Dalam wawancara dengan IDN Times via telepon, Alamanda sering menyebut sejumlah peran penting yang dimainkan oleh kedua orangtuanya. Bahkan, ia berkata bahwa sangat banyak pesan-pesan yang diberikan oleh mereka, yang kemudian mengantarnya menjadi satu dari sedikit pilar penyangga digital startup di Indonesia.
Sang ibu memberi contoh bahwa keikhlasan dalam bekerja untuk membantu sesama itu penting. Sedangkan Alamanda nampaknya belajar untuk selalu memelihara ambisi dari sang ayah.
"Mereka mendidik saya untuk bekerja dengan hati. Mama saya pernah bekerja di sebuah sekolah dan beliau sering mengantar murid-muridnya pulang ke rumah. Mama mengajarkan bahwa jangan melihat sesuatu dari materi, tapi apa yang bisa kita lakukan untuk orang lain. Sedangkan Papa saya berpesan bahwa saya harus selalu jadi yang berbeda; jadi orang gila di antara orang waras dan jadi orang waras di antara orang gila."
Sang ayah pula yang mengajarinya menyetir mobil di usia sembilan tahun. Bisa jadi itu adalah usaha ayah Alamanda untuk membangkitkan rasa percaya dirinya sejak kecil bahwa dia bisa menjadi sosok pembeda di mana pun berada. Kepindahannya dari Go-Jek ke Kibar hingga sekarang menjadi founder Binar Academy pun tak lepas dari wejangan yang diberikan orangtua.
"Mama saya pernah berpesan 'kamu sekarang sudah berhasil mendidik engineers di Jakarta dan Jogja, tapi jangan lupa Indonesia itu luas banget, banyak yang belum kenal internet, dan sekarang saatnya kamu untuk mengejar itu'."
Meski awalnya dia sempat ragu-ragu apakah bisa mewujudkan pesan itu, namun dia akhirnya menemukan tandem yang tepat bersama Kibar.
Bergabung dengan Kibar tidak berarti melupakan tempatnya belajar dulu, yaitu, di Go-Jek. Alamanda mengaku bahwa Nadiem juga merupakan mentor dan inspirasinya untuk semakin bekerja keras mewujudkan ambisinya.
Dari Nadiem, Alamanda belajar bahwa jika kita berani benar, maka kita juga harus berani salah. Dirinya mencontohkan bahwa suatu saat dia ingin membuka kantor Go-Jek di Jogja. Ketika dia mengungkapkan keinginannya tersebut kepada Nadiem, tanpa pikir panjang bos Go-Jek itu merespon,"Why not?".