ilustrasi kebaya urban jadi simbol ekspresi diri (pexels.com/Vincensius Seno Aji Pradhana)
Dilansir laman Museum Sonobudoyo Yogyakarta, sejarah kebaya diperkirakan telah berlangsung selama berabad-abad dan berkaitan erat dengan perdagangan serta pertukaran budaya di Nusantara.
Pada masa ketika jalur perdagangan di kawasan Selat Malaka ramai didatangi pedagang dari berbagai wilayah, terjadi interaksi antara masyarakat lokal dengan pendatang dari Arab, Persia, Tiongkok, dan kawasan lainnya. Pertemuan berbagai budaya tersebut turut memengaruhi perkembangan cara berpakaian masyarakat Nusantara.
Asal-usul kebaya sendiri masih menjadi perdebatan. Salah satu teori menyebutkan bahwa istilah kebaya kemungkinan berasal dari kata Arab abaya yang merujuk pada pakaian atau jubah. Ada pula teori yang menghubungkannya dengan China maupun istilah Jawa seperti kebyak atau mbayak. Namun, masing-masing teori memiliki keterbatasan sehingga belum ada satu versi yang dapat dianggap sebagai asal-usul kebaya yang mutlak.
Salah satu catatan yang mendukung adanya pengaruh busana dari Asia Barat berasal dari catatan Tiongkok pada masa Dinasti Song (960—1279). Dalam catatan tersebut, utusan dari Jawa disebut mengenakan pakaian yang menyerupai busana orang Persia. Seiring waktu, bentuk busana yang mendapat pengaruh dari luar tersebut beradaptasi dengan budaya lokal dan berkembang menjadi berbagai jenis kebaya di Nusantara, seperti kebaya Jawa dan kebaya encim.