ilustrasi sapi sedang digembala (pexels.com/Quang Nguyen Vinh)
Kalau pet attachment secara teoretis lahir dari proses merawat hewan peliharaan dan interaksi yang terjalin berulang-ulang, bagaimana dengan perasaan sedih yang mendadak muncul saat melihat hewan kurban yang bahkan bukan milik kita? Nah, jawabannya karena empati manusia. Pernah dengar istilah anthropomorphism? Anthropomorphism adalah kecenderungan manusia memberi sifat, emosi, atau pikiran layaknya manusia kepada makhluk hidup selain manusia, termasuk hewan. Dilansir Forest Digest, sebagai manusia, kita sering membayangkan hewan berperilaku seperti manusia. Tujuannya agar kita bisa memahami mereka dengan cara kita sendiri, dengan harapan kita akan tergerak untuk menghargainya.
Efek anthropomorphism ini adalah timbulnya rasa empati. Ketika melihat hewan kurban mengeluarkan air mata atau mendengar lenguhannya, otakmu secara otomatis mengartikannya sebagai rasa takut, sedih, ataupun pasrah, sama seperti yang akan kamu rasakan kalau ada di posisi terancam. Kepekaan inilah yang membuatmu merasa sedih dan sesak, walaupun kamu baru pertama kali melihat hewan itu.
Jadi, wajar kok kalau kamu merasa sedih melihat hewan kurban. Hal itu gak berarti kamu lemah atau aneh, ya. Kalau hewan kurban itu adalah hewan yang sudah lama kamu rawat, kamu mengalami pet attachment. Kalaupun kamu baru pertama kali melihat hewan itu, bisa saja ada efek anthropomorphism dan kamu punya empati yang kuat.