Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Rupiah Melemah, Generasi Sekarang Belajar Menikmati Hal Kecil
Ilustrasi self care dengan ngopi dan baca buku (pexels.com/cottonbro studio)

Nilai rupiah yang terus melemah pastinya membuat kamu lebih berhati-hati dalam mengatur pengeluaran. Harga kebutuhan sehari-hari yang naik, biaya hiburan semakin mahal, dan rencana besar sering ditunda demi menjaga kondisi finansial tetap aman.

Di tengah situasi ini, generasi sekarang justru menemukan cara baru untuk menikmati hidup. Bukan lewat kemewahan, melainkan dari hal-hal kecil yang sederhana. Ini dianggap sebagai self care baru, karena dapat meningkatkan kesehatan mental maupun fisik.

Lantas, apa dampak pelemahan rupiah terhadap gaya hidup dan kesehatan mental? Lalu, hal kecil apa saja yang mulai dipelajari dan dinikmati generasi sekarang hingga menjadi self care baru? Kita bahas di sini, yuk!

1. Dampak kemerosotan rupiah terhadap gaya hidup

Ilustrasi traveling (pexels.com/Andrea Piacquadio)

Mengutip dari laman Bank Indonesia per Senin, (18/5/2026), nilai tukar dolar rupiah mengalami perlemahan, yakni ke kisaran Rp17.657. Hal ini sangat memengaruhi gaya hidup karena secara langsung meningkatkan biaya hidup, menekan daya beli masyarakat untuk barang impor, hinnga memicu inflasi.

Gaya hidup yang kita jalani sehari-hari turut terdampak, seperti:

  • Biaya traveling dan liburan ke luar negeri, khususnya ke negara yang menggunakan dolar AS.

  • Belanja dan kuliner, di mana fesyen impor menjadi barang yang kita gunakan sehari-hari. Begitu juga bahan baku makanan yang ikut naik, harga pun semakin mahal.

  • Hobi yang membutuhkan perangkat atau langganan berbasis Dolar (seperti langganan software, game, streaming, hingga publikasi jurnal internasional dan kursus online), juga terdampak kenaikan.

  • Karena transaksi energi global menggunakan dolar AS, kenaikan kurs berdampak pada biaya impor minyak mentah. Dampak ikutannya terasa pada membengkaknya biaya transportasi harian dan ongkos distribusi yang membuat harga barang kebutuhan pokok ikut melambung.

2. Pergeseran makna self care; tidak harus mewah, sederhana tapi menenangkan

Ilustrasi self care dengan ngobrol santai dan baca buku (pexels.com/Anastasia Shuraeva)

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), self care (perawatan diri) adalah kemampuan untuk meningkatkan kesehatan, mencegah penyakit, menjaga kesehatan, dan mengatasi penyakit dengan atau tanpa dukungan dari penyedia layanan kesehatan.

Self care sendiri adalah konsep yang luas, mencakup banyak aspek kehidupan, salah satunya gaya hidup. Dalam aspek gaya hidup bisa berarti olahraga dan aktivitas waktu luang yang sehat.

Nah, gaya hidup termasuk self care yang berpengaruh dalam kesehatan mental, karena melakukan aktivitas yang kita sukai. Hal ini mendorong aktivitas yang merangsang otak dan perilaku mental yang sehat.

Self care tidak harus mahal, itu hanya melakukan hal-hal yang disukai. Dan banyak hal yang kita nikmati atau yang membuat kita merasa puas tidak memerlukan biaya apa pun. Misalnya, keluar rumah dan menarik napas dalam-dalam mungkin merupakan tindakan self care paling hebat," kata Marni Amsellem, PhD, seorang psikolog berlisensi di New York, mengutip laman Everyday Health.

Sejalan dengan kondisi rupiah yang merosot, generasi sekarang menggeser pengertian self care bukan pada gaya hidup mewah lagi, melainkan hal-hal kecil yang lebih realistis. Self care hari ini adalah aktivitas sederhana yang menenangkan pikiran tanpa harus menguras dompet.

3. Tren self care baru yang dilakukan generasi sekarang

Ilustrasi self care dengan ngopi di coffee shop (pexels.com/Amar Preciado)

Kondisi rupiah merosot, generasi sekarang belajar menikmati hal kecil karena dapat menghemat pengeluaran, sekaligus membuat hati dan pikiran tenang, serta mengurangi stres, namun harus tetap bermakna. Beberapa tren ini menjadi self care baru yang dilakukan generasi sekarang:

  • Ngopi murah jadi tren self care baru, di mana duduk tenang di coffee street stall dengan secangkir kopi dapat mengurangi stres. Ditambah dengan harga kopi yang affordable jadi solusi hemat pengeluaran di kondisi rupiah yang merosot.

  • Baca buku adalah hobi baru yang banyak digemari lagi oleh generasi sekarang, di mana tren digitalisasi semakin menguat. Baca buku jadi aktivitas self care karena dinilai memberikan ketenangan, mengurangi stres, kecemasan, dan jadi cara untuk 'escape' sementara dari dunia yang sibuk.

  • Ngobrol santai dengan teman adalah koneksi tingkat terkecil yang kebutuhan dasar manusia. Ini jadi self care sederhana karena berpengaruh pada kesehatan mental.

    "Momen-momen kecil kebersamaan sangat penting bagi kita sebagai bagian dari pengalaman manusia. Menemukan tempat untuk terhubung sangat penting untuk kesehatan mental. Koneksi sosial memiliki pengaruh besar dalam mengurangi depresi dan kecemasan," kata Thea Gallagher, PsyD, asisten profesor klinis di Departemen Psikiatri di NYU Langone Health, mengutip dari laman Healthline.

  • Jalan sore menjadi aktivitas mudah dan gratis yang jadi tren self care baru yang menyehatkan fisik dan mental.

    "Banyak praktik self care yang umum telah dikaitkan dengan umur panjang salah satunya olahraga, karena mendukung kesehatan mental dan fisik," kata Ellen K. Baker, PhD, psikolog yang berbasis di Washington DC, mengutip dari laman Everyday Health.

Kondisi rupiah merosot menuntut generasi sekarang untuk belajar menikmati hal kecil namun tetap bermakna. Terbukti hal sederhana ini menjadi self care baru tanpa harus menyenangkan diri dengan gaya hidup mewah. Dengan begitu, apa self care versimu?

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team