Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Secondary Trauma: Saat Membela Idola Berubah Jadi Menyerang Korban
Ilustrasi seorang aktris (pexels.com/Ron Lach)
  • Secondary trauma dapat muncul ketika seseorang terus terpapar cerita traumatis dan konflik di media sosial, memicu kecemasan, kemarahan, atau pikiran yang sulit berhenti.
  • Keterikatan berlebihan pada idola dapat mengubah dukungan menjadi fanatisme, termasuk serangan, penghinaan, doxing, dan pembungkaman terhadap pihak yang menyampaikan tuduhan.
  • Korban menghadapi tekanan tambahan saat ceritanya diragukan atau diserang massa; dukungan pada idola perlu disertai verifikasi fakta, batas emosional, dan empati.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Media sosial membuat hubungan antara penggemar dan figur publik terasa semakin dekat. Ketika seorang idola menghadapi tuduhan, konflik, atau kasus tertentu, para penggemar sering merasa terdorong untuk memberikan dukungan. Membela seseorang yang dikagumi sebenarnya bukan sesuatu yang keliru. Namun, masalah muncul ketika dukungan berubah menjadi serangan terhadap pihak lain, termasuk korban atau orang yang mengaku mengalami kerugian.

Dalam situasi seperti ini, ruang digital dapat menjadi tempat yang sangat melelahkan secara emosional. Korban bukan hanya harus menghadapi persoalan yang sedang dialaminya, tetapi juga komentar negatif, tuduhan berbohong, doxing, perundungan, hingga tekanan dari banyak orang. Di sisi lain, penggemar yang terus-menerus mengikuti konflik juga dapat mengalami tekanan psikologis karena terlalu larut dalam kasus tersebut. Fenomena inilah yang dapat dikaitkan dengan konsep secondary trauma, meskipun istilah ini perlu dibedakan dari diagnosis gangguan mental tertentu.

1. Apa Itu secondary trauma?

Ilustrasi mengalami trauma (pexels.com/MART PRODUCTION)

Secondary trauma atau secondary traumatic stress (STS) secara umum merujuk pada munculnya respons stres traumatis pada seseorang karena terpapar pengalaman traumatis orang lain. Fenomena ini lebih sering dibahas dalam konteks profesional seperti tenaga kesehatan, pekerja sosial, konselor, atau orang yang sering mendampingi korban. Namun, paparan cerita traumatis melalui media sosial juga dapat membuat seseorang mengalami tekanan emosional yang kuat, meskipun ia tidak mengalami peristiwa tersebut secara langsung.

Di media sosial, seseorang dapat berulang kali melihat kesaksian korban, rekaman kejadian, komentar penuh kemarahan, atau perdebatan tanpa akhir. Paparan yang terus-menerus dapat membuat emosi ikut terseret. Seseorang mungkin menjadi cemas, marah, sulit berhenti memikirkan kasus tersebut, atau merasa seolah-olah harus terus melakukan sesuatu untuk menyelesaikannya.

2. Ketika membela idola menjadi fanatisme

Ilustrasi seorang fans (pexels.com/Yan Krukau)

Mendukung idola biasanya merupakan bagian dari pengalaman menjadi penggemar. Namun, keterikatan emosional yang sangat kuat dapat membuat seseorang sulit menerima informasi yang bertentangan dengan citra positif tentang idolanya. Ketika muncul tuduhan, sebagian penggemar mungkin langsung menganggapnya sebagai serangan terhadap sosok yang mereka kagumi.

Pada tahap tertentu, pembelaan dapat berubah menjadi perilaku agresif. Misalnya, penggemar menyerang pihak yang menyampaikan tuduhan, menyebarkan informasi pribadi, melakukan penghinaan, atau berusaha membuat suara korban tenggelam. Identitas kelompok juga dapat memperkuat perilaku tersebut karena seseorang merasa harus membela “kelompoknya” agar tidak dianggap sebagai pengkhianat.

3. Mengapa korban bisa mengalami tekanan yang lebih berat?

Ilustrasi mengalami tekanan (pexels.com/Alex Green)

Bayangkan seseorang sudah cukup kesulitan menghadapi pengalaman buruk, tetapi kemudian harus berhadapan dengan ribuan komentar yang mempertanyakan ceritanya. Situasi tersebut dapat membuat korban merasa tidak dipercaya, disalahkan, atau bahkan dipermalukan di ruang publik.

Pembungkaman digital juga dapat membuat korban ragu untuk berbicara. Ketika setiap pernyataan langsung dibalas dengan serangan, seseorang mungkin memilih diam meskipun sebenarnya membutuhkan dukungan. Karena itu, istilah “victim blaming” atau menyalahkan korban menjadi penting untuk dipahami. Kritik terhadap suatu cerita boleh saja dilakukan secara hati-hati, tetapi menyudutkan seseorang hanya karena ia menyampaikan pengalaman tidak membantu proses pencarian kebenaran.

4. Secondary trauma bisa muncul dari paparan berulang

Ilustrasi mengalami trauma berulang (pexels.com/https://kaboompics.com/)

Salah satu hal yang sering tidak disadari adalah bahwa konsumsi konten konflik secara terus-menerus dapat memengaruhi kondisi emosional penonton. Algoritma media sosial juga dapat menciptakan siklus paparan: seseorang melihat satu konten, kemudian mendapatkan rekomendasi konten serupa, mengikuti perdebatan, membaca komentar, dan akhirnya kembali mencari informasi tentang kasus tersebut.

Jika berlangsung terlalu lama, seseorang mungkin merasa sulit berhenti memikirkan kasus tersebut. Ia menjadi mudah marah ketika melihat pendapat berbeda, terus memeriksa perkembangan terbaru, atau merasa harus selalu ikut berkomentar. Bukan berarti setiap orang yang mengikuti kasus akan mengalami trauma, tetapi paparan berulang terhadap konten traumatis atau konflik intens memang dapat meningkatkan beban emosional.

5. Membela idola tidak harus menyerang korban

Ilustrasi peduli terhadap orang lain (pexels.com/César O'neill)

Ada perbedaan besar antara memberikan dukungan dan melakukan serangan. Penggemar dapat mengatakan bahwa mereka menunggu proses hukum, meminta bukti yang jelas, atau mendukung idolanya untuk mendapatkan pendampingan yang tepat tanpa harus menghina pihak lain.

Prinsip sederhananya adalah membela seseorang tidak mengharuskan kita menjatuhkan orang lain. Ketika fakta belum jelas, posisi yang lebih aman adalah menahan kesimpulan, menghindari penyebaran informasi pribadi, dan tidak ikut memperbesar serangan massa. Sikap kritis tetap bisa dilakukan tanpa kehilangan empati.

Membela idola bukanlah sesuatu yang salah. Yang perlu diperhatikan adalah cara kita membela. Dukungan seharusnya tidak berubah menjadi penghinaan, ancaman, penyebaran data pribadi, atau upaya membungkam orang yang menyampaikan pengalaman.

Di tengah derasnya informasi media sosial, kemampuan untuk berhenti, memeriksa fakta, menjaga batas emosional, dan tetap memperlakukan orang lain dengan manusiawi menjadi semakin penting. Kita boleh menjadi penggemar yang loyal tanpa kehilangan empati. Sebab, membela idola seharusnya tidak berarti mengorbankan korban, dan menunjukkan kepedulian tidak harus dilakukan dengan melukai orang lain.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article