Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Ayah, Aku Kini Bisa Menjawab Pertanyaan-pertanyaan yang Dulu Mengganjal Hatiku!

Ayah, Aku Kini Bisa Menjawab Pertanyaan-pertanyaan yang Dulu Mengganjal Hatiku!
Sumber Gambar: babyeinsteindev.wordpress.com

Ayah, ketika dulu aku mempunyai banyak pertanyaan yang mengganjal hatiku, aku tidak bisa  mengatakannya langsung karena merasa malu.

Namun seiring bertambahnya waktu, banyak hal yang kupelajari hingga akhirnya bisa menemukan jawaban dari semua pertanyaan yang sempat membuatku meragukanmu.

Ayah, maukah dirimu membaca pertanyaan-pertanyaan yang selama ini aku sembunyikan dan menilai ketepatan jawaban yang sudah aku terka?

Saat aku berbuat nakal, kenapa dirimu malah bertanya "mengapa" kepadaku?

Kalau Ibu, menjelaskan kepadaku ‘kenapa tidak boleh berbuat nakal’. Tapi kalau Ayah, mengapa malah bertanya ‘kenapa aku berbuat nakal’?

Dulu, aku selalu benci menjelaskan alasan aku berbuat nakal dan tidak mau bertanya kenapa harus ada pertanyaan itu. Aku lebih suka menerima alasan yang Ibu jelaskan sampai aku yakin tidak akan melakukannya lagi. Menceritakan kenapa aku berbuat nakal bisa menjatuhkan harga diriku. Ya, karena terkadang aku melakukannya untuk mencari perhatian dari orang sekitarku atau sekedar untuk hiburan. Lalu apa jadinya jika dirimu menatapku dengan mata teduh, tersenyum, dan menyuruhku menceritakan sebab dari tindakan nakalku?

Sekarang, aku mengerti jawaban dari pertanyaan itu.

Aku yakin itu karena kau curang. Karena setelah itu kau pasti berhasil membuatku merasa menyesal dan berjanji tidak akan mengulangi perbuatan itu lagi.

Saat aku bertengkar dengan kakak, kenapa dirimu tidak membelaku seperti Ibu?

Kalau Ibu, berbelas kasih untuk mendukung kemauanku. Tapi kalau Ayah, kenapa selalu menegaskan tentang keadilan, kesabaran, dan ketenangan agar mendahulukan kebutuhan daripada keinginanku?

Sekarang, aku mengerti jawaban dari pertanyaan itu.

Aku yakin itu karena kau licik. Karena setelah itu aku pasti bisa mengontrol nafsuku dan emosi sesaat kemudian bisa kembali berpikir tenang.

Saat aku meminta nasihatmu, kenapa dirimu cuma memintaku untuk mencari jalan keluarnya sendiri?

Dulu aku marah dan kecewa. Hanya ibu yang mau mengusap kepalaku dan menasihatiku dengan lembut. Sedangkan kau hanya terus membaca koran sambil sesekali kulihat mengintip saat aku berkeluh kesah. Aku bertanya-tanya, kenapa engkau seakan tak peduli akan masalahku? Kenapa saat itu kau tidak mendikteku untuk melakukan sesuatu?

Sekarang, aku mengerti jawaban dari pertanyaan itu.

Ya, kau sedang mencoba melatihku untuk mandiri dalam membuat keputusan dan lebih kuat.

Saat aku malas, kenapa dirimu memintaku berkunjung rumah sakit?

Seharusnya kau langsung saja menyiramku dengan air atau semacamnya sampai aku bangun dan bekerja. Tapi, kenapa dulu engkau memaksaku untuk duduk di koridor rumah sakit? Apa yang sebenarnya ingin engkau katakan?

Sekarang, aku mengerti jawaban dari pertanyaan itu.

Kau sedang memperlihatkan kepadaku arti kesulitan dan kerja keras orang lain. Betapa banyak orang-orang yang berjuang dan bertahan hidup. Hingga membuatku yang malas ini merasa lebih rendah dari butiran debu yang terhempas angin.

Saat aku menikah dan pindah dari rumahmu untuk menempuh bahtera rumah tangga, kenapa dirimu tidak menangis?

Aku ingat sekali, kau bukannya menangis untukku dan mengusap air mata yang bercucuran, atau sekedar memeluk anakmu yang akan segera angkat kaki. Tapi kenapa kau hanya melihatku dan tersenyum seolah tidak terjadi apa-apa? Apa aku tidak berarti buatmu, Ayah?

Sekarang, aku mengerti jawaban dari pertanyaan itu.

Kau menangis dalam hati. Ketegaranmu hanya terlihat di depan saja. Padahal kau takut, gundah dan terus berdoa. Agar anakmu bisa bahagia dengan hidupnya yang baru. Anak yang sebentar lagi harus kau ikhlaskan bersama orang lain yang telah dia pilih. Anak yang kau banggakan. Anak yang susah payah kau besarkan. Anak yang kelak bisa melupakan jasa-jasa yang telah kau berikan. Tak mengapa asal dia bisa kuat dan berani, kau rela tidak memeluknya untuk saat ini. Kau ikhlas melepaskannya asal melihat senyuman yang mengembang dipipi anak yang kau lindungi. Kau hanya bisa tersenyum agar anakmu nantinya tidak khawatir dan terbebani.

Itulah engkau Ayah. Terima kasih dan maafkan aku yang baru mengerti arti perasaan yang selama ini tertutupi karena kegagahanmu. Kasih sayangmu tak akan lekang oleh waktu. Ketulusanmu lah yang mengajarkanku akan sosok yang mencintai anaknya dalam diam.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Maulida Ayu
EditorMaulida Ayu
Follow Us