Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Kenapa Gen Z Ogah Naik Jabatan? Bukan Tak Suka Tantangan

Kenapa Gen Z Ogah Naik Jabatan? Bukan Tak Suka Tantangan
ilustrasi bekerja (pexels.com/jamies.x. co)
Intinya Sih
  • Generasi Z cenderung menolak kenaikan jabatan karena ingin menjaga keseimbangan hidup dan kesehatan mental agar terhindar dari burnout.
  • Banyak Gen Z bekerja di bidang yang belum sesuai passion, sehingga kurang termotivasi untuk meniti karier lebih tinggi di tempat kerja saat ini.
  • Selain masih idealis dan ingin eksplor pengalaman baru, sebagian Gen Z merasa pendapatan sekarang sudah cukup tanpa perlu tanggung jawab tambahan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Belakangan di media sosial muncul konten-konten yang mempertanyakan kenapa Gen Z enggak naik jabatan? Padahal, pihak kantor sudah membuka peluang ini lebar-lebar. Perusahaan tak mempersoalkan usia mereka yang masih muda.

Justru kemudaan mereka diharapkan dapat menciptakan suasana kerja yang lebih penuh semangat dan optimisme. Kiprah Gen Z ditunggu oleh para seniornya untuk membuat gebrakan baru. Terobosan itu akan membawa perusahaan ke arah yang lebih baik.

Namun, di pihak karyawan dari generasi Z malah seperti kurang antusias. Tak sedikit Gen Z ogah naik jabatan, bahkan menghindari naik ke posisi lebih tinggi di kantor. Apakah benar ini karena etos kerja mereka rendah? Sebelum kasih stempel negatif pada Gen Z, baca dulu berbagai kemungkinan yang memengaruhi keputusan mereka hari ini.

1. Takut peningkatan tanggung jawab dan kesibukan ganggu keseimbangan hidup

bekerja
ilustrasi bekerja (pexels.com/Nhà văn)

Karyawan muda dari generasi Z memiliki kesadaran yang lebih tinggi terkait isu-isu kesehatan mental daripada generasi-generasi di atasnya. Meski bagi sebagian generasi senior, terkadang pandangan Gen Z mengenai mental health terkesan berlebihan. Seakan-akan mereka manja dan hanya ingin hidup enak tanpa mau bekerja keras.

Padahal, pemahaman mereka yang lebih baik seputar psikis manusia sebetulnya sangat positif. Daripada mereka abai akan kesehatan mental hingga terjadi gangguan yang serius. Lebih baik mencegahnya ketimbang mengobati.

Namun, hal ini tak jarang bikin Gen Z berpikir ulang ketika ditawari kenaikan jabatan. Mereka sangat memprioritaskan keseimbangan hidup supaya tidak mengalami burnout. Sementara, naik jabatan yang pasti diiringi dengan pertambahan tanggung jawab serta kesibukan dikhawatirkan merusak life balance tersebut.

2. Bidang kerja belum sesuai keinginan sehingga kurang termotivasi

bekerja
ilustrasi bekerja (pexels.com/Peter Kambey)

Generasi Z yang sekarang membanjiri dunia kerja masih amat muda. Fokus kebanyakan dari mereka begitu lulus kuliah adalah secepatnya bekerja. Biar bisa mandiri dan tidak menganggur lama.

Tak heran kalau mayoritas generasi Z bekerja di tempat-tempat yang sebetulnya tidak sesuai dengan impian mereka. Tentu mereka tetap bersyukur dapat cepat bekerja daripada tidak. Namun, pengembangan karier dengan menduduki posisi yang lebih tinggi di kantor tersebut menjadi kurang menarik.

Mereka masih punya keinginan bekerja di tempat lain secara tetap. Jika mereka beruntung mendapatkannya, di sana Gen Z baru mati-matian meniti karier dari entry level ke posisi-posisi di atasnya. Mereka siap bertempur untuk pekerjaan yang disukai. Namun, ogah menaiki tangga karier di tempat yang menurut mereka belum tepat.

3. Usia muda, masih ingin mencari pengalaman di luar

bekerja
ilustrasi bekerja (pexels.com/Ron Lach)

Pada usia yang masih berkisar pada 20-an, generasi Z ingin mempunyai pengalaman sebanyak mungkin. Keinginan ini sulit terpenuhi hanya dengan mereka bekerja di satu kantor lalu menaiki tangga karier. Dunia ini luas dan Gen Z ingin merasakan hal-hal yang berbeda di luar sana.

Apalagi dengan perkembangan media sosial yang membuat generasi Z sangat sering melihat ke dunia di luar tempat kerjanya sekarang. Fokus mereka melebar. Tidak seperti generasi di atasnya yang perhatiannya lebih terpusat pada mendalami sesuatu.

Daripada cepat-cepat naik jabatan lalu gak leluasa mengeksplorasi pengalaman di luar, lebih baik menolaknya. Generasi Z merasa masih punya banyak kesempatan di kemudian hari. Tidak harus sekarang untuk menduduki jabatan-jabatan penting.

4. Masih idealis dan melihat para atasan suka melanggar aturan

bekerja
ilustrasi bekerja (pexels.com/Heru Dharma)

Siapa pun yang sedang di usia muda pasti cenderung idealis. Apalagi generasi Z yang sangat melek berbagai informasi berkat kemajuan teknologi. Mereka amat kritis dan tidak menyukai hal-hal yang terasa gak semestinya.

Sementara dalam praktik di dunia kerja, para senior yang duduk di posisi-posisi lebih tinggi kerap bermain-main dengan peraturan. Terpenting, segalanya berjalan seperti harapan. Gen Z dengan idealismenya sulit untuk menerima cara-cara ini.

Memang, seandainya mereka mau duduk di posisi lebih tinggi, ada peluang untuk mengubah budaya kerja yang salah. Namun, kemungkinan sebaliknya juga ada. Yaitu, mereka yang terpengaruh oleh cara-cara seniornya karena tekanan.

5. Merasa pendapatan saat ini telah cukup untuk hidup layak

bekerja
ilustrasi bekerja (pexels.com/Domingos Henriques)

Alasan Gen Z ogah naik jabatan yang berikutnya adalah masalah pendapatan. Barangkali sekarang gaji di posisi staf biasa tidak terlalu tinggi. Namun, selama itu sudah dirasa cukup untuk memenuhi berbagai kebutuhan, generasi Z kurang berambisi untuk mendapatkan lebih.

Apalagi demi tambahan gaji yang tak seberapa di jabatan tertentu. Sebagian dari Gen Z masih ingin mendapatkan lebih banyak uang, tapi mungkin bisa dicari di luar kantor. Seperti menjadi kreator konten atau menerima beberapa pekerjaan lepas.

Energi mereka masih dapat digunakan buat hal-hal lain daripada terus memikirkan pekerjaan yang kurang lebih sama di satu kantor. Beda halnya dengan seandainya penghasilan sebagai staf biasa masih rendah, bahkan di bawah upah minimum. Bila posisi lebih tinggi, kasih mereka kenaikan pendapatan yang signifikan, tentu akan diambil.

Bekerja dengan Gen Z butuh kesediaan untuk memahami alasan-alasan di balik pilihan mereka. Generasi Z termasuk pembawa perubahan yang besar. Wajar apabila cara mereka menyikapi berbagai hal cenderung berbeda dari generasi-generasi di atasnya. Termasuk dalam karier.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Debby Utomo
EditorDebby Utomo
Follow Us

Latest in Life

See More