Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
7 Risiko Punya Pasangan Childish, Tak Apa jika Siap Mental
ilustrasi pasangan (pexels.com/Nadirsyah Nadirsyah)
  • Pasangan childish cenderung sering ngambek karena hal sepele, haus perhatian, ingin dimanja, dan mudah merasa kurang diperhatikan.
  • Pola pikir yang pendek dapat membuatnya sulit merencanakan masa depan, menyelesaikan konflik, serta kerap mengancam putus atau cerai saat emosi.
  • Dalam hubungan jangka panjang, pasangan childish berisiko sulit berbagi tanggung jawab, salah memahami ketegasan, dan kurang peka terhadap kebutuhan pasangannya.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Pasangan yang childish atau kekanak-kanakan mungkin sekilas terlihat lucu dan menggemaskan. Kamu bisa menyukai ekspresinya saat kesal atau merengek meminta sesuatu. Dia seperti anak-anak yang mudah membuat siapa pun jatuh sayang.

Namun, jika kalian berpasangan dalam waktu lama, apalagi sampai menikah, belum tentu rasanya akan tetap menyenangkan. Justru sifat kekanak-kanakan dalam diri orang dewasa dapat membuatmu sangat tersiksa menjalani hubungan tersebut. Apalagi, sifat ini tidak lantas berkurang seiring pertambahan usia.

Sekalipun dari segi umur dia lebih tua daripada kamu, itu juga bukan jaminan ia lebih dewasa. Sifat childish pun bisa terdapat dalam diri pria maupun perempuan. Gak apa-apa kalau dirimu siap memiliki pasangan yang matang emosional dan berpikirnya kurang. Ini risiko punya pasangan childish.

1. Ngambekan

ilustrasi pasangan (pexels.com/Ketut Subiyanto)

Semua orang dapat saja ngambek karena kesal akan sesuatu. Bedanya, orang yang childish lebih sering mengambek dibandingkan dengan orang lain. Masalah yang membuatnya ngambek juga bisa sangat sepele.

Misalnya, kamu telat menjemput karena ada tamu mendadak atau jalanan macet. Keduanya di luar kendalimu dan dirimu telah berinisiatif untuk meminta maaf. Akan tetapi, pasangan yang kekanak-kanakan akan tetap ngambek. Bahkan tidak menutup kemungkinan tiada hari tanpa pasanganmu ngambek.

2. Haus perhatian dan ingin selalu dimanja

ilustrasi pasangan (pexels.com/Phương Khánh)

Apakah kamu benar-benar siap untuk mengasuh anak-anak? Kebutuhan orang yang childish akan perhatian melebihi orang seusianya. Dia sudah dewasa, tapi masih seperti anak-anak yang merasa dunia harus terus berpusat padanya seorang diri.

Sedikit saja ia merasa kurang diperhatikan, pasti langsung mengambek seperti poin pertama. Dia juga senang dimanjakan, yang membuatnya merasa sangat nyaman serta aman. Ketika kamu kurang bisa memenuhi ekspektasinya, selain ngambek, ia barangkali juga curiga ada orang lain yang lebih diperhatikan serta dimanjakan olehmu.

3. Cara berpikirnya pendek serta dangkal

ilustrasi pasangan (pexels.com/Minh Hải Nguyễn)

Kemampuan berpikir orang yang kekanak-kanakan tidak mencerminkan usianya. Di usianya yang telah terbilang dewasa, seharusnya dia mampu berpikir secara mendalam dan panjang. Ini memerlukan ketenangan diri serta pikiran yang jernih.

Akan tetapi, orang yang childish cuma bisa memikirkan hal-hal yang mudah terlihat oleh mata. Fokusnya juga hanya untuk hari ini di sini. Efeknya akan sangat terasa ketika kamu mengajaknya mempersiapkan masa depan. Dirimu sudah berpikir untuk puluhan tahun mendatang, sedangkan ia berfokus pada saat ini atau jangka waktu yang jauh lebih pendek. Kamu bakal kesulitan maju bersamanya.

4. Sedikit-sedikit mengancam putus atau cerai

ilustrasi pasangan (pexels.com/César O'neill)

Ini juga tidak terlepas dari cara berpikirnya yang pendek serta dangkal seperti dalam poin sebelumnya. Kemampuannya dalam menyelesaikan masalah menjadi rendah. Dia kesulitan mencari solusi yang lebih bijak atas persoalan kalian.

Meski dirimu telah memberikan gambaran pemecahan masalah yang lebih bijaksana, fokusnya tetap hanya putus atau bercerai apabila kalian telah menikah. Ketika masalahnya sepele pun, kata pisah mudah sekali terlontar. Seakan-akan dia tidak benar-benar memikirkan arti serta konsekuensinya. Ia lebih memperturutkan dorongan emosi saja.

5. Gak bisa diajak berbagi tanggung jawab

ilustrasi pasangan (pexels.com/Khoironi Syifa)

Boro-boro kalian berbagi tanggung jawab dalam rumah tangga. Justru semua hal dibebankan padamu. Kamu sepertinya harus siap mengabdikan seluruh hidupmu agar rumah tangga kalian tetap berjalan. Beberapa tahun pertama barangkali masih cukup oke.

Namun, lama-kelamaan ini akan sangat melelahkan buatmu. Kamu kehabisan energi fisik serta mental sebab mesti menangani segalanya sendirian. Contohnya, tanggung jawab mencari nafkah, membereskan rumah, sampai mengasuh anak. Sementara pasangan cuma bersantai di rumah atau uang hasil kerjanya sepenuhnya buat diri sendiri.

6. Ketegasanmu diartikan galak dan gak sayang

ilustrasi pasangan (pexels.com/terence b)

Sifat kekanak-kanakan juga membuat seseorang terlalu sensitif terhadap perlakuan yang dirasa tidak menyenangkan baginya. Ia akan kerap gagal menerjemahkan sikap tegasmu sebagai galak dan tak sayang. Padahal, keduanya sangat berbeda.

Ketegasanmu dibutuhkan buat membatasi perilaku kekanak-kanakannya yang bisa tidak tepat waktu, tempat, serta situasi. Kamu gak marah-marah. Dirimu hanya mengatakan dengan jelas ya atau tidak, boleh atau jangan dulu, dan sebagainya. Ruang diskusi juga selalu terbuka. Namun, pasangan yang belum matang emosinya keburu baper duluan.

7. Sulit memahami kebutuhan dan keinginanmu

ilustrasi pasangan (pexels.com/king caplis)

Dia suka diperhatikan dan dipahami olehmu. Namun, ia gak bisa melakukan hal yang sama terhadapmu. Sebagai manusia, tentu kamu juga memiliki kebutuhan serta keinginan. Berhubung dirimu telah memiliki pasangan, seharusnya dia dapat cukup memahaminya.

Kalau gak, pemenuhan kebutuhan serta keinginan itu menjadi terhambat. Kebutuhanmu akan perhatian, misalnya, sulit terpenuhi karena dia berada di posisi yang hanya mau diperhatikan olehmu. Sukar untuknya mengerti bahwa kamu juga bisa capek, ingin didukung, dan sebagainya.

Orang dewasa yang masih kekanak-kanakan susah untuk berubah. Kurang pas kalau kamu menjalin hubungan bersamanya sambil berharap seiring waktu dia akan dapat mengikuti kematanganmu. Akan ada risiko punya pasangan childish yang bakal kamu rasakan, seperti bakal tambah capek dengan kelakuannya. Meski begitu, kamu boleh mempertahankan hubungan dengannya, tetapi bersiaplah dengan risikonya pula.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article