Ilustrasi merenung (pexels.com/Photo by Amirali Shaghaghi)
Hidup tidak selalu berjalan sesuai keinginan. Ada hal-hal yang tidak bisa dipaksakan, dan pada akhirnya kita belajar menerima. Kutipan ini mengajak kita untuk memahami bahwa menerima keadaan juga bagian dari perjalanan hidup.
41. "Berhenti menanyakan kepada seseorang 'kamu kapan menikah?' Gimana kalau ternyata menikah bukan tujuan akhir dalam hidupnya?"
42. "Hai, semoga nanti kamu bahagia ya, semoga nanti kamu dirayakan, semoga ada yang jatuh cinta dengan bagaimana kamu bertahan."
43. "Satu tahun sekali aku ingin disayang, ingin diucap banyak sekali di hari ulang tahunku."
44. "Ingin lihat Ayah bawa kue yang di atasnya ada namaku, ada lilinnya kecil-kecil tapi banyak. Biar nanti aku pura-pura kerepotan meniupnya."
45. "Satu tahun sekali, aku ingin dirayakan sama Ayah, sama Ibu. Tapi satu hari dari setahun itu tidak pernah jadi nyata. Cuma di kepala anak kecil yang kebawa sampai dewasa."
46. "Dari 24 jam dalam sehari, aku gak bisa kelihatan kuat terus. Selalu saja ada malam yang habis dengan menangis."
47. "Kadang memang yang kita mau bukan yang Tuhan kasih, egoisnya kita sering maksa Tuhan buat ngasih itu."
48. "Karena dunia ini bukan punya kita, jadi wajar kalau semuanya gak harus sesuai kayak yang kita mau."
49. "Dunia ini punya Tuhan, kadang kita suka lupa, ya."
50. "Sejauh ini aku sudah terbiasa tumbuh sendirian. Tanpa pundak. Juga tanpa pelukan hangat saat semuanya sedang memudar."
Melalui berbagai quotes Khoirul Trian, ia berhasil mengajak kita untuk lebih memahami arti tanggung jawab, perasaan, dan arah hidup, khususnya dari sudut pandang seorang ayah. Kata-katanya sederhana, tetapi mampu meninggalkan kesan mendalam yang membuat pembaca merenung lebih jauh tentang hidup yang sedang dijalani.