Media sosial membuat hubungan antara penggemar dan figur publik terasa semakin dekat. Ketika seorang idola menghadapi tuduhan, konflik, atau kasus tertentu, para penggemar sering merasa terdorong untuk memberikan dukungan. Membela seseorang yang dikagumi sebenarnya bukan sesuatu yang keliru. Namun, masalah muncul ketika dukungan berubah menjadi serangan terhadap pihak lain, termasuk korban atau orang yang mengaku mengalami kerugian.
Dalam situasi seperti ini, ruang digital dapat menjadi tempat yang sangat melelahkan secara emosional. Korban bukan hanya harus menghadapi persoalan yang sedang dialaminya, tetapi juga komentar negatif, tuduhan berbohong, doxing, perundungan, hingga tekanan dari banyak orang. Di sisi lain, penggemar yang terus-menerus mengikuti konflik juga dapat mengalami tekanan psikologis karena terlalu larut dalam kasus tersebut. Fenomena inilah yang dapat dikaitkan dengan konsep secondary trauma, meskipun istilah ini perlu dibedakan dari diagnosis gangguan mental tertentu.
