Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Jangan Asal! Jawab 5 Pertanyaan Ini Sebelum Menikah untuk Kedua Kali

Jangan Asal! Jawab 5 Pertanyaan Ini Sebelum Menikah untuk Kedua Kali
unsplash.com/alexb

It's never too late to live happily ever after.

Bila kamu pernah gagal berumah tangga, ini bukan berarti kebahagiaanmu telah berakhir. Memang tidak ada satu orang pun yang menginginkan rumah tangganya berakhir. Namun, pada beberapa kondisi, perceraian menjadi jalan keluar terbaik bagi sebuah keluarga.

Tak jarang, pascacerai, seseorang memutuskan menikah untuk kedua kalinya. Bila kamu termasuk salah satunya, jawab dan pertimbangkan lima pertanyaan ini sebelum benar-benar memutuskan memulai rumah tangga lagi. Bukan apa-apa, hal ini tentu bertujuan agar rumah tanggamu yang baru tidak bernasib sama seperti yang dulu.

1. Apakah pernikahanmu yang sebelumnya telah benar-benar berakhir?

unsplash.com/nate_dumlao
unsplash.com/nate_dumlao

Sebelum memulai lembaran baru, hubunganmu dengan mantan harus telah benar-benar berakhir. Bukan hanya keputusan hukum di pengadilan, namun juga perasaan di dalam hatimu.

Bercerai berbeda 180 derajat dengan putusnya hubungan pacaran. Pernah hidup seatap, bahkan hingga mempunyai anak, tentu membutuhkan upaya ekstra untuk move on. Jangan sampai pernikahanmu yang kedua masih dibayang-bayangi oleh kenangan bersama mantan suami atau istri.

2. Apa penyebab rumah tanggamu sebelumnya berakhir?

unsplash.com/drewcoffman
unsplash.com/drewcoffman

Siapa sih yang ingin rumah tangganya gagal untuk kedua kali? Kamu perlu memikirkan mengapa rumah tanggamu sebelumnya bisa gagal. Hal ini penting untuk dipahami sebelum memulai hubungan baru.

Terlepas dari siapa yang salah, menganalisis penyebab retaknya pernikahan bisa membantumu menjadi partner hidup yang lebih baik bagi pasangan barumu kelak. Kamu juga bisa belajar dari kegagalan agar kesalahan tidak terulang lagi.

3. Apakah kamu mampu dan siap membangun rumah tangga lagi?

unsplash.com/Jessica Rockowitz
unsplash.com/Jessica Rockowitz

Pertanyaan ini bukan berarti seorang janda atau duda tidak boleh menemukan kebahagiaannya lagi. Kemampuan dan kesiapan ini harus dipikirkan secara hati-hati.

Sebab, memutuskan menikah berarti mengambil tanggung jawab serius bersama orang baru. Sementara, setelah rumah tangga sebelumnya berakhir, kamu telah terbiasa hidup secara mandiri. Kamu juga harus ingat bahwa yang menikah bukan hanya kamu dan dia, namun juga melibatkan keluarga kedua belah pihak.

4. Apakah kamu mendapat tekanan dari orang sekitar?

unsplash.com/christnerfurt
unsplash.com/christnerfurt

Baik yang pertama atau kedua, pernikahan seharusnya berasal dari keinginan diri sendiri, bukan tekanan dari luar. Apabila kamu menikah hanya karena dorongan orang atau lelah dengan stereotip sebagai seorang janda atau duda, sebaiknya kamu mengambil langkah mundur.

Tanya pada dirimu sendiri apakah kamu benar-benar ingin menikah lagi? Pilihan ada di tanganmu sebab kamulah yang akan menghabiskan sisa waktu bersama orang baru kelak.

5. Apakah kamu ingin memiliki anak di pernikahan kedua?

pixabay.com/Craig Adderley
pixabay.com/Craig Adderley

Berbeda jauh dari pernikahan pertama yang sebagian besar pasangan ingin segera mempunyai momongan, di pernikahan kedua, persoalan anak harus dibicarakan di awal.

Apakah kamu dan atau dia memiliki anak dari pernikahan sebelumnya? Siapa yang mengasuh? Apakah anak tinggal bersama kamu dan pasangan atau bersama mantan? Bila akan tinggal bersama, bagaimana upaya menyatukan anakmu dan anak calon pasanganmu? Pada pernikahan kalian nanti, apakah berencana menambah momongan?

Pertanyaan-pertanyaan ini penting sebab pada pernikahan kedua nanti bukan hanya kamu dan pasangan yang bersatu, namun juga anak-anak.

Jadi, sekarang sudah tahu kira-kira apa saja pertanyaan yang harus kamu jawab dan pertimbangkan sebelum menikah untuk kedua kalinya, kan? Jangan asal ambil keputusan, ya!

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Yudha ‎
EditorYudha ‎
Follow Us