Membaca kerap dipandang sebagai aktivitas yang dapat memperluas wawasan, melatih pemikiran kritis, dan membantu seseorang memahami perspektif yang berbeda. Namun, dalam praktiknya kebiasaan membaca juga bisa menjadi bagian dari pembentukan identitas sosial. Jenis buku yang dibaca, penulis yang dikagumi, hingga kemampuan mengutip karya tertentu terkadang memengaruhi cara seseorang ingin dipandang oleh orang lain.
Hal ini semakin terlihat ketika aktivitas membaca dibagikan melalui media sosial dan menjadi bagian dari citra diri. Fenomena performative reading muncul ketika aktivitas membaca lebih banyak ditampilkan untuk membangun kesan tertentu daripada memenuhi kebutuhan intelektual atau kesenangan pribadi. Dalam konteks ini, bacaan dapat berubah menjadi penanda status yang membedakan seseorang dari pembaca lainnya.
Akibatnya, dunia literasi berisiko memiliki hierarki tersendiri, seolah-olah ada jenis bacaan yang lebih bergengsi dan kelompok pembaca yang lebih layak dihargai. Lantas, mengapa fenomena ini bisa terjadi?
