Comscore Tracker

Kiprah Sharlini Kenalkan Microbiome Lewat Nusantics

Bakteri, virus, dan jamur bisa membuat ekosistem sehat lho!

Selama ini, banyak orang melihat bakteri, virus, dan jamur sebagai sumber penyakit. Namun, Sharlini Eriza Putri percaya bahwa mikroorganisme tersebut tidak perlu dihindari. Justru, kehadiran mereka bisa menciptakan ekosistem yang sehat lho! 

Penggambaran di atas menjelaskan microbiome yakni keseimbangan mikroorganisme untuk menciptakan ekosistem yang sehat. Konsep ini sangat dipegang teguh oleh Sharlini hingga akhirnya menciptakan startup bernama Nusantics.

Tentunya, membangun startup berbasis ilmu sains ini gak mudah. Lantas bagaimana kiprah Sharlini mengenalkan microbiome pada masyarakat? Berikut kisah lengkapnya!

1. Sharlini mulai tertarik dengan konsep microbiome sejak melahirkan anak pertamanya

Kiprah Sharlini Kenalkan Microbiome Lewat NusanticsSharlini Eriza Putri dalam Ngobrol Seru : New Normal or The Great Reset: Life After Pandemic COVID-19 IDN Times. ⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣youtube/IDN Times

Perempuan kelahiran 1987 ini mulai mengetahui microbiome ketika awal bekerja di pabrik fermentasi. Dari pembuatan yogurth dan bio etanol, Ia sadar bahwa bakteri ternyata juga penting untuk tubuh. 

Namun, ia baru benar-benar tertarik untuk lebih mempelajari konsep ini ketika memiliki bayi. Ia ingin memberikan yang terbaik untuk anaknya, sehingga mencoba mencari berbagai informasi untuk tumbuh kembang anaknya.

“Waktu lahiran aku galau ini kualitas asinya bagus gak ya. Lalu aku riset dan ketemulah paper bahwa tumbuh kembang bayi itu dipengaruhi oleh suatu jenis bakteri yaitu bifidobacterium infantis yang penting banget untuk ekosistem. Bakteri ini, bisa hidup kalau dia diberi makan ASI," ceritanya dalam wawancara khusus dengan IDN Times (18/6).

Riset tersebut cukup membuatnya kaget, karena saat bayi dahulu ia mengonsumsi susu formula yang dipercaya memiliki banyak nutrisi. Padahal, susu tersebut bisa membunuh bakteri yang krusial untuk bayi.

2. Untuk mengenalkan microbiome kepada masyarakat, Ia mendirikan Nusantics, startup di bidang teknologi genomika

Kiprah Sharlini Kenalkan Microbiome Lewat Nusanticsinstagram/nusantics

Sharlini melihat bahwa microbiome itu sangat penting. Bersama dengan teman-temannya, ia mencoba untuk mengenalkan konsep tersebut pada masyarakat dengan membangun startup berbasis teknologi geonomika. Namun, mengenalkan paradigma baru pada masyarakat ini tidaklah mudah.

"Cukup sulit untuk memperkenalkannya pada masyarakat. Awalnya itu kita punya lab yang bisa lihat gimana bikin bibit yang berkualitas dan lain-lain. Tapi susah, cost-nya mahal dan naikin brand juga susah. Untuk growing itu susah banget. Kalau ditanya jatuh bangunnya itu ya harus gagal gagal dulu," ungkapnya.

Akhirnya, ia mencoba memperkenalkan microbiome dari sektor yang sangat dekat dengan masyarakat, yakni perawatan kulit wajah. Dari sinilah, Nusantics lahir. 

3. Lewat Nusantics, kamu bisa melakukan analisa microbiome kulit untuk memeroleh kulit yang sehat

Kiprah Sharlini Kenalkan Microbiome Lewat Nusanticsinstagram/nusantics

Nusantics lahir dari penelitian terbaru yang melihat keterkaitan antara kulit sehat dengan keseimbangan microbiome dalam kulit wajah kita. Oleh karena itu, ia dan tim menciptakan metode swab kulit untuk melihat biodiversity dari microbiome wajah.

"Di nusantics ada swab kulit kayak swab test COVID. Kalau hasil swab microbiome udah bagus, berarti kulitnya sudah sehat," tutur perempuan berusia 33 tahun ini.

Tidak seperti klinik kecantikan pada umumnya, Nusantic justru menyarankan konsumen untuk tidak memakai produk kecantikan ketika kulitnya sudah sehat. Pasalnya, ketika memakai berbagai produk kecantikan, kita malah bisa merusak keseimbangan microbiome dalam wajah.

"Kalau kita banyak pakai krim-krim, kita kayak kasih makan jamur. Makanya goals-nya kalau bisa gak usah pakai produk apa-apa sudah sehat," terangnya.

Baca Juga: Kisah Perjuangan Sastia Prama Putri Menjadi Peneliti Kelas Dunia

4. Nusantics juga terlibat untuk membuat test kit COVID-19. Menurutnya, analisa microbiome kulit lebih sulit daripada virus tersebut

Kiprah Sharlini Kenalkan Microbiome Lewat Nusanticseast.vc

Ketika virus COVID-19 mulai masuk ke Indonesia, Sharlini melihat metode tes COVID-19 ini serupa dengan apa yang mereka kerjakan di Nusantics. Oleh karena itu, Nusantics bergabung dengan East Venture dalam program Indonesia Pasti Bisa untuk membuat 1000 test kit ke seluruh Indonesia.

"Analisis microbiome kulit tuh lebih susah daripada virus COVID-19. Kulit itu bakterinya bisa ratusan bahkan ribuan. Tapi kalau COVID kan cuma satu jenis virus aja," ungkapnya.

Proyek pembuatan1000 test kit ini pun sudah terselesaikan dalam waktu 3 minggu dan telah disebarkan di seluruh Indonesia. 

5. Dari microbiome, Sharlini percaya bahwa semua makhluk hidup berhak hidup. Ia berharap hal ini membuat kita selalu hidup menghargai alam

Kiprah Sharlini Kenalkan Microbiome Lewat Nusanticseast.vc

"Kita ini ekosistem yang hidup. 50 persen dari badan kita itu sebenarnya microbiome yaitu bakteri, virus, dan jamur. Selama ini seolah kita lawan mereka, padahal mereka ada di badan kita. Dan mereka ini fungsinya penting dan membentuk sistem imun kita juga," ungkap sarjana teknik Kimia ITB tersebut.

Melalui microbiome, ia belajar bahwa semua mahluk hidup memiliki perannya masing-masing dalam keseimbangan ekosistem. Dari sini, ia berharap manusia pun lebih menghargai alam.

"Aku harap semua orang paham bahwa di suatu ekosistem itu semua mahluk hidup berhak hidup termasuk bakteri dan virus. Jadi kita itu harusnya hidup sederhana saja dan menghargai alam," tutupnya.

Baca Juga: [WANSUS] Peneliti Oxford: Manusia Harus Belajar Hidup Bersama COVID-19

Topic:

  • Klara Livia
  • Pinka Wima

Berita Terkini Lainnya