Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
7 Hal Kecil yang Ternyata Bikin Ibu Baru Lebih Capek dari Bergadang
ilustrasi perempuan menggendong anak (pexels.com/Karolina Grabowska)
  • Rasa lelah ibu baru tidak hanya berasal dari kurang tidur, tetapi juga dari kualitas tidur yang sering terganggu dan pikiran yang terus aktif.

  • Rutinitas kecil yang berulang, seperti menyusui dan mengganti popok, dapat menguras energi sepanjang hari.

  • Perubahan hormon, proses pemulihan tubuh, dan tekanan sosial juga membuat ibu baru mudah merasa lelah.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Menjadi ibu baru identik dengan bergadang. Orang-orang akan bilang, “Siap-siap, ya, gak bakal tidur nyenyak lagi.” Lucunya, setelah dijalani, banyak ibu sadar kalau rasa capek yang muncul itu bukan cuma karena kurang tidur.

Justru ada hal-hal kecil, yang kelihatannya sepele, tapi diam-diam menguras lebih banyak energi daripada bergadang semalaman. Hal-hal ini tidak selalu terlihat dan bisa dipahami orang lain, tapi nyata dirasakan setiap hari. Nah, kalau kamu merasa cepat lelah, padahal "hanya di rumah terus”, mungkin ini sebabnya.

1. Tidur yang tidak pernah benar-benar dalam

ilustrasi ibu tidur dengan bayi (pexels.com/RODNAE Productions)

Banyak orang mengira ibu baru hanya kurang jam tidur. Padahal, masalahnya bukan hanya soal durasi, melainkan juga kualitas. Ibu baru sering tidur dalam mode “siaga”. Sedikit suara bayi, langsung bangun. Bayi bergerak sedikit, mata otomatis terbuka. Tubuh memang berbaring, tapi otak tidak pernah benar-benar istirahat. Kondisi ini membuat badan terasa remuk meski jam tidur kalau dihitung-hitung totalnya lumayan.

2. Pikiran yang tidak pernah berhenti

ilustrasi bayi sedang menangis (pexels.com/Sarah Chai)

Ini yang sering tidak tampak dari luar. Saat bayi tidur, kadang ibu justru berpikir:

"Tadi nyusunya cukup, gak, ya?

"Kok pupnya beda warna?"

"Berat badannya naik gak?"

"Nanti malam bakal rewel lagi, gak?"

Mental load ini berat sekali. Otak terus aktif memikirkan kemungkinan terburuk, bahkan saat semuanya baik-baik saja. Capek mental sering kali lebih melelahkan daripada capek fisik.

3. Hal-hal kecil yang berulang tanpa henti

ilustrasi ibu menyusui bayi (pexels.com/Wendy Wei)

Ganti popok, cuci botol, mensterilkan alat pompa ASI, menyusui, sendawakan, lalu ulang lagi. Rutinitas ini tampaknya sederhana, tapi frekuensinya tinggi sekali. Belum lagi, ini dilakukan berkali-kali dalam sehari tanpa jeda panjang. Aktivitas repetitif seperti ini membuat energi terkuras pelan-pelan, seperti baterai yang drop tanpa terasa.

4. Tubuh yang masih dalam fase pemulihan

ilustrasi ibu memberikan ASI eksklusif kepada bayinya (pexels.com/MART PRODUCTION)

Entah melahirkan normal atau operasi, tubuh ibu masih dalam proses penyembuhan. Luka mungkin sudah mengering, tapi hormon belum stabil. Otot-otot belum kembali kuat. Rahim masih berkontraksi. ASI sedang menyesuaikan produksi. Tubuh bekerja keras dari dalam. Itu semua membutuhkan energi yang besar. Jadi, wajar sekali kalau ibu mudah capek meski aktivitas terlihat ringan.

5. Perubahan hormon yang drastis

ilustrasi perempuan menggendong anak (pexels.com/Karolina Grabowska)

Setelah melahirkan, kadar hormon estrogen dan progesteron turun drastis. Ini bisa memengaruhi mood, energi, bahkan kualitas tidur. Ibu bisa menjadi lebih sensitif, mudah menangis, atau cepat lelah tanpa alasan jelas. Ini bukan lebai. Ini biologis.

6. Minimnya waktu untuk diri sendiri

ilustrasi ibu sedang membaca buku sambil menggendong anak (pexels.com/RDNE Stock project)

Hal-hal kecil seperti tidak sempat mandi lama, tidak bisa makan dengan tenang, atau harus menunda ke kamar mandi karena bayi menangis itu ternyata menguras mental. Dulu, hal-hal ini otomatis dan sederhana. Sekarang, semuanya harus “menunggu giliran”. Kehilangan kontrol atas waktu sendiri itu memicu stres kecil yang menumpuk.

7. Tekanan sosial yang diam-diam menekan

ilustrasi bertamu dan mengobrol (pexels.com/Kampus Production)

“ASI-nya lancar kan?”
“Bayi kok masih bangun malam?”
“Kok kamu kelihatan capek banget?”

Komentar-komentar seperti ini mungkin maksudnya perhatian, tapi tetap saja bisa terasa seperti evaluasi. Ibu baru sering merasa harus terlihat baik-baik saja, kuat, dan bahagia terus. Padahal, adaptasi jadi ibu itu proses besar.

Jadi, kalau kamu merasa lebih lelah dari yang dibayangkan, itu valid. Ini bukan karena kamu lemah atau kurang kuat. Menjadi ibu baru merupakan transisi besar, baik secara fisik, mental, maupun emosional. Bergadang mungkin yang paling kelihatan. Namun, hal-hal kecil yang terjadi setiap hari dan berulang tanpa henti sering kali jauh lebih menguras tenaga. Pelan-pelan saja, tubuhmu sedang beradaptasi. Hatimu juga.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team

EditorYudha ‎