Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
ilustrasi pasangan bertengkar
ilustrasi pasangan bertengkar (pexels.com/Timur Weber)

Intinya sih...

  • Pertengkaran berulang biasanya berasal dari masalah yang belum terselesaikan.

  • Siklus ini bisa diputus dengan kesadaran, komunikasi, dan strategi yang tepat.

  • Konflik dapat menjadi sarana bertumbuh jika disikapi dengan sehat.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Tidak ada hubungan yang bebas dari konflik dan pertengkaran. Akan tetapi, kalau tiap pertengkaran punya pola yang berulang, siapa yang tak lelah, sih? Mengulang argumen-argumen tanpa henti mengenai masalah yang sama dapat mengurasi energi dan mengganggu hubungan. Lagi pula, pola pertengkaran yang berulang bisa mengindikasikan adanya masalah yang belum teratasi.

Entah itu pertengkaran tentang pekerjaan rumah tangga, berselisih tentang keuangan, atau mengungkit masalah lama, siklus ini sering kali berasal dari kebutuhan yang tidak terpenuhi, komunikasi yang buruk, atau trauma yang belum terselesaikan. Namun, kamu dapat menghentikannya dengan kesadaran dan strategi yang tepat sasaran. Di sini, kita akan menguraikan langkah-langkah untuk mengidentifikasi dan menghentikan pola-pola ini.

1. Mengenali pola dalam pertengkaran

ilustrasi pasangan bertengkar (pexels.com/RODNAE Production)

Langkah pertama yang perlu kamu lakukan ialah mengenali siklusnya. Pertengkaran berulang sering kali mengikuti pola yang dapat diprediksi. Berikut cara yang bisa kamu lakukan untuk mengidentifikasi polanya.

  • Lacak pemicu
    Buat jurnal selama seminggu. Catat apa yang memicu pertengkaran, sensasi fisik, dan frasa yang berulang, seperti "Kamu selalu...," atau, "Kamu gak pernah ...."

  • Identifikasi peran
    Biasanya, satu pihak sering berperan sebagai penuntut perhatian, sementara yang lain cenderung menutup diri. Kesadaran bisa sangat mengurangi reaktivitas.

  • Perhatikan tanda-tanda eskalasi
    Pertengkaran meningkat melalui luapan emosi, tepatnya saat emosi mengalahkan pemikiran rasional. Coba berhentilah sejenak jika detak jantung terasa lebih kencang dan emosi mulai memuncak.

2. Memahami akar penyebab

ilustrasi suami dan istri sedang bertengkar (pexels.com/Alex Green)

Pertengkaran yang berulang jarang disebabkan oleh masalah yang terlihat di permukaan. Perdebatan sehari-hari kerap menutupi kebutuhan emosional yang lebih dalam, seperti keinginan untuk dihargai, merasa aman, atau diperhatikan. Menggali lebih dalam akan mengungkap mengapa pola tersebut terus berlanjut. Adapun, beberapa contoh akar penyebab pertengkaran yang kerap luput dari perhatian:

  • mengomel saat pasangan telat pulang karena merasa tidak diprioritaskan;

  • marah saat pasangan menaruh handuk sembarangan karena merasa selalu melakukan segalanya sendiri atau usaha tidak dihargai;

  • marah saat pasangan belanja sesuatu yang remeh karena cemas akan kondisi finansial.

3. Strategi praktis untuk menghentikan siklus

ilustrasi laki-laki sedang meminta maaf (pexels.com/Alex Green)

Memutus pertengkaran berulang itu butuh strategi yang konkret, bukan sekadar niat "harus sabar" atau "selalu mengalah". Adapun, strategi ini paling efektif dilakukan saat suasana sedang tenang, bukan saat emosi sudah meledak. Berikut strategi untuk menghentikan siklus pertengkaran berulang.

  • Hit the pause button
    Saat emosi sudah tinggi, otak sulit bekerja secara rasional. Melanjutkan debat justru membuat kata-kata yang keluar makin menyakitkan. Karena itu, perlu jeda yang disengaja dan disepakati bersama. Ingat, ini bukan kabur, tapi melanjutkan diskusi setelah tenang.

  • Gunakan pernyataan aku dan validasi
    Pernyataan seperti, "Kamu selalu ...," justru membuat pasangan makin defensif. Jadi, ganti pernyataan dengan aku dan lanjutkan dengan mengungkapkan keinginanmu. Sebagai contoh, "Aku pusing kalau lihat rumah berantakan." Jangan lupa sertakan validasi, seperti, "Aku paham kenapa ini bikin kamu frustrasi."

  • Perbaiki saat itu juga
    Perbaikan kecil membangun kembali kepercayaan dan menurunkan emosi. Permintaan maaf, humor, dan ungkapan sayang akan membuat situasi jadi lebih dingin.

  • Bangun ritual positif
    Lawan negativitas dengan interaksi positif, misalnya quality time dan apresiasi harian.

4. Pencegahan jangka panjang

ilustrasi suami dan istri sedang melakukan konseling (pexels.com/Anthony Shkraba)

Selain mengatasi masalah yang muncul, penting juga untuk melakukan pencegahan jangka panjang. Berikut hal yang bisa kamu lakukan demi perubahan yang berkelanjutan.

  • Evaluasi hubungan mingguan
    Diskusikan kemajuan, pola yang masih ada, dan ingatkan kembali tujuan bersama.

  • Cari bantuan profesional
    Terapi pasangan dapat membantu mengidentifikasi akar masalah dan memecah kebiasaan buruk yang mendalam.

  • Pengembangan diri
    Bangun kecerdasan emosional dengan banyak membaca buku, mendengar siniar, meditasi, dan journaling.

  • Pantau kemajuan setiap bulan
    Lihat apakah pertengkaran berkurang, hubungan semakin erat, atau hubungan masih jauh dari tujuan.

Mengatasi pertengkaran yang berulang bukan tentang menghilangkan konflik sepenuhnya, melainkan mengubah cara menyikapinya. Proses ini memang membutuhkan kesabaran karena pola lama tidak terbentuk dalam semalam. Namun, dengan usaha yang konsisten, konflik justru bisa menjadi ruang bertumbuh bagi hubungan. Mulailah dari langkah kecil hari ini karena satu perubahan sederhana sudah cukup untuk memulai.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team

EditorYudha ‎