ilustrasi mengobrol (pexels.com/Edmond Dantès)
Selain kata-kata, bahasa tubuh juga memainkan peran penting dalam menghadapi mansplaining. Kontak mata, postur tubuh yang tegak, dan ekspresi yang tenang dapat memberikan sinyal bahwa kamu percaya diri dan tidak membutuhkan penjelasan berlebihan. Hal ini sering kali cukup untuk membuat lawan bicara menyesuaikan cara komunikasinya.
Bahasa tubuh yang tegas membantu menjaga suasana tetap nyaman. Kamu tidak perlu menunjukkan ketidaksukaan secara berlebihan, tetapi cukup memberikan sinyal nonverbal yang jelas. Dengan kombinasi komunikasi verbal dan nonverbal yang tepat, kamu bisa menetapkan batasan tanpa harus memperkeruh situasi.
Tidak semua situasi harus ditanggapi secara langsung. Dalam beberapa kondisi, memilih untuk tidak merespons sama sekali dan langsung mengubah topik pembicaraan bisa menjadi strategi yang bijak. Jika penjelasan yang diberikan tidak terlalu penting atau tidak berdampak signifikan, kamu bisa membiarkannya berlalu tanpa harus memperpanjang diskusi. Tunjukkan bahwa kamu tidak tertarik dengan penjelasannya (yang tentu saja sudah kamu pahami) dan segera bicarakan hal lain.
Mengetahui kapan harus mengakhiri percakapan juga merupakan bentuk kontrol diri yang penting. Pendekatan ini membantu menjaga energi emosional sekaligus menghindari konflik yang tidak perlu, terutama jika situasi tidak memungkinkan untuk diskusi yang lebih terbuka.