Reza Riyady Pragita dalam acara bersama dengan anak-anak (instagram.com/rezariyadyid)
Seperti yang sudah disinggung sebelumnya, Reza berprofesi sebagai seorang perawat. Ia bekerja di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Klungkung, Kabupaten Klungkung, Bali dalam beberapa tahun ke belakang. Dari pilihan profesinya saja, tercermin jelas kalau Reza adalah sosok yang peduli dengan sesama. Premis tersebut semakin terlihat dari ungkapan-ungkapan Reza ketika melakukan wawancara eksklusif dengan IDN Times Community pada Selasa (21/10/2025).
Reza menyebut kalau motivasinya untuk bergerak demi sesama didasari pada kecintaan terhadap profesi perawat, termasuk nilai-nilai paling dasar yang dimiliki oleh profesi pilihannya tersebut.
“Karena kecintaan saya terhadap profesi keperawatan, dimana filosofi dari keperawatan itu sendiri adalah ‘the light in the darkness’, jadi kalau tahu filosofi awal perawat modern itu adalah (berasal dari sosok) perempuan yang berjalan membawa lampu sentir (yang) menjadi cahaya saat Perang Dunia. Nah, saya tuh pengen jadi sosok seperti itu,” ungkapnya.
Menurut Reza, seorang perawat itu tak hanya bertugas memberi perawatan pada orang-orang yang sakit. Namun, profesi ini juga berkutat pada bagaimana cara agar masyarakat senantiasa menjaga kesehatan. Sebab, pada dasarnya ilmu keperawatan itu memang harus mengamalkan tindakan preventif, promotif, kuratif, dan kolaboratif secara utuh di tempat mereka bekerja.
Masalahnya, tak semua masyarakat mampu untuk menjaga pola hidup bersih dan sehat. Penyebabnya pun bukan karena mereka abai atau tak tahu soal menjaga kesehatan, tetapi lebih pada masalah akses menuju kebutuhan dasar—dalam hal ini air—yang masih sulit dijangkau dan sangat terbatas.
Tak hanya dari profesi, Reza turut melakukan refleksi terhadap realitas yang terjadi di sekitar. Ia membayangkan bagaimana bisa Provinsi Bali yang terkenal dengan pariwisata kelas atas itu masih memiliki tinta merah dalam urusan paling dasar bagi manusia, yakni akses terhadap air yang layak. Ada pula bayangan di dalam benak Reza kalau hal tersebut bisa saja menimpa keluarganya pada realitas yang berbeda. Alasan itu ternyata makin mengetuk hati Reza untuk melakukan aksi nyata demi mengatasi masalah yang ada.
Akhirnya, pada tahun 2019, Reza yang sedang jalan-jalan di Bali bagian timur. Ketika sampai ke sebuah desa bernama Desa Ban yang ada di Kecamatan Kubu, Kabupaten Karangasem, dirinya melihat kondisi pemukiman masyarakat yang rusak akibat erupsi Gunung Agung. Dilansir Pemerintah Kabupaten Karangasem, Desa Ban memang terletak tepat di tengah-tengah tiga gunung berbeda, yakni Gunung Agung, Gunung Abang, dan Gunung Batur.
Oleh karena letaknya ini, Desa Ban jadi salah satu area pemukiman yang paling terdampak kalau erupsi gunung terjadi, terutama dari Gunung Agung. Reza melihat sendiri kondisi desa pascaerupsi yang makin memantapkan hati untuk melakukan proyek yang dapat membawa manfaat bagi orang-orang yang membutuhkan.