Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

5 Tips Mengatasi Valentine’s Blues buat Kamu yang Baru Putus Cinta

ilustrasi perempuan merenung (freepik.com/tirachardz)
ilustrasi perempuan merenung (freepik.com/tirachardz)

Menjelang Hari Valentine, media sosial mendadak dipenuhi foto bunga, cokelat, dan caption penuh cinta. Buat kamu yang baru putus cinta, suasana ini bisa terasa seperti ujian mental yang datang bertubi-tubi. Ada rasa sedih yang sulit dijelaskan, meski kamu sebenarnya sudah berusaha baik-baik saja. Fenomena inilah yang sering disebut sebagai valentine’s blues.

Valentine’s blues adalah kondisi emosional ketika seseorang merasa lebih sedih, kesepian, atau tertinggal saat hari kasih sayang tiba. Perasaan ini valid, apalagi jika luka putus cinta masih terasa hangat. Kamu tidak lebay, kamu hanya manusia yang sedang berproses. Yuk simak lima tips sederhana untuk menjaga kesehatan mental dan melewati Valentine tanpa tenggelam dalam rasa sedih.

1. Akui perasaan sedih tanpa menghakimi diri sendiri

ilustrasi perempuan sedih (pexels.com/Timur Weber)
ilustrasi perempuan sedih (pexels.com/Timur Weber)

Langkah pertama mengatasi sedih putus cinta adalah berhenti memaksa diri untuk terlihat kuat. Tidak apa-apa merasa sedih ketika melihat pasangan lain merayakan Valentine. Emosi yang ditekan justru cenderung muncul dengan cara yang lebih menyakitkan. Mengakui perasaan adalah bentuk kejujuran pada diri sendiri.

Saat kamu menerima bahwa sedih itu ada, beban di dada perlahan berkurang. Kamu tidak harus membandingkan prosesmu dengan orang lain. Setiap orang punya timeline move on yang berbeda. Dari penerimaan inilah pemulihan emosional bisa dimulai.

2. Batasi paparan media sosial sementara waktu

ilustrasi perempuan merawat tanaman
ilustrasi perempuan merawat tanaman (pexels.com/Sasha Kim)

Media sosial sering menjadi pemicu utama valentine’s blues. Scroll tanpa sadar bisa berubah jadi ajang menyiksa diri dengan melihat kebahagiaan orang lain. Memberi jeda dari media sosial bukan tanda kalah, tapi bentuk self-care. Kamu berhak melindungi kesehatan mentalmu.

Gunakan waktu tersebut untuk aktivitas yang lebih menyenangkan. Memasak, merawat tanaman, atau sekadar tidur cukup bisa membantu menenangkan pikiran. Dunia nyata jauh lebih ramah daripada algoritma. Sedikit menjauh justru bisa mempercepat proses move on.

3. Ubah Valentine jadi hari merawat diri sendiri

ilustrasi perempuan mandi
ilustrasi perempuan mandi (freepik.com/lifeforstock)

Valentine tidak harus selalu tentang pasangan romantis. Kamu bisa mendefinisikannya ulang sebagai hari untuk mencintai diri sendiri. Merayakan diri sendiri adalah langkah penting setelah putus cinta. Ini bukan pelarian, tapi pemulihan.

Lakukan hal-hal kecil yang membuatmu merasa utuh kembali. Makan makanan favorit, berendam air hangat, atau membeli sesuatu yang sudah lama kamu inginkan. Ketika kamu memperlakukan diri dengan lembut, rasa kehilangan tidak lagi mendominasi. Valentine pun terasa lebih netral dan terkendali.

4. Jangan romantisasi kenangan lama

ilustrasi perempuan merenung (pexels.com/@karolina-grabowska)
ilustrasi perempuan merenung (pexels.com/@karolina-grabowska)

Saat Valentine tiba, kenangan manis sering muncul tanpa diundang. Kamu mulai mengingat hal-hal indah dan melupakan alasan mengapa hubungan itu berakhir. Ini wajar, tapi bisa memperlambat proses move on. Kenangan yang dipilih sepihak jarang mencerminkan realitas utuh.

Cobalah melihat hubungan masa lalu secara lebih jujur. Ingat juga bagian yang membuatmu lelah dan tidak bahagia. Dengan perspektif seimbang, kamu tidak terjebak nostalgia semu. Mental pun jadi lebih stabil saat menghadapi hari kasih sayang.

5. Isi hari dengan koneksi yang bermakna

ilustrasi quality time bersama ibu
ilustrasi quality time bersama ibu (freepik.com/freepik)

Valentine tidak harus dilewati sendirian dalam kesepian. Menghabiskan waktu bersama teman, keluarga, atau orang terdekat bisa memberi rasa hangat yang berbeda. Cinta hadir dalam banyak bentuk, tidak melulu romantis. Koneksi sosial adalah penyangga emosi yang kuat.

Berbagi cerita atau sekadar tertawa bersama membantu mengurangi rasa hampa. Kamu diingatkan bahwa hidupmu tidak berhenti hanya karena satu hubungan berakhir. Perlahan, sedih putus cinta tidak lagi mendominasi ruang batin. Move on pun terasa lebih mungkin.

Merasa sedih saat Valentine setelah putus cinta bukan tanda kegagalan emosional. Itu hanya sinyal bahwa hatimu pernah peduli dan sekarang sedang belajar pulih. Dengan langkah kecil dan sikap yang lebih lembut pada diri sendiri, valentine’s blues bisa dilewati tanpa drama berlebihan. Kamu tidak sendirian, dan kamu tidak harus buru-buru move on.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Kirana Mulya
EditorKirana Mulya
Follow Us

Latest in Life

See More

9 OOTD Pakai Short Pants ala Mimi Oh My Girl, Chic Abis!

04 Feb 2026, 23:03 WIBLife