3 Sikap yang Bikin Konflik Jadi Sulit Terselesaikan dalam Relasi

- Artikel membahas tiga sikap yang sering membuat konflik dalam hubungan sulit diselesaikan, yaitu saling menyalahkan, memilih diam, dan keras kepala.
- Saling menyalahkan tanpa introspeksi hanya memperlebar jarak emosional antar pasangan dan menghambat kompromi untuk mencari solusi bersama.
- Kebiasaan diam serta keras kepala dianggap sebagai penghalang komunikasi sehat yang bisa memicu drama berkepanjangan dalam relasi.
Dalam relasi tidak ada yang sempurna. Pasti ada kalanya kamu dan pasangan akan mengalami gesekan pendapat, entah itu tentang uang, pertemanan, atau bahkan perbedaan karakter. Sekecil apa pun, konflik yang muncul bisa jadi kerikil dalam relasi.
Namun sayangnya, masih banyak orang yang tidak tahu cara menyelesaikan konflik dengan sehat. Alih-alih kompromi untuk mencari penyelesaian bersama, konflik malah menciptakan jarak antara kamu dengan pasangan.
Kamu kira dengan menghindar, konflik akan selesai dengan sendirinya. Padahal, konsep seperti itu jelas keliru besar. Ada tiga sikap yang membuat pasangan mudah untuk terjebak dalam masalah yang sama.
1. Selalu saling menyalahkan alih-alih introspeksi

Kunci dalam penyelesaian masalah adalah kompromi. Tapi, untuk berkompromi, kamu harus terlebih dulu dewasa mengakui kesalahanmu dan meminta maaf. Sayangnya, banyak orang yang masih terpengaruh gengsi dan ego pribadi, memilih untuk balik menyerang pasangannya dengan berbagai macam tuduhan.
Sementara kamu dan pasangan sibuk memperdebatkan siapa yang salah, masalah yang berada di antara kalian kian lama kian menciptakan jurang pemisah. Baik kamu dan doi sama-sama tidak mau disalahkan dan ingin selalu menang sendiri.
Akhirnya, percakapan yang terjadi pun sia-sia. Kamu bisa berdebat selama bertahun-tahun atau bahkan belasan tahun, tetap masalah yang ada tidak membawamu kemana-mana.
2. Berpikir diam adalah penyelesaian

Banyak orang juga terjebak dalam masalah yang sama karena berpikir bahwa diam adalah penyelesaian. Akhirnya, respon yang diberikan tidak jauh-jauh dari silent treatment.
Pasti ada masanya kita begitu marah sampai tidak ingin berbicara pada pasangan. Tapi, itu tidak seharusnya menjadi pembenaran untukmu menormalisasikan silent treatment.
Sikap diam seperti itu tidak berarti penyelesaian. Mungkin selanjutnya kamu akan lupa, bersikap seperti biasa, tapi selanjutnya saat situasi yang serupa kembali datang, kamu tetap akan terjebak dalam respon yang sama.
3. Sama-sama punya sikap keras kepala

Membangun hubungan dengan seseorang yang punya sikap, kepribadian, latar belakang, dan pemikiran yang berbeda pasti punya tantangannya sendiri. Salah satunya, kamu merasa diri paling benar.
Sikap keras kepala yang demikian hanya akan jadi batu sandungan untuk diri sendiri dan hubungan. Kalau kamu dan doi merasa diri paling benar, siapa yang mau mengalah?
Tiga sikap di atas harus kamu waspadai, agar tidak jadi batu sandungan dalam relasi. Konflik adalah hal yang lumrah, tapi bila tidak diselesaikan dengan cara yang benar, maka bisa memicu drama dalam hubungan. Jadi, jangan dinormalisasikan! Kalau tahu itu salah dan bisa jadi racun dalam hubungan, segera ubah ya.


















