menjadi infrastruktur publik yang diharapkan mampu memberikan manfaat nyata bagi masyarakat sekitar.
Peluncuran ini menandai langkah penting dalam kolaborasi lintas pemangku kepentingan antara PepsiCo Indonesia, Bali Waste Cycle, dan DLHK Denpasar. Acara peresmian dihadiri oleh perwakilan dari DLHK Denpasar, PepsiCo Indonesia, Bali Waste Cycle, dan PepsiCo Greenhouse Program. Papan jalan dan penanda arah akan ditempatkan pada sejumlah lokasi terpilih, termasuk Taman Lumintang, salah satu ruang publik utama di Denpasar yang dikelola oleh DLHK. Selain itu, papan penunjuk arah hasil pengelolaan sampah kemasan MLP juga dipasang di sejumlah lokasi publik lainnya di Bali, seperti: Kemenuh Monkey River, yang merupakan salah satu destinasi wisata ternama di Kemenuh, Gianyar.
Sejak beroperasi di Indonesia pada tahun 2025, PepsiCo Indonesia telah menjalankan berbagai upaya pengumpulan dan pengelolaan sampah kemasan melalui kolaborasi dengan sejumlah mitra, termasuk Indonesia Packaging Recovery Organization (IPRO) dan Bali Waste Cycle. Melalui kemitraan tersebut, PepsiCo Indonesia terus mendorong peningkatan pengumpulan kemasan pascakonsumsi sekaligus mengeksplorasi berbagai penerapan inovasi untuk materi-materi hasil pengolahan sampah kemasan yang bisa digunakan pada infrastruktur publik.
Milly Pearson, APAC & India Sustainability Manager at PepsiCo dan perwakilan Greenhouse Program, menyebutkan, “Salah satu indikator terkuat dari keberhasilan program Greenhouse Program adalah melihat inovasi-inovasi tersebut bergerak dari ide menjadi implementasi langsung di dunia nyata yang memberikan dampak terukur. Perjalanan Bali Waste Cycle menunjukan bagaimana solusi pengembangan lokal dapat mengatasi tantangan lingkungan yang kompleks. Kami sangat bangga untuk melihat kolaborasi ini dapat menghadirkan prinsip kemasan berkelanjutan menjadi nyata dan menginspirasi lebih banyak lagi pemangku kepentingan untuk terlibat dalam solusi pengelolaan sampah secara berkelanjutan.”
Inisiatif ini juga menjadi tonggak penting bagi Bali Waste Cycle, startup yang berfokus pada pengelolaan dan pemrosesan plastik serta material yang sulit didaur ulang. Pada tahun 2025, BWC terpilih sebagai salah satu finalis Greenhouse Accelerator Program Asia Pacific dan menjadi satu-satunya startup asal Indonesia dalam program tersebut. BWC menerima pendanaan sebesar USD 20.000 serta pendampingan dari PepsiCo untuk mengembangkan solusi yang dimilikinya. Pada tahun ini, BWC kembali terpilih dalam Greenhouse Program IMPACT Editon Asia Pacific dan memperoleh pendanaan tambahan sebesar USD 20.000 untuk memperluas dampak dan skalabilitas operasionalnya.