ilustrasi seseorang cemas soa body image (pexels.com/MART PRODUCTION)
Media sosial memainkan peran besar dalam membentuk persepsi individu dengan menampilkan citra-citra ideal yang sering kali tidak mencerminkan realitas sebenarnya. Kesuksesan, ketenaran, hingga body image didefinisikan melalui standar yang tidak berdasar, namun kerap dipamerkan seolah itu adalah pencapaian wajar. Hal ini mendorong individu untuk mencari validasi melalui pencapaian serupa.
Sayangnya, standar sosial yang dibangun dari persepsi segelintir orang ini kemudian dijadikan tolak ukur umum yang digeneralisasi. Akibatnya, banyak individu merasa tertinggal, tidak cukup baik, atau bahkan gagal, hanya karena terus membandingkan diri dengan versi terbaik orang lain yang mereka lihat di layar ponsel.
Hersa menjelaskan, "Di era sosial media banyak terbangun ekspektasi-ekspektasi yang kurang realistis. Se-simpel dari segi body image misalnya, bahwa tubuh yang dianggap positif, yang mendapat like banyak itu adalah tubuh yang seperti ini misalnya. Atau kalau melihat di LinkedIn, orang ini kariernya tuh sukses banget berarti kehidupan tuh memang perlu sukses kayak gitu, misalnya. Jadi, ada ekspektasi-ekspektasi tertentu yang kadang tuh kurang manusiawi juga karena apa yang orang lihat di sosial media itu paling beberapa persen dari kehidupan aslinya gitu kan. Sehingga, ada ekspektasi yang kurang realistis dan ada pressure juga untuk bisa memenuhi ekspektasi tersebut".
"Pressure-pressure itu yang akhirnya bikin kepercayaan dirinya menurun, kemudian merasa kurang terus atau merasa frustrated karena mengejar sebuah ekspektasi yang akhirnya sebenarnya gak manusiawi dan gak realistis juga," tambahnya.
Ekspektasi yang terbentuk dari media sosial sering kali tidak realistis. Kita lupa bahwa yang ditampilkan hanyalah sebagian kecil dari keseluruhan hidup seseorang. Akan tetapi, memiliki efek psikologis yang nyata, seperti kepercayaan diri menurun, terjebak dalam ambisi mengikuti kesuksesan orang lain, hingga mengalami frustasi karena berusaha mengejar gambaran hidup ideal milik orang lain, tanpa mengukur kemampuan pribadi. Hersa menekankan pentingnya melakukan reality check agar tak terpengaruh tren semacam ini.
Hersa menjelaskan bagaimana generasi muda dapat merespons isu ini demi kestabilan emosinya, "Penting banget untuk reality check, dalam arti kalau ada hal yang kita serap dari sosial media, sebagai manusia kan sebenarnya kita punya critical thinking dan kita bisa mencoba men-challenge itu. Sebenarnya seberapa mungkin sih terjadi di kehidupan nyata? Ada gak sih orang sekitar saya yang akhirnya kayak gini? Ini tuh sebuah persona yang realistis atau enggak sih? Jadi dalam menanggapi informasi-informasi yang ada di luar sana, penting banget untuk kita punya critical thinking. Gak menelan informasi itu bulat-bulat, tapi terus mungkin men-challenge, memperbanyak wawasan kita dengan misalnya jurnal-jurnal ilmiah, wawasan-wawasan yang sifatnya ilmiah juga tentang kesehatan mental. Jadi kita ada layer-nya gitu dalam mencerap informasi dari luar".