ilustrasi cuek (pexels.com/RDNE Stock project)
Mengutamakan diri sendiri memang penting agar tidak mudah lelah. Namun ketika semua keputusan selalu berdasar pada kenyamanan pribadi, orang terdekat bisa merasa diabaikan. Setiap ajakan dianggap mengganggu waktu sendiri, setiap keluhan orang lain dinilai sebagai energi negatif. Lama-lama, jarak akan terbentuk tanpa disadari.
Misalnya, anggota keluarga ingin ngobrol, tetapi kamu memilih menutup diri karena merasa perlu sendiri. Tindakan itu mungkin terasa biasa, tetapi jika dilakukan terus-menerus, orang lain merasa tidak dilibatkan. Hidup bersama orang lain membutuhkan saling pengertian, bukan hanya fokus pada ketenangan pribadi. Jika mindfulness membuatmu semakin jauh dari sekitar, itu sinyal untuk menata ulang prioritas.
Pada akhirnya, mindfulness tetap bisa menjadi cara hidup yang membantu jika dijalankan dengan seimbang. Kuncinya bukan terlihat paling tenang, melainkan tetap peka terhadap diri sendiri dan sekitar. Jadi, sudahkah cara kamu menjalankan mindfulness benar-benar membuat hidup lebih hangat, bukan justru terasa semakin sempit?