Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

6 Kebiasaan yang Dapat Merusak Self Growth dan Kebahagiaan

6 Kebiasaan yang Dapat Merusak Self Growth dan Kebahagiaan
ilustrasi single women (unsplash.com/anthonytran)

Pada hakikatnya, semua orang menginginkan kebahagiaan dalam hidup. Namun, seringkali, kita tanpa sadar terjerat dalam kebiasaan-kebiasaan yang merugikan, menghancurkan potensi pertumbuhan diri dan kesejahteraan emosional. 

Jika tak ingin pertumbuhan diri dan kebahagiaanmu lama-lama dirusak oleh hal-hal yang tidak disadari, perlu untuk mencari tahu dan merenungi kebiasaan apa saja yang dapat merusak self growth dan kebahagiaan. Berikut ini kebiasaan yang dapat merusak self growth dan kebahagiaan, langsung scroll!

1. Dendam

ilustrasi wanita duduk menyendiri (pexels.com/129684048)
ilustrasi wanita duduk menyendiri (pexels.com/129684048)

Sebagai perasaan yang menahan kemarahan dan kebencian terhadap seseorang, dendam dapat merusak kebahagiaan dan self growth. Dilansir Verywell Mind, Sarah Vanbuskirk, seorang penulis dan editor, menuliskan, dendam tidak hanya mempengaruhi kesehatan mental yang menyebabkan emosi negatif berkepanjangan, tetapi juga berdampak negatif pada kesehatan fisik, termasuk jantung, pencernaan, dan sistem kekebalan tubuh.

Selain itu, dendam dapat menghambat perkembangan pribadi dengan membuat pikiran tetap dalam lingkaran ketidakpuasan dan ketidakbahagiaan. Hal ini tentu dapat menghalangi potensi pertumbuhan diri. Oleh karena itu, penting untuk belajar melepaskan dendam guna mencapai kesejahteraan emosional dan pertumbuhan pribadi yang positif.

2. Membandingkan diri dengan orang lain

ilustrasi menghibur teman yang sedih (pexels.com/karolinagrabowska)
ilustrasi menghibur teman yang sedih (pexels.com/karolinagrabowska)

Membandingkan diri dengan orang lain seringkali menciptakan rasa tidak pantas dan rendah diri. Ini terjadi karena diri lebih fokus pada perbedaan dengan orang lain yang mungkin sebenarnya belum tentu begitu adanya. Ini menghambat pengembangan diri karena energi dan perhatian terpusat pada ketidakpuasan terhadap diri sendiri. 

"Alasan kita berjuang dengan rasa insecure adalah karena kita membandingkan proses di balik layar diri dengan sorotan terbaik milik orang lain," kata Steve Furtick, seorang pastor, dilansir HufPost.

Terlalu banyak waktu dan energi yang dihabiskan untuk membandingkan diri dengan orang lain dapat mengalihkan fokus dari pengembangan potensi dan tujuan pribadi, serta menghambat pertumbuhan yang positif. Oleh karena itu, untuk mencapai pertumbuhan diri dan kebahagiaan, penting untuk fokus mengembangkan diri, nilai-nilai, dan tujuan tanpa terpengaruh oleh standar dari luar.

3. Putus asa

ilustrasi wanita terbaring (unsplash.com/yrss)
ilustrasi wanita terbaring (unsplash.com/yrss)

Kehilangan harapan seringkali dihubungkan dengan kondisi mental yang disebut depresi. Depresi adalah gangguan suasana hati yang dapat mencakup perasaan sedih yang mendalam, kehilangan minat atau kegembiraan dalam aktivitas, tidak berdaya dan kehilangan harapan.

"Putus asa dan perasaan tidak berdaya adalah sepasang. Saya tidak merasa putus asa kecuali saya juga merasa tidak berdaya," kata Kim West, seorang konselor pastoral klinis dari Payson, Arizona, dilansir Psych Central.

Putus asa dapat memberikan dampak negatif yang mendalam pada pertumbuhan pribadi dan kebahagiaan. Secara kognitif, pikiran yang penuh kekalutan, keputusasaan, dan ketidakberdayaan dapat merintangi kemampuan individu untuk melihat potensi dan peluang untuk berkembang.

Komponen emosional dari putus asa, seperti kesedihan berlebihan dan perasaan terisolasi, dapat menghambat hubungan positif dengan diri sendiri dan orang lain, serta menghalangi proses pengembangan pribadi yang sehat. Selain itu, dampak biologis dari putus asa, dapat merugikan kesehatan fisik dan mental secara keseluruhan.

4. Stagnasi kreatif

ilustrasi wanita berada depan laptop (pexels.com/olly)
ilustrasi wanita berada depan laptop (pexels.com/olly)

Menurut Sean Grover, L.C.S.W., seorang psikoterapis dan penulis, dilansir Psychology Today, stagnasi kreatif menjadi salah satu perusak self growth dan kebahagiaan. Mungkin kamu pernah mengalami stagnasi kreatif, yaitu keadaan di mana seseorang mengalami kurangnya perkembangan atau inovasi dalam pikiran dan ekspresi kreatif.

Stagnasi kreatif dapat terjadi ketika seseorang merasa terjebak dalam rutinitas atau kebiasaan yang sama tanpa upaya untuk mengeksplorasi atau mengembangkan ide-ide baru. Stagnasi kreatif dapat muncul di berbagai area, termasuk pekerjaan, seni, penulisan, atau kehidupan sehari-hari.

Jika seseorang mengalami proses kreatif yang mati atau kurang aktif, ini dapat mengurangi tingkat kepuasan dan kesejahteraan emosional yang dimiliki. Aktivitas kreatif yang memuaskan dapat memberikan kegembiraan dan kebahagiaan, dan stagnasi kreatif dapat menjadi penghambat kebahagiaan tersebut.

5. Tidak merawat diri

ilustrasi wanita bermain handphone (pexels.com/olly)
ilustrasi wanita bermain handphone (pexels.com/olly)

Penting untuk menyadari bahwa perawatan diri adalah investasi dalam pertumbuhan pribadi dan pencapaian kebahagiaan jangka panjang. Jika seseorang mengabaikan kebutuhan dan kesejahteraan pribadinya, ini bisa berdampak negatif pada berbagai aspek kehidupan. Contoh, penurunan kesehatan fisik, peningkatan stres atau gangguan mental, kelelahan, dan menurunnya kualitas hidup secara umum.

Melansir Verywell Mind, Elizabeth Scott, Ph.D, seorang pelatih kesehatan dan penulis, menjelaskan, dalam praktik perawatan diri, kita secara sadar terlibat dalam strategi-strategi yang mendukung kesehatan dan meningkatkan kesejahteraan fisik, mental, dan emosional. Ini mencakup seperti memastikan tidur yang memadai, menghirup udara segar, dan meluangkan waktu untuk melakukan aktivitas yang menyenangkan. 

Scott juga menjelaskan, ketika memberi perhatian pada kebutuhan dasar tubuh dan pikiran, kita mempersiapkan diri untuk menjalani kehidupan dengan lebih baik. Sayangnya, seringkali perawatan diri dianggap sebagai kemewahan yang dapat diabaikan, padahal hal ini esensial untuk mencegah kelelahan, kewalahan, dan ketidakmampuan menghadapi tantangan.

6. Mengisolasi diri

ilustrasi single women (unsplash.com/anthonytran)
ilustrasi single women (unsplash.com/anthonytran)

Ketika seseorang memilih untuk menjauh dan menghabiskan lebih banyak waktu sendirian, terutama di usia tua, ini dapat meningkatkan risiko kesepian dan isolasi sosial. Dilansir National Institute on Aging, studi menunjukkan bahwa kesepian dan isolasi sosial berkaitan dengan peningkatan risiko masalah kesehatan, seperti penyakit jantung, depresi, dan penurunan kognitif. 

Kesepian dan isolasi sosial juga dapat memengaruhi kesehatan mental dan emosional, menciptakan rasa sakit emosional yang dapat menyebabkan stres kronis dan peradangan dalam tubuh. Oleh karena itu, penting untuk menyadari risiko isolasi diri dan mengambil langkah-langkah untuk tetap terhubung dengan orang lain, membangun hubungan sosial yang mendukung pertumbuhan diri dan menciptakan kebahagiaan dalam kehidupan sehari-hari.

"Tanpa dorongan dari keluarga atau teman, orang yang kesepian mungkin melibatkan diri dalam kebiasaan tidak sehat. Selain itu, kesepian ditemukan meningkatkan stres, menghambat tidur, dan merugikan tubuh. Kesepian juga dapat meningkatkan depresi atau kecemasan," kata Nicole Valtorta, PhD, seorang ahli epidemiologi di Newcastle University, dilansir American Psychological Association.

Dalam mengejar self growth dan kebahagiaan, penting untuk menyadari bahwa beberapa kebiasaan dapat menjadi hambatan yang serius. Menyadari dampak negatif dari kebiasaan yang merugikan diri sendiri ini, kita dapat mencari cara untuk menghindari hal-hal yang merugikan tersebut untuk mencapai pertumbuhan pribadi dan kebahagiaan jangka panjang.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Pinka Wima Wima
EditorPinka Wima Wima
Follow Us