ilustrasi pasangan romantis (pexels.com/Jonathan Borba)
Ketika hubungan sudah berjalan cukup lama, perhatian kecil terkadang mulai terasa seperti rutinitas. Menanyakan apakah pasangan sudah sampai rumah, mengingatkan untuk beristirahat, atau menawarkan bantuan mungkin terlihat biasa saja. Namun, konsistensi dalam melakukan hal-hal tersebut dapat membuat pasangan merasa diperhatikan.
Penelitian terhadap pasangan menunjukkan bahwa tindakan responsif yang dilakukan dalam keseharian berkaitan dengan persepsi bahwa pasangan peduli dan memahami diri kita. Persepsi tersebut kemudian berkaitan dengan perasaan lebih intim dalam hubungan. Jadi, perhatian tidak selalu harus semakin besar seiring bertambahnya usia hubungan. Yang tidak kalah penting adalah bagaimana perhatian tersebut tetap hadir dalam keseharian.
Dalam hubungan, perhatian sering kali justru muncul melalui hal-hal yang sangat sederhana. Mendengarkan cerita, mengingat sesuatu yang pernah disampaikan, menghargai batasan, menawarkan bantuan, atau sekadar menanyakan kabar dengan tulus mungkin tidak terlihat istimewa dari luar.
Namun, bagi orang yang menerimanya, hal-hal tersebut bisa membuatnya merasa didengar, dipahami, dan dianggap penting. Karena itu, jangan selalu mengukur perhatian dari seberapa besar usaha yang terlihat. Terkadang, perhatian yang paling berarti justru hadir dalam kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten.
Referensi
Arican-Dinc, B., & Gable, S. L. (2023). Responsiveness in romantic partners' interactions. Current Opinion in Psychology, 53, 101652.
Maisel, N. C., & Gable, S. L. (2012). Deeds matter: Daily enacted responsiveness and intimacy in couples' daily lives. Journal of Family Psychology.
Crasta, D., Rogge, R. D., Maniaci, M. R., & Reis, H. T. (2021). Toward an optimized measure of perceived partner responsiveness: Development and validation of the perceived responsiveness and insensitivity scale. Psychological Assessment, 33(4), 338–355.