"A lady's imagination is very rapid; it jumps from admiration to love, from love to matrimony in a moment."
(Imajinasi perempuan itu sangat cepat; dari kagum bisa langsung jadi cinta, dari cinta langsung bisa terbayang pernikahan dalam sekejap.)
"You have bewitched me body and soul, and I love, I love, I love you. And wish from this day forth never to be parted from you."
(Kamu telah memikatku lahir dan batin, dan aku cinta, cinta, cinta kamu. Mulai hari ini, aku berharap tidak pernah lagi terpisah darimu.)
"You must allow me to tell you how ardently I admire and love you."
(Kamu harus mengizinkanku mengatakan betapa besar kekaguman dan cintaku padamu.)
"Well, my dear,” said Mr. Bennet, when Elizabeth had read the note aloud, “if your daughter should have a dangerous fit of illness—if she should die, it would be a comfort to know that it was all in pursuit of Mr. Bingley, and under your orders.”
("Yah, istriku sayang,” kata Mr. Bennet setelah Elizabeth membacakan surat itu keras-keras, “jika putrimu sampai jatuh sakit parah—bahkan meninggal—setidaknya akan menjadi penghiburan bahwa semua itu terjadi demi mengejar Mr. Bingley, dan atas perintahmu.”)
"Had I been in love, I could not have been more wretchedly blind. But vanity, not love, has been my folly."
(Seandainya aku benar-benar jatuh cinta, mungkin aku tidak akan sebuta ini. Namun yang membuatku keliru ternyata bukan cinta, melainkan kesombonganku.)
"It is a truth universally acknowledged, that a single man in possession of a good fortune, must be in want of a wife.”
(Sudah menjadi kebenaran yang diakui semua orang, bahwa seorang pria lajang yang memiliki kekayaan pasti membutuhkan seorang istri.)
"Next to being married, a girl likes to be crossed a little in love now and then. It is something to think of, and it gives her a sort of distinction among her companions.”
(Setelah menikah, hal yang disukai seorang gadis adalah sesekali mengalami sedikit rintangan dalam urusan cinta. Itu memberi bahan untuk dipikirkan, sekaligus membuatnya terasa lebih istimewa di antara teman-temannya.)
"Do anything rather than marry without affection.”
(Lakukan apa pun, asalkan jangan menikah tanpa cinta.)
"There are very few who have heart enough to be really in love without encouragement.”
(Hanya sedikit orang yang cukup berani untuk benar-benar jatuh cinta tanpa adanya dorongan atau kepastian.)
"You showed me how insufficient were all my pretensions to please a woman worthy of being pleased.”
(Kamu membuatku sadar betapa tidak berarti semua upayaku untuk menyenangkan seorang perempuan yang benar-benar layak disenangkan.)
"I think you are in very great danger of making him as much in love with you as ever.”
(Kurasa kamu berada dalam bahaya besar membuatnya jatuh cinta padamu lebih dari sebelumnya.)
"Could there be finer symptoms? Is not general incivility the very essence of love?”
(Apa ada tanda yang lebih jelas dari itu? Bukankah sikap tidak ramah justru inti dari cinta?)
"Happiness in marriage is entirely a matter of chance.”
(Kebahagiaan dalam pernikahan sepenuhnya soal keberuntungan.)
"I am determined that only the deepest love will induce me into matrimony..."
(Aku sudah bertekad bahwa hanya cinta yang paling dalam yang akan membawaku ke pernikahan. Jadi mungkin aku akan berakhir menjadi perawan tua, lalu mengajari sepuluh anakmu menyulam bantal dan memainkan alat musik dengan sangat buruk.)
"In vain I have struggled. It will not do. My feelings will no longer be repressed..."
(Percuma aku berjuang menahannya. Ini tak bisa dilanjutkan. Perasaanku tak bisa lagi ditekan. Aku harus mengatakan betapa besar kekaguman dan cintaku padamu.)
"If a woman is partial to a man, and does not endeavour to conceal it, he must find it out."
(Jika seorang perempuan menyukai seorang pria dan tidak berusaha menyembunyikannya, pria itu pasti akan menyadarinya.)
"In nine cases out of ten, a woman had better show more affection than she feels.”
(Dalam sembilan dari sepuluh kasus, seorang perempuan sebaiknya menunjukkan kasih sayang lebih besar daripada yang sebenarnya ia rasakan.)
"She hardly knew how to suppose that she could be an object of admiration to so great a man.”
(Ia hampir tak mengerti bagaimana mungkin dirinya bisa menjadi sosok yang dikagumi oleh pria sebesar itu.)
"To be fond of dancing was a certain step towards falling in love.”
(Menyukai dansa adalah satu langkah pasti menuju jatuh cinta.)
"He was the proudest, most disagreeable man in the world, and everybody hoped that he would never come there again.”
(Dia adalah pria paling sombong dan paling tidak menyenangkan di dunia, dan semua orang berharap dia tidak akan pernah datang ke sana lagi.)
"I am only resolved to act in that manner, which will, in my own opinion, constitute my happiness, without reference to you, or to any person so wholly unconnected with me.”
(Aku hanya bertekad untuk bertindak dengan cara yang, menurut penilaianku sendiri, akan membawa kebahagiaanku—tanpa mempertimbangkan dirimu atau siapa pun yang tidak benar-benar berkaitan denganku.)
"You must learn some of my philosophy. Think only of the past as its remembrance gives you pleasure.”
(Kamu harus belajar sedikit dari filosofiku: ingatlah masa lalu hanya sejauh kenangannya masih memberi kebahagiaan.)
"Do you think that any consideration would tempt me to accept the man who has been the means of ruining, perhaps for ever, the happiness of a most beloved sister?”
(Apakah kamu pikir alasan apa pun bisa membujukku menerima pria yang telah menjadi penyebab hancurnya—mungkin untuk selamanya—kebahagiaan saudari yang sangat kucintai?)
“An unhappy alternative is before you, Elizabeth. From this day you must be a stranger to one of your parents. Your mother will never see you again if you do not marry Mr. Collins, and I will never see you again if you do."
(Pilihan yang tidak menyenangkan ada di depanmu, Elizabeth. Mulai hari ini, kamu harus menjadi orang asing bagi salah satu orang tuamu. Ibumu tidak akan pernah mau melihatmu lagi jika kamu tidak menikah dengan Mr. Collins—dan aku tidak akan pernah mau melihatmu lagi jika kamu melakukannya.)