Mengapa Performative Reading Melahirkan Hierarki dalam Dunia Literasi?

- Performative reading muncul ketika aktivitas membaca lebih ditampilkan untuk membangun citra diri, sehingga bacaan tertentu berubah menjadi penanda status sosial.
- Anggapan bahwa karya klasik, filsafat, atau teori lebih bergengsi membuat pilihan bacaan dan kebiasaan membaca dijadikan ukuran kecerdasan serta kelas sosial.
- Media sosial dan penggunaan pengetahuan untuk merendahkan orang lain memperkuat kompetisi simbolis, padahal akses membaca dan sumber pemahaman setiap orang berbeda.
Membaca kerap dipandang sebagai aktivitas yang dapat memperluas wawasan, melatih pemikiran kritis, dan membantu seseorang memahami perspektif yang berbeda. Namun, dalam praktiknya kebiasaan membaca juga bisa menjadi bagian dari pembentukan identitas sosial. Jenis buku yang dibaca, penulis yang dikagumi, hingga kemampuan mengutip karya tertentu terkadang memengaruhi cara seseorang ingin dipandang oleh orang lain.
Hal ini semakin terlihat ketika aktivitas membaca dibagikan melalui media sosial dan menjadi bagian dari citra diri. Fenomena performative reading muncul ketika aktivitas membaca lebih banyak ditampilkan untuk membangun kesan tertentu daripada memenuhi kebutuhan intelektual atau kesenangan pribadi. Dalam konteks ini, bacaan dapat berubah menjadi penanda status yang membedakan seseorang dari pembaca lainnya.
Akibatnya, dunia literasi berisiko memiliki hierarki tersendiri, seolah-olah ada jenis bacaan yang lebih bergengsi dan kelompok pembaca yang lebih layak dihargai. Lantas, mengapa fenomena ini bisa terjadi?
1. Bacaan tertentu dianggap lebih bergengsi daripada yang lain

ilustrasi seorang perempuan membaca buku (magnific.com/magnific) Salah satu penyebab munculnya hierarki dalam dunia literasi adalah anggapan bahwa semua buku memiliki nilai sosial yang sama sekali berbeda berdasarkan genre, tingkat kesulitan, atau reputasi penulisnya. Karya sastra klasik, buku filsafat, dan teori sosial, misalnya, kerap diasosiasikan dengan kecerdasan serta wawasan yang mendalam.
Sebaliknya, novel populer, komik, atau buku pengembangan diri terkadang dianggap kurang berbobot. Penilaian semacam ini membuat pilihan bacaan tidak lagi sekadar persoalan minat, tetapi juga berkaitan dengan status yang ingin diperoleh pembacanya.
Dalam situasi tersebut, performative reading dapat memperkuat anggapan bahwa membaca buku tertentu membuat seseorang lebih intelektual daripada orang lain. Pembaca mungkin terdorong memilih bacaan yang dianggap prestisius agar memperoleh pengakuan dari lingkungan sosialnya.
Padahal, nilai sebuah buku tidak selalu bisa ditentukan hanya berdasarkan genre atau tingkat kesulitannya. Setiap bacaan memiliki tujuan dan konteks yang berbeda, sedangkan manfaatnya juga bergantung pada bagaimana pembaca memahami serta mengolah gagasan yang disampaikan.
2. Membaca dijadikan tolok ukur kecerdasan seseorang

ilustrasi membaca buku (pexels.com/Cristian Benavides) Kebiasaan membaca sering dikaitkan dengan kecerdasan dan keluasan wawasan. Hubungan ini memang dapat dipahami karena membaca memberi kesempatan untuk memperoleh pengetahuan baru dan melatih kemampuan berpikir kritis. Namun, persoalan muncul ketika kebiasaan tersebut dijadikan ukuran tunggal untuk menilai kapasitas intelektual seseorang.
Orang yang banyak membaca buku dianggap lebih pintar, sedangkan mereka yang jarang membaca atau tidak menyukai buku tertentu kerap dipandang kurang berpengetahuan tanpa mempertimbangkan pengalaman dan sumber pembelajaran lainnya. Performative reading dapat memperkuat pola pikir ini ketika aktivitas membaca digunakan sebagai bukti untuk menunjukkan keunggulan diri. Jumlah buku yang ditamatkan, kemampuan membicarakan pemikiran filsuf, atau kebiasaan mengutip penulis terkenal bisa menjadi alat untuk memperoleh posisi sosial yang lebih tinggi.
Padahal, kecerdasan tidak hanya berkembang melalui buku. Pengalaman hidup, diskusi, pengamatan, dan interaksi dengan orang lain juga dapat memperkaya pemahaman. Menjadikan kebiasaan membaca sebagai satu-satunya tolok ukur justru berisiko mempersempit cara kita memandang pengetahuan.
3. Selera bacaan menjadi pembeda kelas sosial

ilustrasi membaca buku (pexels.com/Thới Nam Cao) Buku tidak hanya berfungsi sebagai sumber informasi, tetapi juga dapat menjadi simbol identitas dan status sosial. Pilihan bacaan tertentu bisa menunjukkan lingkungan tempat seseorang tumbuh, akses terhadap pendidikan, atau kedekatannya dengan kelompok yang memiliki selera budaya serupa. Dalam kondisi tertentu, pengetahuan tentang penulis, karya klasik, dan teori tertentu bahkan dapat menjadi semacam modal budaya yang membantu seseorang merasa lebih diterima di lingkungan tertentu.
Akibatnya, selera bacaan berpotensi membentuk batas antara kelompok yang dianggap berbudaya dan kelompok yang dinilai kurang memiliki wawasan. Melalui performative reading, simbol tersebut dapat semakin terlihat ketika seseorang menampilkan koleksi buku atau mendiskusikan bacaan untuk menegaskan identitas sosialnya.
Masalahnya, akses terhadap buku, waktu luang, pendidikan, dan lingkungan yang mendukung kebiasaan membaca tidak selalu dimiliki semua orang secara setara. Ketika perbedaan akses ini diabaikan, selera bacaan berisiko digunakan untuk menghakimi individu lain. Padahal, kemampuan seseorang dalam mengapresiasi literatur tidak semestinya ditentukan oleh seberapa dekat pilihan bacaannya dengan selera kelompok yang dianggap bergengsi.
4. Media sosial memperkuat budaya membandingkan diri

ilustrasi seorang perempuan membaca buku (magnific.com/magnific) Media sosial memberikan ruang bagi pembaca untuk membagikan ulasan, rekomendasi, dan pengalaman membaca. Aktivitas ini dapat membantu orang menemukan buku baru sekaligus membangun komunitas berdasarkan minat yang sama. Namun ketika aktivitas membaca semakin sering ditampilkan sebagai konten, perhatian terhadap pengalaman membaca bisa bercampur dengan keinginan memperoleh pengakuan.
Unggahan mengenai jumlah buku yang ditamatkan, rak buku yang penuh, atau daftar bacaan yang dianggap intelektual dapat memunculkan standar tidak tertulis tentang sosok pembaca ideal. Dalam lingkungan seperti ini, performative reading dapat berkembang menjadi kompetisi simbolis untuk menunjukkan siapa yang paling produktif atau memiliki selera paling berkelas.
Pembaca mungkin membandingkan pencapaiannya dengan orang lain, merasa tertinggal karena jumlah bacaannya lebih sedikit, atau meragukan pilihan bukunya sendiri. Padahal, unggahan di media sosial hanya memperlihatkan sebagian dari pengalaman seseorang dan tidak selalu mencerminkan kedalaman pemahamannya. Jika terus dijadikan patokan, representasi membaca di ruang digital dapat membuat aktivitas yang seharusnya personal terasa seperti perlombaan status.
5. Pengetahuan digunakan untuk merendahkan pembaca lain

ilustrasi berdiskusi tentang buku (pexels.com/Guillermo Berlin) Hierarki dalam dunia literasi semakin nyata ketika pengetahuan tidak lagi digunakan untuk membuka diskusi, tetapi untuk menentukan siapa yang dianggap layak berbicara. Misalnya, seseorang meremehkan pendapat pembaca novel populer karena menganggap mereka belum cukup banyak membaca karya klasik. Ada pula kecenderungan menganggap kritik terhadap sebuah buku tidak valid hanya karena orang yang menyampaikannya belum membaca karya lain dari penulis yang sama.
Dalam situasi ini, pengetahuan menjadi semacam tiket untuk memperoleh pengakuan, sementara orang yang tidak memenuhi standar tertentu ditempatkan pada posisi yang lebih rendah. Perilaku tersebut dapat berkaitan dengan performative reading ketika penguasaan bacaan lebih ditonjolkan untuk membuktikan superioritas daripada memahami perbedaan perspektif.
Padahal, diskusi literasi yang sehat seharusnya memungkinkan orang bertukar gagasan, mengajukan pertanyaan, dan menyampaikan kritik tanpa harus terlebih dahulu membuktikan bahwa mereka memiliki selera bacaan yang dianggap paling tepat. Membaca banyak buku tentu dapat memperkaya argumen, tetapi hal itu tidak otomatis membuat setiap pendapat menjadi benar. Pengetahuan semestinya menjadi sarana untuk berdialog, bukan alat untuk membungkam orang lain.
Performative reading tidak berarti setiap orang yang memamerkan buku, menyukai karya klasik, atau memiliki target membaca sedang melakukan pencitraan. Persoalan muncul ketika aktivitas membaca dijadikan ukuran status dan alasan untuk merasa lebih unggul daripada pembaca lain. Literasi seharusnya membuka ruang bagi beragam minat, pengalaman, dan cara memahami dunia, bukan menciptakan hierarki yang membatasi siapa yang dianggap layak disebut pembaca.






















