Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Apakah Wajar bila Kita Merayakan Kesedihan?

ilustrasi merayakan kesedihan
ilustrasi merayakan kesedihan (pexels.com/Karola G)
Intinya sih...
  • Kesedihan tidak selalu butuh disembuhkan
  • Bisa membantu melihat hidup apa adanya
  • Sering muncul karena sesuatu pernah berarti
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Merayakan kesedihan terdengar bertolak belakang dengan cara hidup yang sering menuntut segalanya terlihat baik-baik saja. Di keseharian, sedih kerap dianggap sesuatu yang harus cepat disingkirkan agar hidup bisa lanjut seperti biasa. Padahal, ada momen ketika kesedihan justru perlu diberi tempat, bukan ditutup rapat-rapat.

Bukan untuk dilebih-lebihkan, tetapi supaya hidup terasa lebih jujur dan tidak dipaksakan. Makanya gak heran kalau masih banyak yang penasaran apakah wajar bila kita merayakan kesedihan ? So, ini dia jawabannya!

1. Kesedihan tidak selalu butuh disembuhkan

ilustrasi merayakan kesedihan
ilustrasi merayakan kesedihan (pexels.com/cottonbro studio)

Kesedihan sering diperlakukan seperti masalah yang harus segera dibereskan, seolah setiap rasa tidak enak wajib punya solusi. Dalam hidup sehari-hari, tidak semua hal perlu diperbaiki saat itu juga. Ada kondisi ketika kesedihan hadir hanya sebagai respons wajar atas situasi yang memang tidak menyenangkan. Mengakui keberadaannya saja sudah cukup tanpa perlu buru-buru mencari jalan keluar.

Dengan merayakan kesedihan, seseorang memberi waktu pada diri sendiri untuk berada di fase itu tanpa tekanan. Hidup tidak selalu berjalan lurus dari sedih ke bahagia. Ada jeda di tengah-tengahnya yang acapkali diabaikan. Jeda inilah yang membuat pengalaman hidup terasa lebih manusiawi.

2. Bisa membantu melihat hidup apa adanya

ilustrasi merayakan kesedihan
ilustrasi merayakan kesedihan (pexels.com/RDNE Stock project)

Kebiasaan menampilkan hidup yang rapi sering membuat kesedihan terlihat tidak pantas muncul. Padahal, hidup jarang benar-benar rapi jika dilihat dari dekat. Kesedihan justru memperlihatkan bagian hidup yang tidak disaring dan tidak dipoles. Dari situ, realitas terasa lebih utuh.

Merayakan kesedihan bukan berarti menolak kebahagiaan. Ini soal mengakui bahwa hidup berisi banyak lapisan. Ada hari yang ringan, ada hari yang berat, dan keduanya sama-sama valid. Dengan cara ini, hidup tidak terasa seperti perlombaan untuk terlihat selalu menang.

3. Sering muncul karena sesuatu pernah berarti

ilustrasi merayakan kesedihan
ilustrasi merayakan kesedihan (pexels.com/RDNE Stock project)

Tidak semua kesedihan datang tanpa alasan. Banyak di antaranya muncul karena ada hal yang dulu penting lalu berubah atau hilang. Dari sini, kesedihan justru menjadi penanda bahwa sesuatu pernah punya nilai. Tanpa rasa sedih, mungkin makna itu tidak akan pernah disadari.

Merayakan kesedihan memberi ruang untuk memahami apa yang sebenarnya berharga. Bukan untuk menyesali, tetapi untuk mengenali arah hidup. Proses ini membuat seseorang lebih sadar tentang pilihan yang diambil ke depan. Hidup pun tidak berjalan sekadar mengikuti arus.

4. Kesedihan tidak harus selalu disembunyikan

ilustrasi merayakan kesedihan
ilustrasi merayakan kesedihan (pexels.com/Alex Green)

Ada anggapan bahwa menunjukkan kesedihan berarti membuka kelemahan ke orang lain. Dalam praktiknya, tidak semua kesedihan perlu diumbar, tetapi tidak juga harus selalu disembunyikan. Bersikap apa adanya sering kali cukup tanpa penjelasan panjang. Sikap ini justru terasa lebih jujur.

Merayakan kesedihan bisa berarti berhenti berpura-pura baik-baik saja. Tidak perlu drama, tidak perlu pengakuan besar. Cukup memberi batas pada diri sendiri saat sedang tidak ingin banyak bicara. Hidup terasa lebih ringan ketika tidak dipaksa tampil sempurna.

5. Mengajarkan tempo hidup yang lebih masuk akal

ilustrasi merayakan kesedihan
ilustrasi merayakan kesedihan (pexels.com/Andrea Piacquadio)

Dalam ritme hidup yang serba cepat, kesedihan sering dianggap penghambat. Padahal, ada fase hidup yang memang tidak bisa dijalani dengan kecepatan tinggi. Kesedihan memaksa langkah melambat, meski sering terasa tidak nyaman. Dari situ, muncul kesempatan untuk benar-benar merasakan proses.

Merayakan kesedihan berarti menerima bahwa tidak semua fase harus produktif. Ada waktu untuk berjalan pelan tanpa harus punya target besar. Hidup tidak kehilangan arah hanya karena sempat berhenti. Justru dari berhenti itu, arah sering kali menjadi lebih jelas.

Pada akhirnya, merayakan kesedihan bukan soal membesarkan rasa duka, melainkan memberi ruang pada bagian hidup yang sering diabaikan. Kesedihan tidak selalu musuh yang harus dilawan. Kadang, ia hanya penanda bahwa hidup sedang berjalan apa adanya. Jadi, wajar bila kita merayakan kesedihan. Menurutmu, jika kesedihan datang dan ingin diakui, apakah itu benar-benar hal yang salah?

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Debby Utomo
EditorDebby Utomo
Follow Us

Latest in Life

See More

Ramalan Shio 22 Januari 2026, Shio Tikus Ada Perubahan Baik

21 Jan 2026, 21:00 WIBLife