"Hubungan masa kecil mungkin mengajarkan kamu agar gak mudah mempercayai orang lain, bahkan orang yang kamu cintai. Hal ini akhirnya membentuk diri kamu yang memiliki ambivalent attachment style," jelas Debra Campbell, seorang psikolog, dilansir mindbodygreen.
Selalu Ragu ke Pasangan? Ini 5 Tanda Ambivalent Attachment Style!

Dalam sebuah hubungan, terdapat istilah attachment style, yakni gaya keterikatan yang bisa memengaruhi cara seseorang berhubungan dengan orang lain. Salah satu jenisnya adalah ambivalent attachment style, yaitu ketika seseorang memiliki kebutuhan cinta yang terlalu mendalam. Gaya keterikatan ini bisa disebabkan juga oleh pola asuh semasa kecil.
Saat memiliki ambivalent attachment style, biasanya kamu menjadi selalu ragu kepada pasangan, sehingga bukan hal yang gak mungkin jika kamu terus menerus mencari perhatian kepada mereka. Kenali beberapa tanda lainnya dari ambivalent attachment style di bawah ini!
1. Kurang menyukai jarak atau LDR

Tanda pertama adalah ketika kamu kurang menyukai atau bahkan benci dengan jarak saat menjalin hubungan. Dilansir mindbodygreen, Sarah Regan, seorang relationship writer, menyebutkan bahwa orang dengan ambivalent attachment style menganggap bahwa jarak adalah sebuah bencana besar.
Saat diharuskan menjalin hubungan dengan jarak atau LDR, kamu gak bisa mempercayai pasanganmu sepenuhnya. Kamu terus menerus meragukan pasangan dan menganggap mereka akan melakukan hal-hal buruk selama jauh darimu.
2. Selalu merasa khawatir secara berlebihan

Ambivalent attachment style juga menyebabkan seseorang memiliki rasa khawatir atau cemas berlebihan atas hubungannya. Dilansir Verywell Mind, Kendra Cherry, seorang psychosocial rehabilitation specialist, menyebutkan bahwa kamu akan kerap merasa khawatir jika pasangan gak mencintaimu.
Sehingga, hubungan yang dijalankan memang penuh dengan rasa gak aman karena kamu terus merasa khawatir. Hal ini juga pada akhirnya bisa menyebabkan pertengkaran atau perdebatan kecil dalam hubunganmu dan frekuensinya mungkin akan cukup sering.
3. Sabotase diri

Tanda lainnya adalah ketika kamu melakukan sabotase diri. Maksudnya, ketika kamu terlalu khawatir dan ragu kepada pasangan, namun akhirnya sikap itu yang malah membuat pasangan semakin menjauh. Tentunya, sikap ini bukan hal yang baik dalam sebuah hubungan.
"Ambivalent attachment style memberikan pola yang merugikan diri sendiri dalam mencoba untuk mencintai. Karena orang dengan ambivalent attachment style biasanya juga memiliki hati yang cukup rentan," kata Debra Campbell.
Contohnya, ketika kamu merasa khawatir dan ragu kepada pasangan, secara gak langsung, mungkin sikap kamu yang selalu curiga itu akan membuat pasangan jenuh dan lelah. Sehingga, bukan hal yang gak mungkin jika pasangan menjauh dan akhirnya bersifat dingin. Jadi, dengan kata lain, kamu lah yang menyebabkan pasangan bertindak seperti itu.
4. Selalu mencari validasi

Karena perasaan ragu dan cemas yang mendominasi, orang dengan ambivalent attachment style sering mencari validasi dari pasangannya. Kamu akan terus bertanya tentang apakah pasangan mencintaimu dan menginginkanmu. Sarah menyebutkan, sebenarnya kamu memang memiliki perasaan ragu yang sangat besar.
Bahkan, ketika pasangan selalu memberikan afeksi atau rasa cintanya, kamu tetap sering merasa ragu sehingga akan terus mencari validasi dengan cara apa pun. Kamu masih sulit percaya bahwa hubunganmu dengan pasangan mungkin saja akan berhasil.
5. Memiliki hubungan on-and-off

Tanda terakhir adalah ketika kamu memiliki hubungan yang on-and-off. Dilansir Marriage, Sylvia Smith, seorang expert blogger, menyebutkan hubungan on-and-off adalah saat kamu dan pasangan kerap bertengkar atau bahkan sampai berpisah, namun setelah itu kembali bersama.
Hal tersebut mungkin merupakan sesuatu yang umum dalam hubungan. Namun dalam ambivalent attachment style, frekuensinya akan lebih sering. Karena orang dengan kondisi ini biasanya menjadi putus asa ketika hubungan berakhir, sehingga akan mencoba berbagai cara agar bisa kembali atau balikan dengan pasangan.
Itulah beberapa tanda dari ambivalent attachment style yang mungkin saja kamu alami. Gaya keterikatan semacam ini bisa membuat hubungan mengarah ke toxic relationship. Jadi, jangan sampai dibiarkan, ya!