Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
potret pasangan saling menyayangi
potret pasangan saling menyayangi (pedels.com/Mikhail Nilov)

Intinya sih...

  • Belajar memberi kepercayaan dan keyakinan secukupnya untuk menghindari ekspektasi yang terlalu tinggi.

  • Memberi diri sendiri kelonggaran dalam hubungan untuk menurunkan ekspektasi yang tidak realistis.

  • Bersikap realistis terhadap hubungan yang dijalani agar pasangan tidak merasa terbebani.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Setiap orang pasti memiliki harapan atau ekspektasi dalam hubungannya. Namun, ekspektasi yang terlalu tinggi justru bisa menjadi sumber kekecewaan dan konflik dalam hubungan. Ada banyak orang yang tidak menyadari bahwa masalah dalam hubungan bukan selalu soal kurangnya usaha pasangan, melainkan standar yang tidak realistis.

Lalu, bagaimana caranya keluar dari jebakan ekspektasi dalam hubungan? Berikut beberapa cara yang bisa membantumu memahami bagaimana berhenti memiliki ekspektasi terlalu tinggi terhadap pasangan dan hubungan itu sendiri.

1. Belajar memberi kepercayaan dan keyakinan secukupnya

ilustrasi pasangan (pexels.com/Gustavo Fring)

Belajar memberi kepercayaan dan keyakinan secukupnya berarti kamu menyadari bahwa tidak semua hal dalam hubungan bisa dikendalikan sejak awal. Kamu perlu menerima bahwa ada hal-hal yang memang berjalan di luar rencana. Terlalu banyak tuntutan sering kali muncul karena rasa takut kehilangan, bukan karena kebutuhanmu yang sebenarnya. Rasa takut ini justru bisa membuat hubungan terasa berat dan penuh tekanan.

Dengan memberi ruang kepada pasangan untuk bertumbuh dengan caranya sendiri, hubungan akan terasa lebih tenang. Kamu tidak perlu selalu mengawasi atau menuntut kepastiannya di setiap hal. Karena kepercayaan yang sehat membantu kamu melepaskan keinginan untuk selalu tahu, selalu yakin, dan selalu benar. Karena, keyakinan yang cukup akan membuat hubungan berjalan lebih alami tanpa beban ekspektasi yang berlebihan.

2. Memberi diri sendiri kelonggaran

ilustrasi melihat ke jendela (pexels.com/Ben Hedrich)

Belajar berhenti menyalahkan diri sendiri ketika hubunganmu tidak berjalan sempurna adalah langkah penting untuk menurunkan ekspektasi. Tidak semua masalah harus kamu pahami atau selesaikan dengan sempurna, kok. Kamu juga tidak dituntut untuk selalu bersikap dewasa setiap waktu dalam hubunganmu. Karena menjadi pasangan yang ideal bukan kewajiban yang harus kamu penuhi tanpa cela.

Dengan memberi ruang pada kesalahan, kamu memberi kesempatan pada dirimu sendiri untuk bertumbuh. Proses dalam hubungan tidak selalu rapi dan mudah dijalani. Saat kamu menerima hal itu, kamu akan lebih mampu melihat hubungan apa adanya. Dari sana, ekspektasimu perlahan berubah menjadi pemahaman yang lebih sehat dan realistis.

3. Bersikap realistis terhadap hubungan yang dijalani

potret pasangan ngobrol (pexels.com/Andres Ayrton)

Kamu juga perlu bersikap realistis terhadap hubungan yang kamu jalani. Itu berarti kamu menerima hubungan apa adanya, termasuk kelebihan dan kekurangannya. Kamu perlu memahami bahwa tidak semua masalah bisa diselesaikan dengan cepat. Selain itu, kebutuhan emosional juga tidak selalu bisa terpenuhi setiap waktu. Dengan menyadari hal ini akan membantu kamu melihat hubungan dengan lebih jernih.

Saat kamu menurunkan ekspektasi yang terlalu tinggi, pasangan tidak merasa terbebani. Hal ini memberi ruang bagi kalian untuk tumbuh dan belajar tanpa tekanan. Bersikap realistis juga membuat kamu memahami batas diri sendiri dan pasangan. Dengan begitu, hubungan terasa lebih jujur, stabil, dan tidak mudah menguras emosi.

4. Tidak menggantungkan kebahagiaanmu pada pasangan

potret perempuan tersenyum (pexels.com/Blue Bird )

Berhenti menggantungkan kebahagiaan pada pasangan berarti menyadari bahwa pasangan bukan satu-satunya sumber bahagia, aman, atau utuh dalam hidupmu. Jika seluruh kebahagiaan diletakkan pada pasangan, hubungan bisa terasa berat karena ia harus selalu memenuhi kebutuhan emosionalmu. Tanpa kamu sadari, kondisi ini membuat pasangan berada di bawah tekanan yang tidak adil. Akhirnya, hubungan pun berisiko kehilangan rasa nyaman dan keseimbangannya.

Ketergantungan emosional ini sering menjadi penyebab munculnya ekspektasi berlebihan, seperti ingin selalu dimengerti dan ditemani dalam setiap situasi. Padahal, kebahagiaan seharusnya kamu bangun dari dalam dirimu sendiri. Kamu bisa menemukannya melalui berbagai hal, misalnya pertemanan, atau hal-hal yang kamu sukai. Ketika kamu bahagia sebagai individu, pasangan bukan lagi penentu kebahagiaanmu, melainkan teman untuk berbagi kebahagiaan itu.

5. Tidak terburu-buru menjalani hubungan

potret pasangan saling menyayangi (pedels.com/Mikhail Nilov)

Sangat mudah untuk terbawa euforia saat menjalani hubungan baru, apalagi ketika kamu berharap semuanya berjalan sesuai bayanganmu. Pada fase ini, banyak orang memiliki ekspektasi tinggi terhadap pasangan dan hubungan itu sendiri. Namun, seiring waktu, hubungan akan berkembang menjadi lebih dewasa. Hubungan juga akan menuntut sikap yang lebih realistis dan praktis.

Oleh karena itu, penting untuk memberi waktu agar semuanya berjalan secara alami dan masuk akal, ya. Terlalu terburu-buru dalam menjalani hubungan atau merencanakan pernikahan justru bisa menimbulkan masalah. Setiap hubungan memiliki proses yang tidak bisa dipaksakan. Ekspektasi yang terlalu tinggi hanya akan berujung pada kekecewaan dan rasa sakit hati.

Menurunkan ekspektasi bukan berarti kamu menurunkan standar, tetapi kamu menyesuaikannya dengan realitas. Ingat ya, hubungan akan terasa lebih ringan ketika kamu memberi ruang bagi ketidaksempurnaan dan menghargai momen nyata yang hadir tanpa rencana atau idealisasi.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team