Comscore Tracker

Cerita Kinanti Sekar Lestarikan Seni Tari Tradisional 

#IDNTimesLife Harumkan seni tari Nusantara hingga Belanda

Bagi kamu yang aktif di dunia tari dan tinggal di Kota Yogyakarta, kamu barangkali sudah tidak asing dengan sosok Kinanti Sekar Rahina. Pada tahun 2015, perempuan yang kerap disapa Kinanti itu mendirikan Sanggar Seni Kinanti Sekar (SSKS) setelah mengambil studi tari semasa kuliah.

Dari yang tadinya mengajar seorang diri dengan 17 orang murid, selang lima tahun ini ia telah memiliki 16 tim dengan lebih dari 100 anak didik. Kinanti membagikan pengalamannya pada IDN Times melalui wawancara khusus pada Selasa (22/06/2021). Berikut cerita Kinanti Sekar lestarikan tari tradisional melalui sanggar seni.

1. Motivasi awal mendirikan Sanggar Seni Kinanti Sekar

Cerita Kinanti Sekar Lestarikan Seni Tari Tradisional Tim pengajar dan manajemen Sanggar Seni Kinanti Sekar. (Dok. Istimewa)

Kecintaan Kinanti pada dunia tari sudah terpatri sejak lama. Dari kecil ia punya cita-cita ingin memiliki studio atau ruang latihan yang dapat mewadahinya belajar balet atau menari. 

Setelah mengenyam pendidikan di Sekolah Menengah Kejuruan 1 Kasihan  (SMKI Yogyakarta), Kinanti kemudian melanjutkan studi di Institut Seni Yogyakarta (ISI Yogya) dari tahun 2007-2012.

"Kemudian dalam rentang itu, banyak sekali (yang) saya dapatkan. Ilmu tari, lalu berkolaborasi bersama teman-teman. Itu membuat saya bersemangat menggeluti dunia tari," tambahnya.

Pada tahun 2008, ia mulai mengajar dan bertemu anak didiknya. Kinanti bersama tim mulai menyusun materi tari dan secara intens mengajarkan seni tari di  Yogyakarta.

Butuh waktu panjang baginya untuk meyakinkan diri membawa bendera sendiri. Seiring berjalannya waktu dan dukungan dari banyak orang, ia akhirnya mendirikan SSKS pada tahun 2015. 

"Nah dari situ, akhirnya tahun 2015 sanggar itu muncul. Keberanian saya semakin tebal karena ada orang-orang di belakang saya yang membantu dan mendukung. Baik dari segi tenaga, kurikulum, dan ruang. Itu membantu sekali buat memberi kepercayaan saya untuk sanggar berdiri," ujarnya. 

2. Beda SSKS dengan Kinari Dance dan Kembang Gunung Dance

Cerita Kinanti Sekar Lestarikan Seni Tari Tradisional Pentas Tari Jampi Gugat oleh Sanggar Seni Kinanti Sekar dengan melibatkan 100 penari perempuan di Tugu Yogyakarta. Sabtu (21/09/2013). (Dok. Istimewa)

Selain SSKS, Kinanti memfasilitasi penari sedulur sanggar (penari yang sudah lulus di SSKS tapi ingin belajar seni tari lebih dalam) melalui Kembang Gunung Dance (KGD). Ia mendampingi mereka secara pribadi sesuai dengan kebutuhannya. Selain menari, ada kedalaman tari yang ingin ia bagikan melalui KGD. 

"Jadi menari itu tidak hanya tubuh visual, namun ada satu hal yang disampaikan oleh leader atau guru atau orang yang mendampingi mereka, bahwa menari itu butuh jiwa dan ekspresi. Nah, ingatan itu yang si pendamping beri pada mereka," tambah Kinanti. 

Sementara itu, Kinari Dance sebenarnya sama dengan KGD, namun lahirnya lebih awal. Murid dari KGD berasal dari awal mula Kinanti membuka sanggar saat masih kuliah. Di dalam SSKS sendiri, ada empat genre tari yang dipelajari, yakni tari anak-anak, tari kreasi, tari klasik Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), serta tari gerak dan lagu. 

"Yang pertama adalah keikhlasan untuk saya bisa berbagi sama mereka. Waktu yang saya bagi dengan mereka, saya yakin mereka menerimanya dengan senang," ujarnya saat menerangkan tentang Kinari Dance.

3. Bagaimana mengatasi kendala dalam perjalanan SSKS?

Cerita Kinanti Sekar Lestarikan Seni Tari Tradisional Kinanti Sekar bersama keluarga. (Dok. Istimewa)

Ketika ditanya bagaimana ia menyelesaikan masalah yang muncul dalam perjalanan SSKS, penari yang juga pengajar di Budi Utama School ini berujar untuk menguraikan masalah dan menyadari situasi yang terjadi. Meski sempat menghentikan kelas SSKS pada bulan awal munculnya pandemik, namun ia bangkit kembali dengan dukungan orang-orang terdekat.

"Masalah yang ada itu malah lebih di kalo saya bilang disemelehke (dilihat dahulu apa masalahnya), jadi gak yang harus tergesa-gesa untuk menyelesaikan. Saya percaya dengan tim sanggar yang kuat. Dengan suami saya yang juga dia mendukung saya penuh, itu gak akan jadi terasa berat," terangnya.

Baca Juga: Kisah Asri Wijayanti Berdayakan Penjahit Lokal lewat Jahitin.com

4. Pentas yang paling berkesan

Cerita Kinanti Sekar Lestarikan Seni Tari Tradisional Kinanti Sekar Rahina saat kolaborasi di karya Jemek Supardi dengan judul Napas. (Dok. Istimewa)

Saat ditanya di mana saja pentas yang paling berkesan, perempuan kelahiran Yogyakarta, 26 Juli 1989 ini mengatakan apabila semua pentas berkesan baginya.

"Tiap negara punya cerita masing-masing, yang itu membuat saya pengin balik lagi. Karena saya melihat teman-teman di luar negeri mengapresiasi karya seni Indonesia. Jadi di tiap negara, saya menemui orang-orang yang terkagum dengan budaya kita," ujarnya.

Selama perjalanannya memperkenalkan seni tari, Kinanti pernah membawakan tari tradisi nusantara dari daerah Bali, Jawa, dan Sunda ke Kazakhstan melalui tari tunggal. Selain itu, ia juga pernah mengenalkan teater boneka di Amsterdam, Belanda dengan menyinggahi total 30 kota.

Penari yang juga pernah pentas di Jepang dan Thailand itu mengaku mencintai dunia tari dan ingin terus mengajar. Menurutnya, mengajar anak-anak adalah bagian yang paling berkesan karena meskipun capek, ia dengan riang gembira melakukannya. 

"Saya bertemu banyak orang, itu membuat saya jadi berguna, bahwa saya bisa memperkenalkan kepada mereka seni budaya itu penting bagi mereka. Untuk pendidikan karakter anak zaman sekarang, apa pun yang sudah masuk ke Indonesia, baik itu genre hip hop atau KPop diperbolehkan, karena kita tidak bisa menghentikan perubahan zaman. Dengan kita memperkenalkan seni tari lewat sanggar atau sekolah membuat anak bisa menghargai hidupnya," ungkapnya pada IDN Times.

5. Kegiatan di sanggar selama pandemik

Cerita Kinanti Sekar Lestarikan Seni Tari Tradisional Kinanti Sekar saat mengajarkan musik tradisional. (Dok. Istimewa)

Selama pandemik ini, sanggar tetap buka dengan protokol kesehatan ketat. Pada ulang tahunnya yang keenam, SSKS juga akan mengadakan pentas yang rencananya dilakukan tepat pada 24 Juli 2021. 

Pembelajaran yang tadinya lama sekarang dibatasi hanya 1 jam dengan pembatasan jarak dan pengurangan jumlah peserta didik. Beruntungnya, tempat belajar SSKS berada di tempat terbuka seperti pendopo sehingga memiliki sirkulasi udara bagus dan tidak terlalu terkungkung dalam ruangan.

"Kami memberhentikan kelas sampai Juni 2020. Lalu kami berani buka dengan pembatasan sosial, anaknya sedikit dan lain-lain. Yang biasanya ujian di luar, ini kita mengadakan ujian di dalam tanpa kostum. Aktivitas tetap berjalan tapi ada pengurangan," pungkasnya.

Kinanti mengakhiri perbincangan dengan pesan singkat untuk anak muda atau siapa saja yang tengah menggeluti bidang seni tari.

"30 hari itu waktu yang lama, satu atau dua hari biarkan tubuhmu itu bahagia menikmati kegiatan. Entah itu menari tradisi atau menari kreasi. Dan pilihan pilihan tari itu yang akhirnya membawamu bisa menghargai budaya kamu sendiri," tutupnya. 

Itu tadi kisah menarik mengenai Kinanti Sekar melestarikan budaya seni tari tradisional. Semoga cerita Kinanti tadi menginspirasimu buat terus berkarya, ya!

Baca Juga: Cerita Soraya Cassandra Merawat Alam Melalui Kebun Kumara

Topic:

  • Pinka Wima

Berita Terkini Lainnya