Kamu Tahu? Besek Bambu Bisa Bikin Kurban Lebih Ramah Lingkungan

- Tren kurban hijau mendorong penggunaan besek bambu sebagai wadah ramah lingkungan untuk menggantikan kantong plastik sekali pakai saat pembagian daging Idul Adha.
- Besek bambu dinilai lebih aman karena bebas dari zat kimia berbahaya, menjaga kesegaran daging lewat sirkulasi udara alami, dan tidak mencemari lingkungan seperti plastik.
- Penggunaan besek bambu turut menggerakkan ekonomi lokal dengan memberdayakan UMKM pengrajin anyaman serta melestarikan budaya kriya tradisional yang berkelanjutan.
Kesadaran akan lingkungan semakin tinggi di kalangan masyarakat kita. Momen Hari Raya Idul Adha pun jadi salah satu momen yang tepat untuk merefleksikan kepedulian tersebut, seperti halnya dengan menerapkan kurban hijau. Tren kurban hijau merupakan konsep pelaksanaan ibadah kurban dengan memadukan spiritualitas dan kelestarian lingkungan.
Salah satu bentuk nyata dari tren ini adalah penggunaan wadah alternatif ramah lingkungan, seperti besek bambu, untuk menggantikan kantong plastik sekali pakai yang selama ini banyak digunakan dalam proses pembagian daging kurban. Langkah ini punya dampak positif lho bagi lingkungan hingga perekonomian. Berikut alasan kuat mengapa besek bambu lebih baik dan ideal dari plastik.
1. Meminimalisir sampah plastik tahunan dari perayaan Idul Adha

Selama ini, kantong plastik digunakan secara masif di perayaan Idul Adha untuk pendistribusian daging kurban. Jika di satu titik ada seribu paket daging yang dibungkus menggunakan kantong plastik, bisa dibayangkan berapa limbah kantong plastik yang terkumpul secara nasional? Sampah plastik ini memang jadi persoalan yang berulang setiap perayaan Idul Adha.
Sebagaimana kita ketahui, limbah plastik memerlukan waktu yang sangat lama untuk terurai. Kemudian, dalam proses degradasinya pun, hanya akan memecah plastik menjadi mikroplastik yang dapat mencemari lingkungan. Inilah mengapa kemasan alami, seperti besek bambu, bisa jadi alternatif yang lebih ramah lingkungan sekaligus tetap aman untuk bahan pangan.
2. Aman dan bebas dari kontaminasi zat kimia berbahaya

Kantong plastik hitam banyak digunakan dalam pembagian daging kurban. Sebagian besar kantong plastik ini diproduksi melalui proses daur ulang dari berbagai macam limbah plastik yang riwayat penggunaan sebelumnya tidak jelas. Peneliti Bioplastik dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) menyebutkan bahwa kantong plastik hitam tergolong jenis plastik yang berbahaya karena telah mengalami banyak proses daur ulang dan tercampur zat kimia.
Dilansir laman Waste4change, bahan kimia berbahaya yang terkandung dalam kantong plastik hitam ialah seperti brom, antimony, timbal, kadmium, dan merkuri. Bahan kimia tersebut dapat menyebabkan berbagai macam masalah lingkungan dan kesehatan manusia. Sementara itu, besek bambu merupakan wadah food grade alami karena terbuat dari serat tanaman tanpa campuran bahan kimia berbahaya. Hal ini memastikan daging tetap aman dan sehat untuk dikonsumsi.
3. Menjaga kesegaran dan kualitas daging kurban

Kantong plastik itu punya sifat kedap udara dan cenderung memerangkap panas. Saat daging segar yang baru disembelih langsung dimasukkan ke dalam plastik, suhu hangat daging dan kondisi lembab menciptakan tempat yang ideal bagi bakteri untuk berkembang biak dengan cepat. Oleh karena itu, daging jadi lebih cepat berbau dan kualitasnya berkurang.
Lalu, bagaimana dengan besek bambu? Berbeda dengan kantong plastik yang kedap udara, besek bambu justru sebaliknya. Besek bambu punya celah pada anyamannya. Celah tersebut memungkinkan terjadinya sirkulasi udara. Sirkulasi udara menjaga suhu dalam wadah tetap stabil. Selain itu, hal tersebut juga dapat menjaga daging kurban tetap higienis dan segar lebih lama.
4. Menggerakkan perekonomian warga

Gak hanya berdampak baik dari aspek kelestarian lingkungan dan keamanan, penggunaan besek bambu juga membawa dampak sosial-ekonomi yang besar. Berbeda dengan kantong plastik yang diproduksi massal oleh industri berskala besar, besek bambu adalah produk handmade yang biasanya dikerjakan oleh pelaku UMKM.
Dilansir laman Lembaga Pengkajian Pangan, Obat-obatan, dan Kosmetika (LPPOM), penggunaan besek bambu punya nilai ekonomi dan budaya. Produk anyaman bambu yang dibuat oleh pelaku UMKM lokal bisa meningkatkan pendapatan masyarakat. Selain itu, produk yang dijual juga bisa menghidupkan kembali penggunaan kemasan tradisional yang lebih berkelanjutan. Dengan demikian, penggunaan besek bambu turut andil dalam melestarikan warisan budaya kriya lokal sekaligus mewujudkan menggerakkan perekonomian.
Tren kurban hijau merupakan gerakan positif yang berdampak baik bagi ekologis. Penggunaan wadah alternatif seperti besek bambu dalam tren ini membuktikan bahwa hari raya keagamaan dan kesadaran lingkungan bisa berjalan berdampingan. Yuk, terus jaga bumi ini tetap lestari!



















