Mini Workshop Edukasi Cegah Kekerasan Seksual (dok. Anis Masita)
Anis juga mengembangkan wadah edukasi perlindungan diri bernama Kesatria Anak sekitar tahun 2022-2023. Dari pengalamannya sebagai pendamping anak di kawasan rentan, Anis merasa perlu mengembangkan program ini, untuk meningkatkan awareness anak terhadap berbagai kejahatan dan bagaimana mereka bisa melindungi dirinya sendiri.
“Jadi, anak-anak itu diajarkan bagaimana mereka bisa berdaya dan berani melindungi diri dari ancaman kekerasan. Jadi, di edukasinya itu ada banyak breakdown-nya, banyak aspeknya yang akan mereka pelajari. Salah satunya, mereka mengenali tanda bahaya,” ungkap Anis.
Lahirnya platform ini juga merupakan bentuk kepeduliannya terhadap anak-anak usia dini. Anis berharap banyak anak-anak paham dengan tanda-tanda bahaya yang ada di sekitar mereka. Hal ini menjadi bentuk tindakan preventif yang ia gencarkan untuk anak-anak.
“Jadi, preventif itu bukan setelah kemudian jadi bahaya, lalu kemudian kasih intervensi. Itu bukan preventif. Tapi, preventif adalah anak-anak sedari dini mereka dikenalkan ada tanda bahaya yang eksternal, yang mungkin akan menjadi ancaman kekerasan bagi mereka,” tegasnya.
Salah satunya, Anis mendukung orangtua untuk mengajarkan konsep dasar perlindungan diri dari ancaman kekerasan. Menurutnya, pendidikan seksualitas di Indonesia masih tergolong tabu. Banyak orang beranggapan pendidikan seksualitas berkaitan dengan hubungan intim.
Padahal, Anis mengatakan, “Pendidikan seksualitas itu tentang bagaimana dia merawat tubuhnya, bagaimana dia mengenal gendernya, bagaimana mereka melindungi dirinya, dengan cara berpakaian yang mungkin menutup bagian privat, bagaimana mereka mengenal bagian privat, yang itu tidak ada, yang itu mungkin tidak familier, untuk keluar ke Indonesia, untuk mengajarkan sejak dini.”
Kesatria Anak hadir dalam bentuk buku cerita, poster, kartu skenario, dongeng, hingga workshop. Namun, perjuangannya tidak mudah. Edukasi perlindungan anak masih belum menjadi prioritas negara sehingga sulit mendapatkan dukungan. Banyak orangtua merasa ini penting, tetapi tidak segera mendesak. Meski demikian, Anis tetap menjalankan misinya. Ia percaya pendidikan perlindungan diri adalah fondasi penting bagi anak untuk menghadapi dunia yang semakin kompleks.