7 Cara Menghadapi Pasangan yang Terlalu Bergantung pada Keluarga

- Pahami dulu bentuk ketergantungan pasangan agar kamu tidak salah menilai kedekatan sebagai masalah.
- Bangun komunikasi yang tenang dan sepakati batasan kecil agar keputusan rumah tangga tetap diambil berdua.
- Jika ketergantungan mulai mengganggu hubungan, evaluasi dampaknya dan pertimbangkan bantuan pihak ketiga.
Dalam kehidupan berumah tangga, keterlibatan keluarga besar sebenarnya merupakan hal yang wajar. Ada pasangan yang memang sangat dekat dengan orangtua atau saudara dan itu sering jadi sumber dukungan emosional. Akan tetapi, ini bisa menjadi masalah ketika pasangan terlalu bergantung pada keluarga sampai setiap keputusan rumah tangga ikut dibawa ke sana.
Situasi ini pelan-pelan bisa membuat hubungan terasa berat. Setiap masalah kecil minta bantuan ke keluarga. Ini membuat keputusan selalu berdasarkan saran orang lain, bahkan urusan pribadi pun sulit dijaga. Jika terus dibiarkan, ketergantungan ini bisa mengikis batasan sehat dalam pernikahan. Agar masalah ini tidak berlarut-larut dan makin parah, yuk, kenali cara menghadapi pasangan yang terlalu bergantung pada keluarga!
1. Pahami dulu bentuk ketergantungannya

Sebelum bereaksi, penting untuk melihat ketergantungan pasangan secara lebih jernih. Apakah dia selalu meminta saran keluarga sebelum mengambil keputusan kecil? Apa justru menggantungkan finansial dan emosional sepenuhnya pada orangtua?
Tidak semua bentuk kedekatan itu tidak sehat. Ada pasangan yang hanya butuh tempat curhat, tapi tetap bisa berdiri sendiri. Dengan memahami polanya, kamu bisa menentukan langkah yang lebih tepat tanpa langsung menyalahkan.
2. Bedakan antara hormat dengan ketergantungan

Menghormati keluarga dan bergantung merupakan dua hal yang berbeda. Menghormati berarti mendengar masukan, menjaga hubungan baik, dan tetap sopan. Sementara, ketergantungan membuat pasangan sulit mandiri dan cenderung melimpahkan tanggung jawab pada orang lain.
Di sini, kamu perlu melihat apakah keputusan penting rumah tangga masih bisa diambil bersama atau selalu dilimpahkan ke keluarga. Kalau dominan yang pertama, berarti pasanganmu masih bisa diajak bekerja sama dan bertanggung jawab. Sementara, kalau yang kedua lebih sering terjadi, berarti batasnya sudah mulai kabur.
3. Bangun komunikasi tanpa menyerang

Pembicaraan soal keluarga memang sensitif. Salah sedikit, pasangan bisa merasa diserang dan jadi defensif. Karena itu, cara menyampaikannya jauh lebih penting daripada isi keluhannya.
Gunakan sudut pandang perasaan, bukan tuduhan. Sebagai contoh, ungkapkan bahwa kamu merasa kurang dilibatkan atau merasa rumah tangga jadi kurang mandiri. Dengan pendekatan ini, obrolan lebih mungkin berakhir sebagai diskusi, bukan debat.
4. Sepakati batasan kecil dulu

Membuat batasan besar langsung biasanya sulit. Lebih realistis dan mudah dipraktikkan kalau dimulai dari hal kecil. Sebagai contoh, keputusan tertentu cukup dibicarakan dan disepakati berdua, tanpa melibatkan pihak lain, kecuali memang perlu. Batasan kecil ini membantu pasangan belajar mengambil keputusan bersama. Dari situ, rasa percaya diri dan kemandirian bisa tumbuh perlahan.
5. Libatkan keluarga dengan porsi yang sehat

Membuat batasan bukan berarti harus benar-benar menjauhi keluarga. Yang perlu diatur adalah porsinya. Keluarga tetap bisa dilibatkan pada momen tertentu, tapi bukan sebagai penentu utama setiap keputusan rumah tangga. Ketika peran keluarga jelas, hubungan cenderung lebih sehat. Tidak ada pihak yang merasa tersingkir, tapi juga tidak ada yang terlalu mendominasi.
6. Evaluasi dampaknya ke hubungan kalian

Ketergantungan yang berlebihan sering meninggalkan dampak emosional. Ini bisa berupa rasa tidak dihargai, lelah secara mental, atau merasa sendirian dalam pernikahan. Hal-hal ini perlu dievaluasi dengan jujur. Kalau kamu mulai merasa tidak nyaman, itu bukan hal sepele. Hubungan yang sehat seharusnya memberi ruang tumbuh bagi kedua belah pihak, bukan hanya satu. Jadi, ajak pasanganmu berdiskusi untuk mengevaluasi dampaknya untuk pernikahan kalian.
7. Pertimbangkan bantuan pihak ketiga

Jika komunikasi berulang kali menemui jalan buntu, tidak ada salahnya mempertimbangkan konselor atau pihak netral. Bantuan ini bukan tanda kegagalan, melainkan upaya menjaga hubungan tetap sehat. Kadang, pasangan lebih mudah memahami sudut pandangmu saat ada pihak lain yang membantu menjembatani pembicaraan.
Menghadapi pasangan yang terlalu bergantung pada keluarga memang butuh kesabaran dan kejelasan sikap. Ini bukan untuk memutus hubungan dengan keluarga, tapi untuk membangun rumah tangga yang mandiri. Selama ada niat saling memahami dan bertumbuh, perubahan tetap mungkin terjadi. Jadi, tetap semangat, ya!


















