Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

5 Pertanyaan untuk Cek Calon Pasanganmu Pelit atau Bijak soal Uang

ilustrasi diskusi
ilustrasi diskusi (pexels.com/Ron Lach)
Intinya sih...
  • Cara pasangan merespons obrolan uang menunjukkan apakah ia melihat hubungan sebagai kerja sama atau beban.
  • Sikap terhadap pengeluaran kecil sehari-hari sering lebih jujur daripada janji besar soal masa depan.
  • Pasangan yang bijak uang cenderung mencari kompromi, bukan sekadar menekan atau menghitung secara kaku.
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Topik tentang pasangan pelit lagi ramai berseliweran di media sosial. Setiap kali orang membahas rencana pernikahan, makin banyak yang sadar bahwa kenyamanan hidup setelah menikah sangat ditentukan oleh cara pasangan mengatur uang. Banyak calon pasangan ingin memastikan kehidupan bersama berjalan nyaman, tetapi bingung harus mulai dari mana agar pembicaraan tetap wajar dan tidak terasa menginterogasi.

Tidak sedikit pula yang baru menyadari sikap pasangan terhadap uang setelah menikah dan merasa kaget dengan keputusan sepihak yang muncul kemudian. Karena itu, memahami cara pasangan memandang uang sama pentingnya dengan kecocokan secara perasaan. Sikap tersebut biasanya muncul dalam hal-hal paling sederhana. Berikut lima pertanyaan yang dapat membantu membaca karakter pasangan terkait urusan finansial.

1. “Kalau suatu hari aku ingin berhenti bekerja, bagaimana menurutmu?”

ilustrasi diskusi
ilustrasi diskusi (pexels.com/Antoni Shkraba Studio)

Pertanyaan ini bisa kamu sisipkan dalam obrolan santai. Ada pasangan yang menyambut santai, lalu memberi solusi, misalnya mencari pemasukan tambahan atau sepakat menyesuaikan pengeluaran. Ada juga yang langsung menolak, “Janganlah, rasanya berat. Kamu juga harus kerja. Aku gak mau kerja sendirian, sementara kamu enak-enakan di rumah menikmati hasil kerja keras aku,” lalu diikuti keluhan panjang soal ekonomi. Dari jawaban itu, kamu dapat menangkap apakah ia melihat pernikahan sebagai kerja sama atau beban yang dibagi rata tanpa konteks.

Beberapa hari setelahnya, perhatikan apakah pasangan mengajak ngobrol lanjutan soal anggaran atau rencana keuangan dasar. Sikap seperti itu menunjukkan ia memikirkan konsekuensinya, bukan cuma asal bicara. Namun, jika ia justru semakin sering mengeluh atau terus menegaskan kamu harus bekerja tanpa mempertimbangkan kondisi apa pun, kamu patut mempertanyakan kesiapan pribadinya. Dalam hubungan pernikahan, terutama di Indonesia, beban utama tanggung jawab biasanya tetap dipegang oleh suami meski praktiknya ada yang tak demikian.

2. “Untuk hadiah ulang tahun keluarga, menurutmu pantasnya berapa?”

ilustrasi diskusi
ilustrasi diskusi (pexels.com/Ivan S)

Saat memilih hadiah, kamu bisa membuka percakapan dengan angka, misalnya Rp200 ribu atau Rp300 ribu. Pasangan yang santai biasanya setuju memilih rentang wajar dan ikut menentukan barang dengan senang hati. Sikap ini menunjukkan ia memandang hadiah bukan sekadar pengeluaran, tetapi bentuk menjaga hubungan baik. Namun, ada pula pasangan yang langsung berkata hadiah tidak perlu meski situasinya pas atau orang yang diberi adalah keluarga dekat. Itu bisa menjadi tanda ia merasa setiap uang keluar harus dihitung dengan sangat ketat.

Kalau ingin membaca karakter sebenarnya, amati saat hari pemberian hadiah tiba. Pasangan yang nyaman secara finansial akan menyelesaikan urusan tanpa banyak komentar. Sementara, yang pelit akan mempermasalahkan ongkos kirim, selisih kecil, atau minta kamu bayar sebagian tanpa pembicaraan sebelumnya. Lewat hal sederhana ini, kamu bisa menebak bagaimana ia menerapkan standar keuangan dalam situasi hidup yang lebih besar nanti, seperti saat kalian menikah.

3. “Kalau aku ingin melakukan aktivitas A, menurutmu kita bisa dan mau keluar berapa?”

ilustrasi diskusi
ilustrasi diskusi (pexels.com/Ivan S)

Pertanyaan seperti ini muncul saat kamu ingin hal seru, seperti spa, ikut lokakarya (workshop) kecil, piknik, atau staycation. Pasangan yang baik akan menghitung kira-kira biaya yang bisa diambil tanpa menghalangi kebutuhan lain. Bahkan, ia akan mengusulkan alternatif yang tetap menyenangkan jika dananya terbatas. Sementara, pasangan pelit cenderung langsung menolak meski aktivitas tersebut bukan sesuatu yang kamu lakukan setiap bulan. Dari sini, terlihat apakah ia melihat kesenangan bersama sebagai bagian dari kebahagiaan atau sekadar beban tambahan.

Saat ia ingin membeli barang kesukaannya, amati apakah prosesnya sama. Pasangan yang adil akan menyeimbangkan kepentingan dirinya dan pasangan. Namun, jika ia boros ketika kebutuhan itu untuk dirinya, tetapi kaku saat untuk berdua, tanda pelitnya makin jelas. Tidak perlu memaksakan tes, cukup amati pola beberapa kali.

4. “Misal gak dikasih kembalian atau parkir lebih mahal sedikit, menurutmu wajar?”

ilustrasi diskusi
ilustrasi diskusi (pexels.com/Pavel Danilyuk)

Pertanyaan ini terdengar remeh, tetapi responsnya bisa sangat jujur. Ada pasangan yang berkata, “Tidak masalah,” ketika kembalian Rp500 tidak kembali atau tarif parkir naik Rp1.000. Lalu ada yang menunggu uang kembalian dan marah jika tidak diberikan. Reaksi kecil ini sering memperlihatkan bagaimana ia memandang uang dalam hidup sehari-hari.

Kamu memang tidak boleh menilai hanya dari satu kejadian. Namun, jika setiap selisih kecil dibahas panjang, ia mungkin memang keberatan melepas uang recehan. Sebaliknya, jika ia hanya berhati-hati dengan pengeluaran saat uangnya mepet, itu hal wajar. Dari momen kecil seperti ini, kamu bisa membayangkan suasana hidup bersama nanti terasa lebih ringan atau penuh hitung-hitungan.

5. “Kalau kita ingin makan di tempat berbeda, menurutmu solusinya apa?”

ilustrasi diskusi
ilustrasi diskusi (pexels.com/Mikhail Nilov)

Ini merupakan contoh pertanyaan untuk membaca bagaimana cara ia mengambil keputusan. Kamu ingin ramen, pasangan ingin piza. Pasangan yang fleksibel akan menyodorkan opsi tengah, misalnya cek antrean, beli takeaway dua tempat, atau giliran salah satu yang memilih. Sementara, pasangan pelit cenderung langsung memilih tempat promo atau paling murah tanpa menanyakan pendapatmu. Pokoknya, apa yang ia mau, kamu harus ikut. Cara ia mengatasi perbedaan selera menunjukkan apakah ia menghargai pendapatmu.

Saat memesan makanan secara daring, situasinya akan jauh lebih jelas. Ongkir ganda jelas jadi topik utama. Jika pasangan langsung menolak dan sering terjadi setiap kali kalian ingin pesan makanan, kamu bisa menilai bagaimana ia memandang uang. Namun, jika ia menawarkan mekanisme bergiliran atau kompromi sederhana, bisa jadi itu pertanda baik.

Memahami cara pasangan memandang uang bukan untuk mencari kekurangan, melainkan memastikan hidup bersama kelak akan terasa ringan bagi kedua pihak. Banyak hal besar justru terlihat dari percakapan pendek dan situasi sehari-hari seperti itu. Semoga pasangan yang kamu nikahi bukan tipe perhitungan, apalagi pelit perkara uang, ya!

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Yudha ‎
EditorYudha ‎
Follow Us

Latest in Life

See More

5 Inspirasi Desain Rumah di Lahan Sempit, Diprediksi Jadi Tren 2026

11 Jan 2026, 09:20 WIBLife