Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
6 Tanda Kamu Menjadikan Belanja sebagai Pelarian Stres
ilustrasi perempuan sedang berbelanja (unsplash.com/Arturo Rey)
  • Artikel menjelaskan bagaimana kebiasaan belanja bisa berubah menjadi pelarian dari stres ketika dilakukan untuk menghindari emosi negatif, bukan karena kebutuhan nyata.
  • Disebutkan enam tanda utama, seperti belanja impulsif saat stres, rasa senang hanya saat membeli, hingga menyembunyikan pengeluaran dari orang terdekat.
  • Teks menekankan pentingnya mengenali pola belanja emosional agar hubungan dengan uang dan emosi tetap sehat serta mencari cara lain untuk mengelola stres.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Belanja memang bisa membuat suasana hati membaik. Melihat barang yang lucu, memasukkannya ke keranjang, lalu menunggu paket datang sering kali memberikan rasa senang yang sulit dijelaskan. Tidak heran kalau banyak orang merasa lebih baik setelah membeli sesuatu, meski sebenarnya barang tersebut tidak terlalu dibutuhkan.

Masalahnya, belanja bisa berubah dari aktivitas biasa menjadi cara untuk melarikan diri dari stres. Ketika setiap emosi negatif selalu direspons dengan membuka aplikasi belanja atau pergi ke pusat perbelanjaan, ada kemungkinan kamu mulai menggunakan belanja sebagai mekanisme coping.

Bukan berarti setiap orang yang suka belanja pasti bermasalah. Namun, ada beberapa tanda yang bisa menunjukkan bahwa hubunganmu dengan aktivitas belanja mungkin sudah lebih emosional daripada praktis.

1. Kamu langsung membuka aplikasi belanja saat suasana hati sedang buruk

ilustrasi belanja online (pexels.com/AS Photography)

Baru dimarahi atasan, bertengkar dengan teman, debat dengan pasangan, atau merasa hari berjalan sangat melelahkan, lalu tanpa sadar tangan langsung membuka aplikasi belanja online. Kalau ini terjadi sesekali, mungkin tidak masalah. Namun, jika hampir setiap perasaan sedih, kesal, cemas, atau bosan selalu berujung pada aktivitas belanja, bisa jadi kamu sedang menggunakan belanja sebagai pengalih perhatian dari emosi yang tidak nyaman.

Belanja memang bisa memberikan rasa senang untuk sementara waktu. Hal ini terjadi karena otak melepaskan hormon yang berkaitan dengan perasaan senang dan penghargaan. Sayangnya, efek tersebut biasanya tidak bertahan lama.

2. Rasa senangnya lebih besar saat membeli dibandingkan saat memiliki barangnya

ilustrasi belanja online (pexels.com/Negative Space)

Pernah merasa sangat antusias saat checkout, tetapi beberapa hari setelah barang datang justru biasa saja? Banyak orang yang menggunakan belanja sebagai pelarian ternyata lebih menikmati proses membeli dibandingkan dengan manfaat dari barang yang dibeli.

Sensasi berburu diskon, menunggu paket datang, atau melihat notifikasi marketplace terasa lebih memuaskan dibandingkan dengan barang itu sendiri. Akibatnya, muncul dorongan untuk berbelanja lagi demi mendapatkan sensasi yang sama.

3. Kamu sering membeli barang yang sebenarnya tidak dibutuhkan

ilustrasi berbelanja pakaian (unsplash.com/charlesdeluvio)

Awalnya hanya ingin membeli sabun, tapi akhirnya checkout lampu tidur, tumbler baru, organizer, dan beberapa barang lain yang sebelumnya tidak pernah masuk daftar kebutuhan. Belanja impulsif memang bisa dialami siapa saja.

Namun, jika ini terjadi berulang dan biasanya muncul ketika sedang stres atau emosional, ada kemungkinan pembelian tersebut lebih didorong oleh kebutuhan emosional dibandingkan dengan kebutuhan nyata. Kalimat "mumpung diskon" atau "siapa tahu nanti kepakai" sering menjadi pembenaran yang muncul setelahnya.

4. Kamu menyembunyikan pengeluaran dari pasangan atau keluarga

ilustrasi pasangan suami istri sedang membahas soal uang (freepik.com/jcomp)

Ketika kamu mulai merasa perlu menyembunyikan jumlah pengeluaran atau sengaja mengecilkan harga barang yang dibeli, ini bisa menjadi sinyal bahwa ada sesuatu yang tidak beres. Misalnya, mengatakan harga barang Rp50 ribu padahal sebenarnya Rp150 ribu, atau sengaja menerima paket saat tidak ada orang di rumah agar tidak ditanya macam-macam. Perilaku ini tidak selalu berarti ada masalah serius, tetapi tetap layak diperhatikan jika mulai sering terjadi.

5. Kamu merasa sulit berhenti meskipun sadar kondisi keuangan sedang tidak baik

ilustrasi berbelanja bersama (pexels.com/Arina Krasnikova)

Salah satu ciri pelarian emosional adalah sulit menghentikan perilaku tersebut meskipun sadar bahwa dampaknya tidak baik. Mungkin kamu sudah berjanji untuk tidak checkout bulan ini, tetapi ketika stres datang, niat itu kembali gagal. Rasanya seperti ada dorongan kuat untuk membeli sesuatu agar suasana hati sedikit membaik. Jika dorongan tersebut terasa sulit dikendalikan dan mulai mengganggu kondisi finansial, mungkin sudah waktunya untuk mengevaluasi kebiasaan belanja.

6. Belanja menjadi satu-satunya cara untuk merasa lebih baik

ilustrasi berbelanja di supermarket (unsplash.com/Ninthgrid)

Setelah hari yang berat, setiap orang tentu punya cara masing-masing untuk mengembalikan energi. Ada yang memilih olahraga, menonton film, memasak, berjalan kaki, atau berbincang dengan teman.

Namun, jika satu-satunya cara yang terasa ampuh hanyalah berbelanja, ada baiknya mulai mencari alternatif lain yang juga bisa membantu mengelola stres. Semakin banyak pilihan coping mechanism yang dimiliki, semakin kecil kemungkinan seseorang bergantung pada satu kebiasaan tertentu. 

Pada akhirnya, belanja bukanlah sesuatu yang buruk. Membeli barang yang diinginkan sesekali juga bisa menjadi bentuk self-reward yang menyenangkan. Yang perlu diperhatikan adalah alasan di balik kebiasaan tersebut.

Jika belanja mulai digunakan untuk menutupi rasa sedih, cemas, kesepian, atau frustrasi, mungkin masalah sebenarnya bukan terletak pada keranjang belanja yang terlalu penuh, melainkan pada stres yang belum benar-benar diselesaikan. Mengenali pola ini lebih awal bisa membantu kita membangun hubungan yang lebih sehat, baik dengan uang maupun dengan emosi yang kita rasakan sehari-hari.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article