Dia bukan seseorang yang pantas ditakuti.
Dan untuk pertama kalinya, aku tidak merasa takut. Aku merasa bebas.
Sejak hari itu, aku tidak pernah sendirian lagi.
Yang paling penting sekarang kamu selamat, kamu sudah sama kami. Kamu bertahan.
Kedamaian terdengar indah, dan mungkin itu sudah cukup. Tapi jauh di dalam hati, aku masih ingin keadilan.
Saat publik menghakimi, menertawakan, dan memanggilku dengan nama-nama kejam, aku masih berdarah di dalam.
Aku menginginkan keadilan, bukan hanya untuk diriku, tapi untuk semua gadis yang pernah terperangkap dalam mimpi buruk yang tidak dipercaya siapa pun.
Aku ingin menunjukkan bahwa monster bisa terlihat menawan, bahwa kejahatan bisa tersenyum, dan bahwa bertahan hidup itu tidak selalu indah.
Tapi aku cepat belajar, bahwa keadilan bukan jaminan.
Tanpa uang, tanpa koneksi, tanpa orang berkuasa di pihakmu, kebenaran bisa lepas begitu saja dari tanganmu. Mungkin suatu hari keadaan akan berubah.
Aku mulai fokus pada hal-hal yang bisa kukendalikan
Apakah aku akan merindukannya? Apakah akan ada seseorang yang bisa mencintaiku lagi, seseorang yang melihat semua cacatku dan tetap memilihku?
Dia membuatku percaya bahwa tak akan ada yang mampu.
Tapi saat akhirnya aku bebas, aku tidak pernah sekalipun berharap aku tetap tinggal.
Rasa cintaku padanya telah mati pada hari ia memaksaku, ketika aku berusia lima belas tahun. Yang tersisa bukanlah cinta, melainkan ketakutan, rasa bersalah, dan keinginan untuk bertahan hidup
Yang sebenarnya ingin kukatakan adalah: aku terus tertarik pada orang-orang yang memperlakukanku buruk, dan untuk waktu yang lama aku pikir itu hanya kebetulan. Tapi kemudian aku sadar, itu bukan kebetulan sama sekali. Aku terus menarik apa yang kupikir pantas kudapatkan.
Aku tidak ingin berpura-pura bahwa aku selalu tahu segalanya, atau bahwa aku selalu menjadi pasangan yang sempurna.
Aku masih belajar apa arti hubungan yang sehat, bagaimana mencintai seseorang tanpa kehilangan diriku sendiri.
Tanpa penyembuhan, aku mungkin akan terus terjebak dalam lingkaran yang sama.
Butuh waktu bertahun-tahun untuk menyadari bahwa cara orang lain memperlakukanku hanyalah cerminan dari bagaimana aku memperlakukan diriku sendiri