Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Apakah Bercanda tentang Pasangan di Depan Orang Lain Itu Wajar?
ilustrasi bercanda (pexels.com/setengah lima sore)
  • Bercanda tentang pasangan masih wajar jika topiknya aman dan pasangan merasa nyaman.

  • Perhatikan reaksi pasangan karena tertawa belum tentu berarti ia benar-benar nyaman.

  • Hentikan candaan jika pasangan keberatan dan sepakati batasan cerita yang boleh dibagikan.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Bercanda tentang pasangan di depan teman atau keluarga sering dianggap hal biasa, apalagi kalau kalian memang sudah terbiasa saling meledek. Cerita soal pasangan yang pelupa, kebiasaan bangun siang, atau kejadian lucu di rumah memang bisa membuat suasana jadi lebih cair. Namun, ada juga candaan yang membuat pasangan ikut tertawa saat itu, tetapi sebenarnya merasa gak nyaman setelahnya.

Persoalannya bukan cuma soal apakah candaan tersebut lucu atau tidak. Ada hal yang perlu diperhatikan, terutama ketika bahan bercanda menyangkut kekurangan, persoalan pribadi, atau sesuatu yang sebenarnya sensitif bagi pasangan. Lantas, apakah bercanda tentang pasangan di depan orang lain masih bisa dianggap wajar?

1. Lihat dulu apa yang dijadikan bahan bercandaan

ilustrasi bercanda (pexels.com/Ketut Subiyanto)

Cerita bahwa pasangan selalu salah memasukkan tanggal ketika membuat janji mungkin terdengar sepele. Namun, beda ceritanya kalau yang dibahas adalah gaji, masalah pekerjaan, persoalan keluarga, bentuk tubuh, atau kebiasaan tertentu yang selama ini membuat pasangan merasa kurang percaya diri. Semakin pribadi topiknya, semakin besar kemungkinan candaan tersebut membuatnya gak nyaman.

Kamu juga perlu tahu apakah pasangan memang terbiasa bercanda soal hal tersebut. Ada pasangan yang santai ketika kebiasaan buruknya diceritakan kepada teman, tetapi ada juga yang gak suka urusan rumah dibawa keluar. Hal yang lucu bagi satu orang belum tentu terasa lucu ketika orang lain ikut mendengarnya.

2. Perhatikan reaksi pasangan setelah candaan itu keluar

ilustrasi pasangan (pexels.com/Timur Weber)

Pasangan tertawa bukan berarti ia pasti merasa baik-baik saja. Bisa saja ia ikut tertawa karena gak ingin membuat suasana mendadak canggung, terutama kalau candaan tersebut disampaikan di depan banyak orang. Setelah itu, ia mungkin baru mengatakan bahwa sebenarnya ia malu atau kesal.

Reaksi setelah acara selesai juga bisa memberi gambaran yang lebih jelas. Kalau pasangan beberapa kali mengatakan, “Kamu gak perlu cerita itu ke orang lain,” berarti ada bagian yang perlu diperhatikan. Candaan yang sama mungkin masih dianggap lucu olehmu, tetapi pasangan sudah menunjukkan bahwa ia gak nyaman dijadikan bahan cerita di depan orang lain.

3. Jangan menjadikan kekurangan pasangan sebagai bahan hiburan terus-menerus

ilustrasi pasangan (pexels.com/RDNE Stock project)

Sekali menceritakan pasangan yang selalu lupa membawa payung mungkin memang hanya candaan. Masalahnya muncul ketika setiap kali bertemu teman, bahan yang keluar selalu soal pasangan yang pelupa, berantakan, boros, atau gak bisa melakukan sesuatu. Lama-lama, orang lain justru mengenal pasanganmu dari kekurangan yang terus kamu ceritakan.

Apalagi kalau candaan tersebut disampaikan untuk membuat diri sendiri terlihat lebih lucu atau lebih pintar daripada pasangan. Misalnya, pasangan salah menyebut nama makanan lalu kesalahan itu terus diulang di setiap acara. Bagi orang yang bercerita, mungkin terasa lucu, tetapi bagi pasangan bisa terasa seperti dirinya sengaja dipermalukan demi membuat orang lain tertawa.

4. Bedakan candaan dengan membuka urusan pribadi

ilustrasi bercanda (pexels.com/Alexander Suhorucov)

Gak semua cerita tentang pasangan harus disimpan rapat. Ada pengalaman lucu dalam rumah tangga yang memang aman diceritakan kepada teman atau keluarga. Namun, persoalan keuangan, pertengkaran, masalah dengan keluarga pasangan, kehidupan seksual, atau cerita yang disampaikan pasangan secara pribadi sebaiknya gak dijadikan bahan bercanda.

Apalagi kalau orang yang mendengarnya bukan orang yang dekat dengan kalian. Sekali sebuah cerita keluar, pasangan gak bisa lagi menentukan siapa saja yang mengetahuinya. Karena itu, sebelum menjadikan urusan rumah sebagai bahan lelucon, pikirkan juga apakah kamu akan tetap nyaman kalau pasangan melakukan hal yang sama kepadamu.

5. Kalau pasangan keberatan, candaan itu memang perlu dihentikan

ilustrasi marah (pexels.com/Mikhail Nilov)

Ada kalanya seseorang baru tahu bahwa candaan yang menurutnya biasa ternyata membuat pasangannya gak nyaman. Kalau sudah begitu, gak perlu memperdebatkan apakah candaan tersebut sebenarnya lucu atau apakah orang lain juga menganggapnya lucu. Yang lebih penting adalah pasangan sudah menyampaikan bahwa ia gak suka hal tersebut dibicarakan di depan orang lain.

Kamu juga gak harus menghindari semua candaan tentang pasangan setelahnya. Kalian tetap bisa saling meledek dan menceritakan kejadian lucu, selama sama-sama tahu bagian mana yang masih nyaman untuk dibagikan. Justru dari situ terlihat apakah candaan dalam rumah tangga memang dinikmati berdua atau hanya menguntungkan salah satu pihak.

Bercanda tentang pasangan di depan orang lain pada dasarnya gak selalu menjadi persoalan. Sebab yang perlu diperhatikan adalah bahan yang dipilih, siapa yang mendengar, dan bagaimana perasaan pasangan setelahnya. Kalau candaan mulai membuat salah satu pihak merasa dipermalukan, mungkin ada beberapa cerita yang memang lebih baik cukup menjadi bahan tertawaan kalian berdua.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

EditorYudha ‎

Related Article