Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

5 Cara Mengatasi Post-Holiday Blues dalam Hubungan, Biar Gak Bosan

ilustrasi pasangan bosan
ilustrasi pasangan bosan (freepik.com/freepik)
Intinya sih...
  • Perubahan suasana setelah liburan adalah hal yang normal dan wajar, menyadari hal ini membantu menjaga stabilitas emosi dalam hubungan.
  • Bangun kembali rutinitas kecil yang bermakna untuk menjaga koneksi emosional tetap hidup meski tanpa agenda liburan.
  • Komunikasikan perasaan tanpa menyalahkan pasangan, ciptakan hal baru bersama, dan atur ekspektasi terhadap hubungan.
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Libur panjang tahun baru sering terasa seperti momen manis yang penuh tawa, waktu berkualitas, dan kedekatan emosional. Saat rutinitas kembali berjalan, banyak pasangan justru merasa ada jarak yang muncul tanpa alasan jelas. Perasaan hampa, bosan, atau hambar ini sering disebut post-holiday blues dalam hubungan. Jika dibiarkan, kondisi ini bisa pelan-pelan menggerus kemesraan yang sebelumnya terasa hangat.

Perubahan ritme hidup setelah liburan memang gak selalu mudah, apalagi ketika ekspektasi kebahagiaan masih terbawa suasana. Hubungan yang tadinya intens bisa terasa datar ketika kembali pada jadwal padat. Hal ini wajar dan dialami banyak pasangan, bukan tanda bahwa cinta memudar. Yuk simak lima cara mengatasi post-holiday blues agar hubungan tetap hangat dan gak cepat bosan.

1. Sadari bahwa perubahan suasana itu normal

ilustrasi perempuan merenung
ilustrasi perempuan merenung (freepik.com/freepik)

Setelah liburan, otak dan emosi butuh waktu untuk beradaptasi dengan rutinitas. Ketika rasa bosan muncul, banyak orang langsung menyalahkan hubungan tanpa melihat konteksnya. Padahal, perubahan suasana hati adalah respons alami setelah momen menyenangkan berakhir. Menyadari hal ini bisa mencegah konflik yang sebenarnya gak perlu.

Dengan menerima bahwa fase ini wajar, kamu jadi lebih tenang menyikapinya. Kamu gak terburu-buru menarik kesimpulan negatif tentang pasangan. Sikap ini membantu menjaga stabilitas emosi dalam hubungan. Dari sini, komunikasi pun bisa berjalan lebih jujur dan dewasa.

2. Bangun kembali rutinitas kecil yang bermakna

ilustrasi pasangan mengobrol
ilustrasi pasangan mengobrol (pexels.com/Jonathan Borba)

Liburan sering diisi dengan aktivitas spesial yang jarang dilakukan saat hari biasa. Ketika itu berakhir, hubungan terasa kehilangan momen kebersamaan. Untuk mengatasinya, kamu bisa menciptakan rutinitas kecil yang tetap terasa intim. Hal sederhana bisa jadi penopang emosi setelah libur panjang.

Misalnya makan malam bersama tanpa gawai atau berbagi cerita sebelum tidur. Rutinitas kecil ini membantu menjaga koneksi emosional tetap hidup. Hubungan pun terasa lebih stabil meski tanpa agenda liburan. Kedekatan dibangun dari konsistensi, bukan hanya momen besar.

3. Komunikasikan perasaan tanpa menyalahkan

ilustrasi pasangan
ilustrasi pasangan (pexels.com/Katerina Holmes)

Perasaan jenuh atau hambar sering dipendam karena takut memicu konflik. Padahal, menyimpan emosi justru bisa memperbesar jarak dalam hubungan. Mengungkapkan perasaan dengan cara yang tepat membantu pasangan saling memahami. Kuncinya ada pada cara bicara, bukan sekadar isi pesan.

Gunakan bahasa yang jujur dan lembut tanpa menyudutkan pasangan. Fokus pada apa yang kamu rasakan, bukan pada kekurangan pasangan. Cara ini membuat diskusi terasa aman dan terbuka. Hubungan pun punya ruang untuk tumbuh, bukan saling defensif.

4. Ciptakan hal baru tanpa harus liburan lagi

ilustrasi berolahraga dengan pasangan
ilustrasi berolahraga dengan pasangan (pexels.com/Ketut Subiyanto)

Banyak pasangan mengira kemesraan hanya bisa kembali lewat liburan berikutnya. Padahal, pengalaman baru gak selalu harus mahal atau jauh. Mencoba aktivitas baru bersama bisa memicu kembali rasa antusias. Ini membantu melawan kejenuhan yang sering muncul pasca liburan.

Kamu bisa mencoba hobi bersama, kelas singkat, atau sekadar eksplor tempat baru di sekitar rumah. Hal baru memberi stimulasi emosional yang mirip dengan suasana liburan. Hubungan jadi terasa segar tanpa harus menunggu momen besar. Kedekatan pun tumbuh dari pengalaman bersama.

5. Atur ekspektasi terhadap hubungan

ilustrasi pasangan bahagia
ilustrasi pasangan bahagia (pexels.com/cottonbro studio)

Liburan sering menciptakan gambaran ideal tentang kebahagiaan dalam hubungan. Saat kembali ke realitas, ekspektasi ini bisa jadi sumber kekecewaan. Mengharapkan hubungan selalu seromantis saat liburan justru bikin kamu mudah merasa bosan. Di sinilah pentingnya menyesuaikan ekspektasi dengan kondisi nyata.

Hubungan yang sehat adalah tentang keseimbangan, bukan euforia terus-menerus. Ada fase tenang yang sama berharganya dengan fase penuh gairah. Dengan ekspektasi yang lebih realistis, kamu bisa menikmati proses bersama pasangan. Hubungan pun terasa lebih stabil dan tahan lama.

Menghadapi post-holiday blues dalam hubungan bukan soal mencari kesalahan, tapi memahami dinamika emosi setelah momen menyenangkan berakhir. Dengan kesadaran, komunikasi, dan usaha kecil yang konsisten, kemesraan bisa kembali tumbuh perlahan. Hubungan yang matang justru diuji saat euforia mereda dan rutinitas dimulai. Yuk, rawat hubunganmu dengan lebih sadar agar rasa bosan gak mudah mengambil alih.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Nabila Inaya
EditorNabila Inaya
Follow Us

Latest in Life

See More

5 Manfaat Micro-Workout untuk Pekerja Kantoran, Cukup 5 Menit Aja!

13 Jan 2026, 22:42 WIBLife