Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

5 Buku yang Temanya Mirip “Ayah, Ini Arahnya ke Mana ya?”

5 Buku yang Temanya Mirip “Ayah, Ini Arahnya ke Mana ya?”
Ilustrasi cover buku "Serangkai" & "Berdamai dengan Kehilangan" (kolase foto via Gramedia)
Intinya Sih
  • Lima buku dengan tema serupa 'Ayah, Ini Arahnya ke Mana ya?' menyoroti kisah keluarga, kehilangan, dan proses penyembuhan diri yang dekat dengan pengalaman emosional pembaca.
  • Setiap buku menghadirkan sudut pandang berbeda tentang cara berdamai dengan masa lalu, menerima kehilangan, serta menemukan kembali makna hidup melalui refleksi dan penerimaan diri.
  • Karya-karya ini bukan sekadar bacaan, tetapi ruang untuk memahami luka batin dan perjalanan hidup, mengajak pembaca belajar ikhlas serta melangkah lebih ringan menghadapi kenyataan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Buku bertema seperti “Ayah, Ini Arahnya ke Mana ya?” karya Khoirul Trian, hadir dengan cerita yang sederhana, tapi penuh makna. Tema tentang keluarga, kehilangan arah, luka batin, hingga hubungan dengan orangtua menjadi hal yang sangat dekat dengan kehidupan banyak orang.

Tidak heran jika buku-buku dengan nuansa seperti ini, mudah membuat pembaca merasa ‘terwakili’. Berikut beberapa buku yang tema yang mirip dengan “Ayah, Ini Arahnya ke Mana ya?”.

1. "Serangkai" karya Valerie Patkar

Novel "Serangkai" (cover buku via Gramedia)
Novel "Serangkai" (cover buku via Gramedia)

Novel "Serangkai" menghadirkan cerita yang sangat dekat dengan pengalaman kehilangan, baik itu kehilangan pasangan, keluarga, maupun orang yang berarti dalam hidup. Buku ini terasa begitu relate karena mampu menggambarkan perasaan kosong, rindu, dan kebingungan yang sering muncul setelah ditinggalkan. Di dalamnya juga terdapat banyak pesan yang menguatkan, seolah mengingatkan pembaca bahwa hidup tetap harus berjalan.

Cerita dalam novel ini, disampaikan dengan sudut pandang yang bergantian serta alur waktu yang tidak selalu linier. Hal ini membuat pembaca bisa memahami perasaan tiap tokoh secara lebih dalam. Emosi yang ditampilkan pun terasa hidup—kadang hangat, kadang menyakitkan. Buku ini seakan menegaskan bahwa kehilangan bukan sesuatu yang bisa dilupakan begitu saja, melainkan sesuatu yang akan selalu hidup dalam diri.

Di balik rasa kehilangan itu, ada pesan tentang pentingnya melepaskan beban agar bisa melangkah lebih ringan. Seperti halnya seseorang yang ingin terbang tinggi, ia perlu merelakan hal-hal yang memberatkan. Dengan gaya bahasa yang sederhana namun menyentuh, buku ini cocok dibaca untuk kamu yang sedang belajar menerima dan pulih.

2. "Berdamai dengan Masa Lalu" karya Asti Musman

Novel "Berdamai dengan Masa Lalu" (cover buku via Gramedia)
Novel "Berdamai dengan Masa Lalu" (cover buku via Gramedia)

Buku "Berdamai dengan Masa Lalu" mengajak pembaca untuk secara sadar menghadapi masa lalu yang mungkin masih menyisakan luka. Proses berdamai tidak terjadi begitu saja, melainkan membutuhkan niat dan usaha untuk melepaskan rasa marah, penyesalan, dan hal-hal yang selama ini sulit dilupakan. Buku ini membantu pembaca memahami bahwa menerima kenyataan adalah langkah penting untuk mengurangi beban hidup.

Di dalamnya, pembaca akan menemukan berbagai panduan dan refleksi tentang bagaimana cara memaafkan diri sendiri. Tidak semua hal dalam hidup berjalan sesuai harapan dan itu adalah sesuatu yang perlu diterima. Dengan memahami hal tersebut, seseorang bisa mulai menjalani hidup dengan lebih ringan dan tenang.

Buku ini juga memberikan sudut pandang bahwa kedamaian tidak datang dari luar, tetapi dari dalam diri sendiri. Saat kita berhasil menerima masa lalu, hidup terasa lebih lega dan tidak lagi dibayangi oleh hal-hal yang sudah terjadi.

3. "Memeluk Kehilangan" karya Ferry Setiawan

Novel "Memeluk Kehilangan" (cover buku via Gramedia)
Novel "Memeluk Kehilangan" (cover buku via Gramedia)

Dalam buku "Memeluk Kehilangan", pembaca diajak memahami bahwa setiap pertemuan pasti akan diikuti perpisahan. Kehilangan menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari hidup, meskipun sering kali terasa sangat menyakitkan. Melepaskan sesuatu yang berharga bukanlah hal yang mudah, apalagi jika harus dilakukan secara tiba-tiba.

Melalui buku ini, penulis menawarkan sudut pandang yang berbeda tentang kehilangan. Ada banyak perasaan yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata, hanya bisa dirasakan dalam diam. Buku ini membantu pembaca melihat bahwa perasaan tersebut adalah hal yang wajar dan manusiawi.

Dengan pendekatan yang hangat, buku ini seperti teman yang menemani di masa sulit. Ia tidak memaksa untuk segera kuat, tetapi mengajak pembaca untuk perlahan menerima dan memahami rasa kehilangan itu sendiri.

4. "Lost and Found" karya Nirasha Darusman

Novel "Lost and Found" (cover buku via Gramedia)
Novel "Lost and Found" (cover buku via Gramedia)

Buku "Lost and Found" merupakan kisah nyata perjalanan penulis dalam menghadapi kehilangan yang bertubi-tubi. Dalam kurun waktu beberapa tahun, ia harus merelakan beberapa anggota keluarganya pergi. Pengalaman tersebut membawa pembaca masuk ke dalam proses duka yang panjang dan tidak mudah.

Perjalanan untuk bangkit dari kesedihan digambarkan dengan sangat jujur. Buku ini terbagi dalam beberapa bagian yang menggambarkan tahapan kehilangan, mulai dari rasa kehilangan itu sendiri, proses berduka, hingga akhirnya menemukan kembali makna hidup. Tidak hanya berbagi cerita, buku ini juga memberikan pemahaman tentang cara menghadapi tekanan emosional dan trauma.

Melalui buku ini, pembaca diajak untuk menerima bahwa berduka adalah proses yang wajar dan membutuhkan waktu. Tidak ada jalan instan untuk pulih, tetapi selalu ada cara untuk perlahan bangkit dan melanjutkan hidup.

5. "Berdamai dengan Kehilangan" karya Nur Chasanah

Novel "Berdamai dengan Kehilangan" (cover buku via Gramedia)
Novel "Berdamai dengan Kehilangan" (cover buku via Gramedia)

Buku "Berdamai dengan Kehilangan" mengangkat tema tentang naik turunnya kehidupan yang tidak bisa dihindari. Dalam hidup, ada momen bahagia ketika mendapatkan sesuatu, tetapi juga ada masa sulit saat harus kehilangan. Buku ini mengingatkan bahwa kedua hal tersebut adalah bagian dari perjalanan hidup.

Melalui isi bukunya, pembaca diajak untuk memahami bahwa melanjutkan hidup setelah kehilangan memang tidak mudah. Namun, hidup tetap memiliki nilai yang harus diperjuangkan. Buku ini hadir sebagai teman yang menemani proses tersebut, memberikan penguatan agar pembaca tidak merasa sendirian.

Selain itu, buku ini juga membantu pembaca belajar untuk ikhlas dan menemukan kembali kebahagiaan. Meski luka tidak hilang sepenuhnya, selalu ada cara untuk hidup berdampingan dengan rasa tersebut dan tetap melangkah ke depan.

 

Pada akhirnya, buku-buku dengan tema seperti “Ayah, Ini Arahnya ke Mana ya?” bukan sekadar bacaan, tetapi juga ruang untuk memahami diri sendiri. Dari cerita-cerita sederhana, kita diajak melihat kembali luka, kenangan, dan perjalanan hidup yang mungkin selama ini dihindari.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Febriyanti Revitasari
EditorFebriyanti Revitasari
Follow Us