Kenapa Cerita Kekerasan Seksual Malah Berakhir Memuji Pasangan?

- Publik lebih mudah memuji pasangan karena penerimaan terlihat jelas, sementara keberanian penyintas sering tak kasatmata.
- Pujian pada pasangan berangkat dari cara pandang lama yang keliru, seolah penyintas membawa beban yang harus ditoleransi.
- Narasi ini menggeser fokus dari perjuangan penyintas dan mereduksi pengalaman traumanya menjadi latar bagi orang lain.
Cerita tentang penyintas kekerasan seksual sering muncul di media sosial, komentar teman, bahkan percakapan santai sehari-hari. Normalnya, kisah seperti ini akan dibaca sebagai bentuk keberanian seseorang membuka masa lalu pahit dan mencari hidup baru. Dari sana, penyintas berusaha melangkah menuju kehidupan yang lebih aman dan bermakna.
Kenyataannya, reaksi publik justru sering melenceng. Fokus berubah menjadi pujian kepada pasangan penyintas yang baru karena mau menerima, mendengar, atau “mau tetap menikah”. Berikut beberapa sudut sederhana kenapa fenomena memuji pasangan penyintas muncul dan kenapa rasanya salah sasaran.
1. Orang lebih nyaman mengapresiasi hal yang terlihat

Banyak orang tumbuh dalam budaya yang membuat topik kekerasan seksual terasa sulit dibahas. Itu sebabnya, hal yang gampang dilihat jadi pegangan aman. Saat ada penyintas yang menikah, lalu terbuka soal masa lalunya, sorotan mudah diarahkan pada pasangan yang mendampingi karena dianggap wujud nyata penerimaan. Keberanian penyintas tidak kasatmata sehingga publik kurang paham cara mengekspresikan dukungan. Di sisi lain, masyarakat masih bingung memberi komentar tanpa takut salah bicara. Dampaknya, apresiasi terhadap penyintas tenggelam.
Sikap ini membuat banyak penyintas merasa kisahnya berpindah kepemilikan, seolah pengalaman beratnya berubah menjadi panggung pujian bagi orang lain. Fokus publik yang salah arah juga menumbuhkan pandangan bahwa pantas atau tidaknya seseorang dicintai ditentukan oleh masa lalu. Hal seperti ini menambah beban dalam proses pulih yang sudah berat sejak awal.
2. Bentuk pujian lama yang belum diperbarui

Kalimat, “Keren, ya, pasangannya mau menerima,” terdengar manis. Namun, itu berasal dari cara pandang lama yang menilai penyintas sebagai pihak bermasalah. Ungkapan ini seperti menyiratkan penyintas membawa beban moral yang harus ditoleransi orang lain. Padahal, penyintas tidak melakukan kesalahan apa pun dan kekerasan seksual merupakan kejahatan yang jatuh pada dirinya tanpa persetujuan. Jadi, logikanya terbalik.
Penggunaan pujian dengan model seperti ini memperpanjang bias yang menempatkan penyintas pada posisi defensif dalam hidupnya sendiri. Alih-alih membangun kepercayaan diri bahwa ia layak pulih tanpa syarat, komentar seperti ini justru menguatkan anggapan bahwa penyintas harus bersyukur karena masih dicintai. Sementara, pasangan diposisikan sebagai sosok penyelamat.
3. Penyintas sering dipaksa menjadi figur inspiratif

Ada kebiasaan sosial yang menuntut setiap cerita kelam harus ditutup dengan akhir bahagia. Di mata publik yang terbiasa mencari sisi positif dari hal paling buruk sekalipun, pasangan menjadi simbol mudah untuk ditempel sebagai bukti bahwa cerita berakhir indah. Tekanan ini membuat penyintas dipilih menjadi tokoh inspiratif, bukan manusia yang ingin hidup tanpa dinilai.
Narasi positif seperti ini jelas terdengar ringan, tetapi seringnya justru menutupi perjalanan pahit yang tidak terlihat publik. Penyintas bisa merasa tidak bebas mengekspresikan marah, sedih, atau kecewa karena takut dianggap tidak kuat. Padahal, pemulihan tidak lurus, tidak harus penuh pelajaran hidup, dan tidak wajib memotivasi siapa pun.
4. Banyak orang masih bingung soal kejahatan seksual

Masih banyak orang yang menilai kekerasan seksual hanya dari permukaan, seakan penyintas bisa melupakan kejadian itu begitu bertemu pasangan baru yang baik. Ketidaktahuan ini membuat publik menyediakan respons paling dekat yang mereka pahami: memuji pasangan. Mereka sering tidak sadar bahwa penyintas membawa trauma yang kadang muncul bertahun-tahun setelah kejadian. Perasaan takut, gelisah pada malam hari, hingga sulit percaya orang lain masih membuntuti.
Karena pengetahuan publik terbatas, apresiasi diarahkan ke orang yang terlihat di sisi penyintas saja. Hal ini membuat penyintas kembali direduksi menjadi pelengkap cerita orang lain. Padahal, ia memerlukan ruang aman, bukan kompetisi paling layak dicintai.
5. Kekaguman yang salah tempat

Salah satu alasan pujian diarahkan ke pasangan merupakan asumsi bahwa penyintas menjadi beban dalam sebuah perkawinan. Komentar spontan seperti, “Hebat, ya, pasangannya mau menerima,” muncul dari anggapan bahwa kisah kelam membuat nilai seseorang turun. Pandangan miring seperti ini membuat penyintas kehilangan haknya sebagai pusat kisah yang dialami tubuh dan pikirannya sendiri. Ia tidak dilihat sebagai seseorang yang selayaknya dihormati tanpa syarat.
Jika penghargaan diarahkan tepat sasaran, penyintas akan mendengar kalimat sederhana seperti, “Kamu luar biasa sudah berani terbuka tentang ini.” Pujian semacam ini membuat penyintas merasa dirinya dilihat sebagai manusia yang tetap utuh. Sementara, pasangan dapat dihargai seperlunya tanpa melampaui tokoh utama dalam cerita. Dengan begitu, publik bisa mulai belajar mana yang layak diberi sorotan.
Pujian terhadap pasangan sering terdengar, tetapi malah mengerdilkan perjuangan dari penyintas yang sudah melalui proses panjang. Perlu waktu agar orang memahami bahwa keberanian penyintas patut mendapat apresiasi, jangan sampai kalah oleh rasa kagum yang salah tempat. Kalau kelak kamu mendengar kisah serupa, kira-kira komentarmu akan jatuh ke mana?


















