TUTUP
SCROLL UNTUK MELANJUTKAN MEMBACA
Gabung di IDN Times

Cerita 3 Peneliti Perempuan dalam Memajukan Dunia Riset Indonesia

#IDNTimesLife ada tantangan tapi tetap seru

dok. LIPI Indonesia

Dalam peringatan Hari Kartini, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) menyelenggarakan Talk to Scientists “Talenta Perempuan untuk Kemajuan Riset Indonesia”. Acara diselenggarakan secara virtual pada (21/4/2021).

Webinar dihadiri oleh tiga peneliti perempuan yang berbagi kisahnya dalam memajukan dunia riset Indonesia. Yuk, simak pemaparannya!

1. Prof. Dwi Listyo Rahayu telah meneliti taksonomi sejak 1988. Ia berkontribusi pada penemuan berbagai genus dan spesies baru Indonesia

Webinar Talk to Scientists “Talenta Perempuan untuk Kemajuan Riset Indonesia”. 21 April 2021. IDN Times/Klara Livia

Prof. Dwi Listyo Rahayu merupakan ahli taksonomi (ilmu yang mempelajari penggolongan atau sistematika makhluk hidup) yang telah meneliti sejak 1988. Selama berkarya, ia telah menemukan 2 genus dan 71 spesies baru kelomang serta 6 genus dan 76 spesies baru kepiting. 

Lebih dari 30 tahun menjadi ahli taksonomi, Prof. Dwi melihat cukup jarang perempuan yang mau terlibat dalam dunia ini. "Di tahun 1992, saya bergabung baru ada 2 perempuan peneliti. 10 tahun kemudian, juga baru ada 10 peneliti. Namun, saat ini, semakin banyak perempuan yang bergabung dalam peneliti laut," ceritanya.

2. Dr. Kurniawati Hastuti Dewi, S.Ip, MA merupakan peneliti yang fokus pada perspektif gender dalam dunia politik

Webinar Talk to Scientists “Talenta Perempuan untuk Kemajuan Riset Indonesia”. 21 April 2021. IDN Times/Klara Livia

Selanjutnya, ada Dr. Kurniawati, peneliti perempuan yang berfokus pada perspektif gender dalam dunia politik sejak tahun 2002. Ia mengikuti perkembangan diskusi perempuan dalam politik dan menerapkan perspektif gender dalam setiap risetnya.

"Perkembangan diskusi perempuan dalam politik semakin berkembang. Awalnya pertentangan, boleh gak perempuan jadi kepala daerah? Lalu, berkembang menjadi dinasti politik perempuan, lalu berkembang lagi menjadi dampak keterlibatan perempuan dalam politik Indonesia," tuturnya.

Baca Juga: Kiprah Sharlini Kenalkan Microbiome Lewat Nusantics

3. Dr. Tjandrawati M.Es.Sc. DU merupakan peneliti Biokimia Farmasi. Ia berkontribusi dalam menciptakan Detection Kit QIRANI 19

Webinar Talk to Scientists “Talenta Perempuan untuk Kemajuan Riset Indonesia”. 21 April 2021. IDN Times/Klara Livia

Terakhir, ada Dr. Tjandrawati M.Es.Sc. DU (Tjandra), peneliti Biokimia Farmasi LIPI. Ia banyak menekuni riset tentang inflamasi dan infeksi. Salah satu penemuan terbarunya adalah detection kit QIRANI 19, formula deteksi virus corona metode RT-LAMP. 

RT-LAMP merupakan teknik deteksi virus corona baru SARS-CoV-2 penyebab COVID-19 berbasis molekuler, yang akurasi dan sensitifitasnya setara dengan Reverse Transcription-Polymerase Chain Reaction (RT-PCR). Sehingga, deteksi negatif atau pun positif bisa ditentukan dalam waktu satu jam.

"Pada awal pandemik, kemampuan untuk screening orang-orang yang terpapar virus secara dini masih rendah. Obat dan vaksin juga belum tersedia. Kami berinisiatif mencari alternatif metode untuk deteksi virus tersebut selain metode PCR,” ungkap Dr. Tjandrawati.

4. Peneliti perempuan harus bekerja dua kali lebih berat daripada peneliti laki-laki

Webinar Talk to Scientists “Talenta Perempuan untuk Kemajuan Riset Indonesia”. 21 April 2021. IDN Times/Klara Livia

Setelah membahas background dan kontribusi para peneliti perempuan ini, webinar juga membahas mengenai tantangan yang dihadapi peneliti perempuan. Menurut Prof. Dwi, peneliti perempuan harus bekerja dua kali lebih berat daripada peneliti laki-laki.

"Perempuan peneliti harus bekerja dua kali lebih berat daripada laki-laki. Terutama di dunia saya, ketika harus melalui medan yang cukup berat, kadang saya pun merasa, 'Duh, mampu gak ya?' Mabok laut, kena lumpur, dan lainnya. Tapi setelah mendapat apa yang saya cari, rasanya semua terbayarkan," terangnya.

Melanjutkan pernyataan Prof. Dwi, Dr. Kurniawati dan Dr. Tjandra merasa peneliti perempuan juga menghadapi dilema tentang peran domestiknya sebagai istri dan juga ibu.

"Perempuan itu ternyata banyak menghabiskan waktunya untuk mengurus rumah. Akhirnya perempuan sulit untuk waktu training. Padahal itu penting sekali, saya sebagai peneliti merasa belum optimal dan ingin mengembangkan lagi," terang Dr. Kurniawati.

"Sejak menikah, saya merasa rumah menjadi kodrat saya, sehingga keluarga jadi prioritas nomor satu. Ketika kita dapat tawaran fellowship keluar negeri, saya sulit menerima karena ingat anak-anak. Jadi, saya hanya menerima tawaran jangka pendek seperti 1-2 bulan saja," ungkapnya.

Baca Juga: 10 Ilustrasi Kekuatan Perempuan Lawan Stigma, Hebat Apa pun Pilihanmu!

Rekomendasi Artikel

Berita Terkini Lainnya