Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Kenapa Sudah Menikah tapi Merasa Kesepian? Ini Penyebabnya!
ilustrasi pasangan berkonsultasi dengan profesional (pexels.com/shvetsproduction)
  • Kesepian dalam pernikahan dapat muncul saat komunikasi berkurang, masalah dipendam, dan kebutuhan emosional tidak tersampaikan, meski pasangan selalu berada di dekat.
  • Kesibukan pekerjaan, anak, serta urusan rumah bisa mengurangi waktu berkualitas, membuat pasangan hanya berbagi tempat tinggal tanpa kedekatan yang nyata.
  • Membebankan seluruh kebutuhan sosial pada pasangan dan membandingkan hubungan dengan media sosial dapat memperbesar kekecewaan serta rasa kurang terhubung.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Menikah sering dianggap sebagai cara untuk memiliki teman hidup yang selalu ada. Namun, seseorang tetap bisa merasa kesepian meski setiap hari bersama pasangan. Kondisi ini bisa terjadi ketika hubungan terasa jauh atau kebutuhan emosional gak terpenuhi.

Kesepian dalam pernikahan juga gak selalu berarti hubungan sedang bermasalah besar. Selain itu, kualitas hubungan dan rasa terhubung dengan orang lain turut menentukan apakah seseorang merasa kesepian. Lantas, apa saja yang bisa membuat seseorang merasa kesepian meski sudah menikah? Yuk, ketahui lewat artikel berikut!

1. Kurangnya komunikasi dengan pasangan

ilustrasi pasangan yang sedang bersedih (pexels.com/rdne)

Komunikasi yang semakin jarang bisa membuat pasangan perlahan merasa jauh. Ketika kalian gak lagi terbiasa bercerita tentang kegiatan atau perasaan sehari-hari, hubungan bisa terasa sekadar menjalankan rutinitas bersama. Kondisi ini akhirnya membuat salah satu pihak merasa gak dipahami meski selalu berada di dekat pasangan.

Masalah kecil juga bisa menumpuk ketika gak pernah dibicarakan. Pasangan mungkin memilih diam atau menghindari percakapan karena merasa gak akan mendapat respons yang diharapkan. Lama-kelamaan, jarak emosional pun terbentuk dan rasa kesepian semakin kuat.

“Kamu bisa saja berada dalam sebuah pernikahan dan pernikahan itu mungkin gak memberikan dampak positif untukmu. Kamu bisa merasa kesepian di tengah keramaian dan kamu juga bisa merasa kesepian dalam sebuah pernikahan,” ujar Dr. Ellen Lee, pakar kesepian dan profesor madya psikiatri di University of California, San Diego, dikutip dari HuffPost.

2. Terlalu sibuk dengan pekerjaan dan keluarga

ilustrasi pasangan sedang menikmati momen bersama (pexels.com/olly)

Pekerjaan, anak, urusan rumah, dan tanggung jawab lain bisa membuat pasangan semakin jarang punya waktu berdua. Kalian mungkin tinggal di rumah yang sama, tetapi hampir gak punya kesempatan untuk benar-benar berbicara atau menikmati kebersamaan. Jika terus terjadi, hubungan bisa terasa seperti sekadar berbagi tempat tinggal.

Waktu untuk makan bersama, mengobrol sebelum tidur, atau melakukan aktivitas berdua pun semakin berkurang. Kesibukan akhirnya membuat hubungan lebih mudah dikesampingkan tanpa disadari. Padahal, waktu berkualitas tetap dibutuhkan agar pasangan merasa dekat dan terhubung.

3. Mengharapkan pasangan memenuhi semua kebutuhan sosial

ilustrasi pasangan berdebat (pexels.com/budgeronbach)

Memiliki pasangan bukan berarti seluruh kebutuhan sosial dan emosional harus dipenuhi oleh satu orang. Ketika pasangan diharapkan selalu menjadi tempat bercerita, bersosialisasi, sekaligus sumber utama dukungan, hubungan bisa terasa semakin terbebani. Kekecewaan pun muncul ketika pasangan gak mampu memenuhi semua kebutuhan tersebut.

Menurut Lee, hubungan yang bermakna bisa ditemukan dari berbagai orang dalam kehidupan. Pertemanan, keluarga, komunitas, hingga interaksi sederhana dengan orang lain dapat membantu seseorang tetap merasa terhubung. Karena itu, menjaga hubungan sosial di luar pernikahan juga penting untuk mengurangi rasa kesepian.

“Tampaknya gak terlalu penting hubungan itu seperti apa selama kebutuhanmu terpenuhi. Itu adalah bagian yang paling penting dalam menjalankan fungsi sosial,” ujar Dr. Ellen Lee.

4. Gak terbuka soal perasaan dan kebutuhan

ilustrasi pasangan berdebat (pexels.com/alexgreen)

Kedekatan dalam pernikahan gak hanya dibangun melalui kehadiran fisik, tetapi juga keterbukaan. Ketika jarang membicarakan ketakutan, impian, kekecewaan, atau kebutuhan emosional, pasangan mungkin gak memahami apa yang sebenarnya kamu rasakan. Akibatnya, hubungan bisa terlihat baik dari luar tetapi terasa kosong di dalam.

Rasa takut memicu konflik juga bisa membuat seseorang memilih memendam perasaan. Padahal, pasangan gak mungkin mengetahui kebutuhan yang gak pernah disampaikan. Semakin lama dipendam, semakin besar kemungkinan seseorang merasa sendirian dalam hubungan.

5. Membandingkan pernikahan dengan hubungan orang lain

ilustrasi pasangan duduk di taman (pexels.com/budgeronbach)

Media sosial membuat kita mudah melihat hubungan orang lain yang terlihat romantis dan harmonis. Foto liburan, kejutan, atau kencan pasangan lain bisa membuat pernikahan sendiri terasa kurang istimewa. Padahal, yang terlihat di media sosial biasanya hanya sebagian kecil dari kehidupan mereka.

Perbandingan tersebut bisa membuat ekspektasi terhadap pasangan semakin tinggi. Ketika kenyataan gak sesuai dengan gambaran hubungan ideal di media sosial, seseorang bisa merasa kurang dicintai atau diperhatikan. Penggunaan media sosial yang berlebihan juga dapat mengurangi waktu untuk berinteraksi langsung dengan pasangan.

Kesepian dalam pernikahan gak selalu soal kurangnya waktu bersama, tetapi juga komunikasi dan kualitas hubungan. Jika mulai merasakannya, coba bicarakan dengan pasangan tanpa saling menyalahkan agar hubungan kembali terasa dekat.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article