Media sosial telah melahirkan berbagai tren konten yang bertujuan menghibur dan menarik perhatian audiens. Mulai dari parodi, tantangan viral, hingga sketsa komedi, kreator berlomba-lomba menghadirkan sesuatu yang dianggap lucu dan mudah dibagikan. Namun, di tengah persaingan mendapatkan views dan engagement, muncul fenomena yang menuai kritik: konten yang meniru perilaku, cara bicara, atau kondisi penyandang disabilitas sebagai bahan lelucon.
Sebagian orang menganggapnya sekadar hiburan dan tidak bermaksud menyinggung siapa pun. Namun, banyak pihak menilai praktik tersebut mencerminkan krisis empati karena menjadikan kondisi yang dihadapi kelompok tertentu sebagai objek tertawaan. Lalu, di mana batas antara humor dan tindakan yang berpotensi merendahkan? Berikut beberapa hal yang perlu dipahami.
