Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Kenapa Seseorang Masih Berbagi meski Hidupnya Pas-pasan?
ilustrasi menerima pemberian (pexels.com/Firman Marek_Brew)
  • Orang yang hidup pas-pasan tetap berbagi karena menyadari ada pihak lain yang lebih kesulitan dan ingin membantu sesuai kemampuan.
  • Ajaran sejak kecil, kebiasaan hidup sederhana, serta keyakinan kebaikan sebagai tabungan akhirat mendorong mereka konsisten memberi.
  • Berbagi memberi kepuasan emosional, menghangatkan relasi, dan tidak perlu menunggu kaya, tetapi tetap harus mempertimbangkan kebutuhan serta kemampuan pribadi.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Kebaikan apa yang pernah diterima olehmu dari orang lain, padahal mereka tidak kaya harta? Mungkin kamu pernah diberi makanan gratis oleh teman yang kehidupannya lebih sederhana daripada dirimu. Sebungkus nasi kuning di pagi hari, bingkisan meski kamu gak lagi ulang tahun, dan sebagainya. Atau, dirimu pernah bertamu ke rumah yang sangat sederhana tetapi dijamu habis-habisan. Semua cadangan makanan keluarga itu dikeluarkan demi menghormatimu. Belum lagi oleh-olehnya.

Rasanya kurang masuk akal. Kenapa orang yang secara ekonomi tidak berlebih malah seroyal itu? Sebungkus nasi kuning memang gak sama dengan hadiah jam tangan mewah. Namun, orang sudah merelakan sebagian uangnya untuk membelinya untukmu. Di bawah ini adalah hal-hal yang mendasari tindakan seseorang masih berbagi meski hidupnya pas-pasan. Bisa dijadikan contoh dan panutan bagi semua orang.

1. Tahu masih banyak orang yang lebih susah darinya

ilustrasi memberikan uang (pexels.com/Vietnam Hidden Light)

Ungkapan di atas langit masih ada langit tidak hanya berlaku untuk kondisi hidup orang lain yang di atasmu. Dalam hal kehidupan pas-pasan, juga masih ada orang yang kehidupannya lebih susah lagi. Misalnya, satu keluarga masih bisa makan 3 kali sehari sekalipun lauknya tahu, tempe, dan sayur.

Di luar sana terdapat keluarga yang memangkas jatah makan menjadi dua, bahkan sekali sehari saking uangnya gak ada. Itu pun menunya hanya singkong rebus atau nasi dan garam tanpa tambahan apa pun. Ini adalah realitas di masyarakat yang bikin miris, tapi nyatanya masih ada. Orang yang merasa hidupnya sedikit lebih baik berusaha membantu semampu mereka.

2. Ajaran yang sudah mendarah daging

ilustrasi interaksi masyarakat (pexels.com/febri visual)

Apa yang diajarkan pada seseorang, apalagi sejak dia kecil, akan sangat membekas sampai masa dewasanya. Ini seperti tanaman yang diberi pupuk terbaik juga bakal tumbuh subur dan rajin berbunga atau berbuah. Tambahan ajaran disampaikan secara konsisten oleh orang yang dinilai penting dalam hidupnya.

Seperti orangtua, guru favorit, tokoh besar, dan sebagainya. Ajaran itu mengendap dalam diri bahkan menjadi penggerak setiap tindakannya. Sulit baginya untuk berhenti berbagi hanya karena kondisi hidup yang tidak berkelimpahan. Ada rasa bersalah apabila mereka tak menjalankan ajaran tersebut. Kecuali, hidupnya benar-benar di titik terendah.

3. Merasa dapat reward berupa materi dan nonmateri

ilustrasi pedagang keliling (pexels.com/hartono subagio)

Ketika seseorang makin bersemangat menjalankan kebaikan karena memperoleh reward, bukan berarti dia pasti tidak tulus dan ikhlas. Sudah menjadi sifat manusia secara alami untuk lebih termotivasi ketika memperoleh hasil yang menyenangkan atas usahanya. Ganjaran materi atas tindakan berbaginya, misalnya, penerima di kemudian hari juga menjadi suka memberi padanya.

Meski seseorang gak mengharapkan balasan, aksi reaksi begini membuat relasi lebih hangat. Kerap kali balasan materi juga tak secara langsung datang dari orang yang pernah diberi sesuatu olehnya. Namun, ia merasakan rezekinya menjadi lebih lancar setelah rutin berbagi.

Imbalan nonmateri tak kalah bikin semangat. Bukan ucapan terima kasih yang paling dinantikan. Akan tetapi, orang yang berbagi melihat raut semringah penerima pun sudah merasa sangat puas. Rantai kebahagiaan di antara pemberi dan penerima seperti tak putus-putus.

4. Nunggu kaya bukan cuma susah, tapi bisa juga bikin lupa

ilustrasi berbagi cimol (pexels.com/May umaran)

Semua orang pasti ingin hidup lebih sejahtera, bahkan kalau bisa di level kaya raya. Bila hidup sudah berlimpah materi, apa pun yang diinginkan gampang tercapai. Mereka juga dapat berbagi lebih sering serta lebih banyak.

Akan tetapi, perubahan drastis dari hidup pas-pasan menjadi kaya raya mendadak nyaris mustahil. Ini bukan negeri dongeng. Bahkan kerja keras pun memerlukan proses yang panjang.

Kalau sekadar untuk mereka berbagi menunggu kaya dulu, takutnya gak pernah kesampaian. Bila pun akhirnya mereka benar-benar kaya boleh jadi lupa soal berbagi. Rasanya kekayaan masih saja kurang. Atau, mereka justru mulai suka menyalahkan orang yang kurang giat bekerja sehingga hidupnya susah.

5. Sudah terbiasa hidup sederhana

ilustrasi pedagang kecil (pexels.com/Faiq Mujahidul M.)

Kondisi psikis orang yang telah terbiasa hidup dalam kesederhanaan berbeda dengan orang yang tadinya kaya sekali lalu jatuh. Bertahun-tahun mereka hidup dalam perekonomian keluarga yang pas-pasan, yang menunjukkan bahwa ini bukan kondisi ideal. Namun, ini tak lantas berarti kondisi terburuk.

Mereka tahu betul celah-celah dalam hidup yang dapat dimanfaatkan untuk tetap berbagi kepada sesama. Hal tersebut tidak terasa sebagai beban tambahan dalam pemenuhan kebutuhan sehari-hari mereka. Contohnya, mereka punya sebatang pohon pisang.

Saat pohon itu berbuah setandan, satu keluarga hanya kuat makan beberapa sisir. Selebihnya lebih baik dibagikan ke tetangga daripada mubazir. Apalagi, jika pisangnya dijual pun, harganya terlalu rendah atau kurang diminati. Mereka merasa gak perlu mengeluarkan ongkos lebih untuk sekadar berbagi pisang dari pohon yang tidak dirawat secara khusus.

6. Keyakinan kebaikannya menjadi tabungan di hari akhir

ilustrasi memberi dan menerima (pexels.com/Leonard Antasari)

Ajaran yang diterima sejak kecil menjadi pendorong bagi seseorang untuk berbuat baik. Sementara itu, keyakinan akan tabungan amal di hari akhir menarik mereka untuk konsisten berbagi bagaimanapun kehidupannya saat ini. Bila kedua hal di atas bertemu, orang tambah semangat dalam berderma.

Tidak semua orang benar-benar meyakini setiap kebaikan mereka bakal diperhitungkan di hari akhir. Apalagi, aksi berbagi memerlukan kerelaan yang besar untuk melepas sebagian kepemilikan buat orang lain. Tanpa keyakinan bahwa tindakan tersebut penting sebagai tabungan di kehidupan setelah kematian, orang pasti malas.

Sikap pelit akan keluar. Apalagi, kondisi keuangan yang tipis dapat menjadi alasan manusiawi untuk mereka gak berbagi dulu. Namun, orang yang yakin bakal tetap melakukannya karena sadar hidup bukan hanya di dunia yang fana ini.

Tindakan seseorang masih berbagi meski hidupnya pas-pasan pantas untuk dijadikan teladan. Terutama untuk kita yang masih sering dikuasai sifat pelit. Akan tetapi, orang juga dianjurkan untuk tetap memperhitungkan kemampuan dan kebutuhan diri dalam berbagi. Jangan sampai terlalu memaksakan diri lalu membahayakan keuangan pribadi.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article