Comscore Tracker

Sempat Lumpuh, Stephanie Saing Ceritakan Kegigihannya dalam Berkarier

Ia merintis Tinung Rambu yang bantu anak-anak di Sumba Timur

Menduduki posisi tinggi di pekerjaan tak lantas menjadi hambatan bagi Stephanie Saing untuk tetap menjadi berkat bagi orang lain. Hasil kerja kerasnya di sektor pertambangan, ia salurkan untuk merintis social enterprise, demi meningkatkan kesejahteraan penenun di Sumba Timur. 

Tinung Rambu lahir dari kepedulian dan keprihatinannya terhadap para penenun. Gerakan kecil itu nyata mengobarkan kembali semangat mama-mama penenun untuk bisa berkarya. Melalui wawancara khusus bersama IDN Times pada Senin (29/8/2022), Stephanie Saing membagikan pengalamannya sebagai perempuan tangguh yang berkarya di dunia pertambangan, sekaligus memberdayakan orang lain lewat Tinung Rambu.

1. Kecintaannya pada kain tenun membuat Stephanie semakin mendalami wastra ini dan mempelajari kehidupan asli para pekerja tenun

Sempat Lumpuh, Stephanie Saing Ceritakan Kegigihannya dalam BerkarierStephanie Saing, founder Tinung Rambu (instagram.com/tinungrambu.id)

Kecintaannya pada kain tenun berawal dari hanya mengoleksi saja. Setelah mengumpulkan modal yang cukup, Stephanie akhirnya mantap membangun Tinung Rambu di pertengahan tahun 2019. Pekerjaannya sebagai manager di salah satu konsultan pertambangan menuntutnya untuk handling langsung ke banyak daerah dan membuatnya semakin mengenal betapa indahnya kain tenun.

Stephanie menemukan bahwa sebenarnya kain tenun tidak hanya terbuat dari serat katun saja. Di Kepulauan Sangihe yang berada di Sulawesi Utara memiliki kain tenun yang berasal dari serat pohon pisang. Mirisnya, kain yang seharusnya menjadi warisan bangsa ini mulai banyak yang hampir punah karena tidak ada yang mau melanjutkan.

Hal itu mendorong Stephanie untuk lebih mengenal tenun melalui kehidupan sehari-hari para penenun. Justru keterlibatannya dalam kehidupan bermasyarakat menguak akar masalah yang sama, yakni ketiadaan keinginan penenun untuk maju.

“Tiap beberapa bulan sekali, tiap naik kelas, pembayaran sekolah SPP itu selalu gak ada. Pernah bahkan untuk buat operasi gak ada uang. Kayaknya kalau mulai dari ilmu di tambang bisa gak ya saya buat sesuatu yang menolong? Gak akan bisa banyak. Saya tahu gak akan bisa banyak tapi minimal ada sesuatu yang bisa saya buat,” ujarnya miris melihat kenyataan.

2. Melalui Tinung Rambu, hatinya makin tergerak untuk mendukung pendidikan dan kesehatan anak-anak di daerah kecil

Sempat Lumpuh, Stephanie Saing Ceritakan Kegigihannya dalam BerkarierStephanie Saing dengan Istri Menteri Agraria (instagram.com/tinungrambu.id)

Berangkat dari tiga penenun hingga akhirnya menjadi 12 dan terus berkembang sampai sekarang. Badai pandemik sempat membuat perjalanan Tinung Rambu hampir pupus. Stephanie mengaku bahwa dinamika bisnis ini luar biasa naik dan turun.

Di satu sisi, ia senang karena bisa membuat orang lain merasa bahagia karena memiliki pekerjaan dan pemasukan tambahan. Meski begitu, Stephanie pernah merasa ditusuk dari belakang karena idenya diambil oleh orang lain.

“Namanya orang saya gak bisa kontrol. Beberapa kali dalam proses saya sempat ditusuk. Ibaratnya kita udah punya ide. Barang kita udah jadi malah dijual ke orang. Itu kan harusnya eksklusif kita pegang. Malahan barang itu sekarang jadi banyak banget di pasaran. Tapi bukan kita yang jual. Memang saya ada keterbatasan waktu saat itu di tahun 2020-2021 karena masih ngantor juga,” jelas perempuan yang pernah menempuh S2 di Jepang ini.

Hal tersebut lantas tak menyurutkan motivasi besar Stephanie untuk membantu pendidikan anak-anak PAUD. Sebagian dari apa yang dihasilkan Tinung Rambu disalurkan kembali untuk mendukung PAUD dalam bentuk makanan sehat.

“Nah keuntungannya tadi 30-40 persen tapi rata-rata 40 persen sih kak ya dari tahun 2020 sampai hari ini itu kita kembalikan dalam bentuk support PAUD, misalnya dalam bentuk makanan sehat yang kontinyu terus sampai hari ini. Bantuan pendidikan setiap enam bulan sekali biasanya dalam bentuk seragam sama alat tulis, satu set seragam kak kita berikan, sampai ikat pinggang, baju seragamnya, topi, dasi, kaos kaki, alat tulis, pena, pensil, buku. Terus juga ada vitamin sama obat cacing untuk kesehatan.Untuk masa-masa tertentu seperti kekeringan, itu kita ada bantuan air bersih, itu yang kita support juga,” paparnya.

Di tahun ini, Stephanie berkomitmen untuk mengalokasikan sebagian besar dari penjualan di pameran untuk mendukung pembangunan sekolah. Dari shelter hingga menjadi gedung sekolah tentu saja tidak serta merta dari Tinung Rambu saja, melainkan berkolaborasi juga dengan banyak pihak.

“Jadi memang yang kita dedikasikan dari hasil pameran kita keuntungannya untuk itu pembangunan sekolah dan sekarang sudah bertahap, sudah peletakkan batu pertama, di bulan Juni kemarin sekaligus untuk pelepasan atau wisuda anak TK B nya untuk naik ke SD gitu,” tutur perempuan bergelar Doktor ini.

3. Empati dan komunikasi merupakan dua hal yang mendorongnya untuk bisa menghadapi tantangan di Tinung Rambu

Sempat Lumpuh, Stephanie Saing Ceritakan Kegigihannya dalam BerkarierStephanie Saing, founder Tinung Rambu (instagram.com/tinungrambu.id)

Layaknya seorang bayi yang belajar berjalan dan kerap terjatuh, itulah yang dirasakan Stephanie Saing saat ia menjalankan Tinung Rambu. Terbentur masalah dengan penenun, ia tetap memegang teguh prinsip bahwa empati, komunikasi, dan saling menghargai adalah dasar dari segalanya. 

"Kita bisa lihat kualitas hidup seseorang kan dari bagaimana dia memperlakukan orang lain juga kan. Kalau dia kasar, menjatuhkan orang dan lain itu bagaimana, itu dari saya sih sejauh ini ya. Di masa sekarang bagaimana orang punya empati itu penghargaan. Menghargai bukan berarti menjilat," papar Stephanie.

Berkomunikasi dengan mama-mama penenun merupakan tantangan yang cukup berat untuk Stephanie. Sayangnya, tidak semua orang memiliki pemahaman yang sama. 

"Misalnya ukuran aja, saya minta ukuran 50x180 cm tiba-tiba jadinya 45x160 cm. Itu kan hal yang simpel ya buat kita tapi buat mereka enggak. Mereka maunya seperti itu. Kita kan bekerja bukan dengan mesin. Kita bekerja dengan artist ya, bener-bener creator, seniman, yang mana mereka mengikuti feeling. Mereka mengikuti hati mereka karena itu yang menjadikan saya untuk belajar lebih banyak bagaimana saya menempatkan empati. Bagaimana saya menempatkan komunikasi karena gak sama ya komunikasi kita dengan profesional sama komunikasi kita dengan orangtua gitu lho," jelas lulusan Institut Teknologi Bandung. 

Untuk itu, Stephanie berkomitmen untuk terus menjaga komunikasi dengan para penenun.Ia mengaku tetap berlatih untuk mengaja hubungan dengan membuat jadwal rutin bertemu dengan penenun, bertukar kabar, dan tinggal bersama.

“Jadi memang tidak menempatkan batas bahwa ‘oh gue sebagai bos, oh gue yang beli kain lu, gue yang modalin lu’. Gak gitu, jadi ya saya tinggal bersama mereka seperti family buat mereka sih, itu yang saat ini berjalan,” lanjut Stephanie.

Baca Juga: Kisah Inspiratif Heni Sri Sundani, Mantan TKI yang Gigih Capai Mimpi

4. Sempat mengalami kelumpuhan tetapi Stephanie tetap gigih melanjutkan perkuliahan hingga lulus S3 di usia 24 tahun

Sempat Lumpuh, Stephanie Saing Ceritakan Kegigihannya dalam BerkarierStephanie Saingm founder Tinung Rambu (instagram.com/tinungrambu.id)

Rupanya kegigihan Stephanie dalam mengatasi persoalan yang ada di Tinung Rambu sudah tertanam sejak ia menduduki bangku perkuliahan. Sejak dulu, Stephanie punya hati yang besar untuk bisa mengakses kesehatan dan pendidikan yang lebih baik bagi anak-anak pedalaman. Sayangnya, cita-cita sebagai dokter pupus karena keinginan orangtua agar Stephanie mengenal dunia pertambangan.

“Yang namanya orangtua mikirnya sih kalau top school doang yang dipilih itu kemungkinan diterimanya dikit, kecil banget peluangnya. Saya dibilangin mama, ‘gapapa, masukin tambang. Kamu kan suka ke hutan. Daripada ke hutan gak ada guna mending masukin tambang’. Ambil tambang di ITB ternyata dapet. Awalnya syok karena gak pernah kepikiran sama sekali,” tegasnya.

Begitu memasuki perkuliahan, Stephanie dihadapkan kembali dengan masalah baru. Ia menjelaskan, “Ternyata banyak hal baru dan sama cowok juga udah biasa. Ya sudah saya lanjutin di ITB sampai selesai Teknik Pertambangan. Meskipun banyak drama dan kasus, saya sempat lumpuh 2 tahun. Ke lapangan itu seok-seok banget. Bahkan buat angkat kaki aja gak bisa. Tapi bersyukur Tuhan izinkan saya selesai kuliah. Punya pasangan, teman-teman, dan lingkungan yang mendukung.”

Namun, lingkungan yang awalnya terasa asing untuknya justru memberikan pelajaran hidup baru. Stephanie mengaku bahwa ia banyak sekali belajar tentang sosial dan mengenal beragam karakteristik orang dari perkuliahan.

"Saya juga belajar banyak ketemu orang selama di MAPALA (Mahasiswa Pecinta Alam). Akhirnya pertolongan Tuhan itu gak pernah terlambat. Kadang kita gak kenal malah dia yang nolongin kita. Saya juga belajar sosial dari situ juga. Meskipun saya sempat lumpuh, saya selesaikan sekolah S1 sambil terapi. Lanjut S2 dan akhirnya saya dapat kesembuhan full. Saya lanjut sekolah S3 sampai akhirnya saya selesaikan sekolah S3 di umur 24 tahun kak. Jadi saya waktu itu di Akita University, Jepang, dapat beasiswa khusus dari pemerintah Jepang dan lulus tercepat," imbuhnya.

5. Takut akan Tuhan, menghargai, dan menghormati sesama, merupakan value penting yang selalu dipegang Stephanie

Sempat Lumpuh, Stephanie Saing Ceritakan Kegigihannya dalam BerkarierStephanie Saing, founder Tinung Rambu (instagram.com/tinungrambu.id)

"Menghargai bukan berarti kita mengiya-iyakan orang, tetapi bagaimana kita memperlakukan orang tersebut dengan sepantasnya. Persepsi orang pasti akan bias atau beda-bedalah. Semua akan kelihatan dari bagaimana dia berperilaku dalam hidupnya. Bagaimana dia memperlakukan orang, memperlakukan pekerjaannya. Apa yang dipercayakan ke dia dari sisi integritas, kualitas, disiplin, kejujuran itu akan merangkup jadi satu," pungkas perempuan yang berprofesi sebagai manager dan konsultan di bidang pertambangan.

Dalam berkehidupan sehari-hati, memang beberapa value yang tertanam di hidup Stephanie. Menurutnya, seorang perempuan yang hebat akan terlihat dari bagaimana dirinya berperilaku kepada orang lain. Namun di atas semua itu, ia tetap memprioritaskan Tuhan untuk bekerja di dalam hidupnya.

"Perempuan yang takut pada Tuhannya apa pun agamanya dan itu akan diamalkan dengan jelas dalam kehidupannya ya. Apa pun itu bentuknya, siapa pun yang dipercayai, apa pun yang dipercayai. Nah itu yang pertama takut akan Tuhannya, yang kedua, bagaimana dia menghargai dan menghormati sesamanya. Baik itu perempuan, baik itu laki-laki. Apa pun gendernya atau jenis kelaminnya dan juga makhluk hidup yang lain," terangnya.

Saat ini, Stephanie tetap fokus meniti karier profesional di pertambangan dan Tinung Rambu. Ia merasa punya otoritas dan kesempatan untuk bisa menolong orang lain dengan membuka lapangan pekerjaan.

"Nah itu yang buat saya happy sih, memberikan kesempatan orang lain kerja. Jadi bukan hanya di wastra tapi saya juga memberikan kesempatan orang lain kerja terutama yang muda-muda di bidang tambang, atau pun yang terkait dengan tambang. Tidak hanya hire dan managemen, tapi juga di bidang lain misalnya keuangan," katanya

Melalui profesinya, ia bisa membawa anak-anak dari daerah atau pelosok untuk mendapatkan kesempatan bekerja dan networking. Stephanie berharap apa yang ia kerjakan bisa membuat mereka punya kesempatan untuk kembali ke daerahnya dengan dampak yang positif.

Demikian kisah inspiratif Stephanie Saing dalam berkarier. Semoga bisa menginspirasi kamu untuk tetap memberikan dampak positif dan selalu bersyukur. 

Baca Juga: Cara Nia Sugihrehardja Hidupkan Limbah Karton Susu Jadi Makin Berkelas

Topic:

  • Pinka Wima

Berita Terkini Lainnya