“Kekhawatiran terbesar mahasiswa bukan hanya persoalan akademik, tetapi juga bersifat sosial. Mereka mungkin berpikir apakah akan memiliki teman atau tidak saat berkuliah. Hal yang membuat berteman di masa perkuliahan terasa lebih berat adalah perkiraan tentang keyakinan, perasaan, dan perilaku orang lain. Kita juga cenderung melebih-lebihkan seberapa banyak orang lain memperhatikan perilaku dan kesalahan sosial yang kita lakukan,” ungkap Rob Dempsey, dosen senior psikologi di Manchester Metropolitan University, dikutip dari Manchester Metropolitan University.
Mengapa Berteman Saat Kuliah Tidak Semudah yang Dibayangkan?

- Kekhawatiran dinilai aneh atau canggung membuat mahasiswa terlalu memikirkan penilaian orang lain, sehingga memilih diam dan menunggu percakapan dimulai oleh pihak lain.
- Obrolan ringan kerap dianggap tidak penting, padahal percakapan sederhana tentang tugas, dosen, atau kegiatan harian dapat membangun keakraban dan membuka jalan pertemanan.
- Keramaian kampus tidak otomatis menghilangkan kesepian; belum memiliki banyak teman pada awal kuliah merupakan proses menemukan orang yang nyaman, bukan kegagalan sosial.
Matanya perlahan terbuka bersamaan dengan lengannya yang berusaha meraih handphone di samping tempat tidur. Jari telunjuknya menekan tombol daya dan seketika pandangannya tertuju pada waktu yang sudah menunjukkan pukul setengah delapan. Ia teringat bahwa hari ini ada jadwal perkuliahan pukul delapan.
Tanpa menunggu lama, ia langsung bergegas mandi dan mengenakan pakaian yang nyaman untuk pergi ke kampus. Setelah selesai bersiap, langkah kakinya bergerak cepat meninggalkan tempat tinggal menuju kampus.
Sesampainya di kelas, matanya menyusuri kursi yang masih kosong hingga menemukan satu tempat di pojok ruangan. Ia kemudian duduk dan mulai mempersiapkan perlengkapan kuliah. Namun di tengah kesibukannya, ia teringat bahwa sudah dua pekan sejak pertama kali memulai kehidupan perkuliahan dan belum juga menemukan teman yang bisa diajak berbagi cerita.
Ia sempat berpikir bahwa berteman saat kuliah akan berjalan mudah karena setiap hari selalu bertemu banyak orang. Namun setelah menjalaninya sendiri, ia justru menyadari bahwa membangun pertemanan tidak semudah yang dibayangkan.
1. Terlalu memikirkan bagaimana orang lain melihat dirinya

ilustrasi memikirkan pendapat orang lain (pexels.com/Keira Burton) Lengannya mulai mengeluarkan alat tulis untuk mencatat materi yang diterangkan dosen di depan kelas. Namun, pikirannya tidak sepenuhnya tertuju pada catatan perkuliahan. Di sela-sela menulis, kepalanya masih dipenuhi pertanyaan tentang lingkungan baru yang sedang ia hadapi. Ia ingin memulai percakapan dengan teman di sebelahnya, tetapi belum tahu harus membuka pembicaraan dari mana.
Semakin lama memikirkan hal tersebut, ia justru semakin sibuk membayangkan bagaimana orang lain akan melihat dirinya. Ia khawatir percakapan yang dimulai akan terasa canggung atau dirinya akan dianggap aneh. Pikiran tersebut akhirnya membuatnya memilih diam dan menunggu orang lain terlebih dahulu membuka percakapan.
2. Menganggap obrolan ringan bukan bagian penting dari pertemanan

ilustrasi percakapan (pexels.com/Resume Genius) Beberapa waktu sebelumnya, ia sempat melihat beberapa mahasiswa berbincang santai satu sama lain. Tawa kecil terdengar di antara percakapan yang sebenarnya membahas hal-hal sederhana. Tidak lama kemudian, ia ikut diajak bergabung. Namun alih-alih duduk dan mengikuti obrolan tersebut, ia justru merasa percakapan ringan itu tidak terlalu penting untuk diikuti. Ia pun memilih menarik diri dan kembali pulang.
Baginya, obrolan tersebut terasa terlalu cepat untuk dilakukan dengan orang-orang yang baru saja dikenal. Membicarakan kegiatan sehari-hari atau kehidupan masing-masing terasa seperti sesuatu yang belum perlu dilakukan. Padahal, percakapan sederhana seperti itu justru bisa menjadi awal dari hubungan yang lebih dekat.
“Obrolan ringan sering kali disalahpahami sebagai sesuatu yang tidak penting dan dangkal sehingga terkadang terasa kurang tepat untuk dilakukan. Padahal, terlibat dalam obrolan ringan dapat memberikan sejumlah manfaat positif karena menciptakan rasa keakraban dengan orang lain,” tambah Rob.
Ia pun mulai menyadari bahwa pertemanan tidak selalu dimulai dari percakapan yang langsung mendalam. Bisa jadi, semuanya berawal dari pertanyaan sederhana tentang tugas kuliah, obrolan mengenai dosen, atau sekadar membicarakan kegiatan yang baru saja dilakukan. Ketika kesempatan-kesempatan kecil tersebut dilewatkan, proses untuk mengenal orang lain pun menjadi lebih lambat.
3. Merasa tidak terhubung di tengah keramaian

ilustrasi perempuan kesepian di tengah keramaian (magnific.com/magnific) Hampir dua minggu memasuki dunia perkuliahan, ia tidak pernah benar-benar jauh dari keramaian. Setiap hari ada mahasiswa yang berlalu-lalang di koridor, memenuhi ruang kelas, hingga berkumpul di berbagai sudut kampus. Ia tahu bahwa suasana ramai seperti itu merupakan bagian dari kehidupan perkuliahan. Namun, berada di tengah banyak orang ternyata tidak serta-merta membuatnya merasa menjadi bagian dari keramaian tersebut.
Perlahan, ia menyadari ada banyak kesempatan yang terlewat untuk membangun pertemanan. Bukan karena tidak ada orang yang bisa diajak berbicara, tetapi karena dirinya belum siap membuka diri kepada orang baru. Perasaan itu kemudian membuatnya bertanya-tanya, apakah ia telah gagal menjalani kehidupan sosial di kampus hanya karena belum memiliki banyak teman. Padahal, ia hanya sedang berada dalam proses untuk menemukan orang-orang yang membuatnya merasa nyaman.
"Kamu bisa berada di tengah keramaian sepanjang waktu dan tetap merasa kesepian. Perasaan tersebut bisa membuatmu merasa seperti telah gagal dalam sesuatu karena tidak memiliki kehidupan sosial yang besar,” kata Gbemi Emdin, penulis, dilansir Unifresher.
Perkuliahan akhirnya selesai. Ia kembali berjalan keluar dari kelas sambil menyadari bahwa membangun hubungan pertemanan di kampus memang tidak selalu berlangsung secepat yang dibayangkan.
Terlalu memikirkan pandangan orang lain, melewatkan obrolan ringan, hingga merasa sendiri di tengah keramaian ternyata dapat membuat proses tersebut terasa semakin berat. Namun menemukan teman yang tepat memang membutuhkan waktu, sehingga tidak memiliki banyak teman di awal perkuliahan bukan berarti dirinya gagal dalam menjalani kehidupan kampus.





















